Pentagon Siapkan Rp7,12 Triliun untuk Tambang Logam Langka Australia
SYDNEY, DIKSIMERDEKA.COM – Pentagon menyiapkan komitmen pinjaman bersyarat senilai US$400 juta atau sekitar Rp7,12 triliun untuk mendukung pembangunan tambang skandium di Australia. Proyek ini digadang-gadang menjadi salah satu sumber penting pasokan logam tanah jarang bagi negara-negara Barat.Dengan kurs US$1 = Rp17.801, nilai US$400 juta setara sekitar Rp7,12 triliun.
Komitmen tersebut diberikan kepada Sunrise Energy Metals untuk membangun tambang skandium primer di Syerston, Fifield, negara bagian New South Wales. Jika terealisasi, proyek tersebut akan menjadi tambang primer skandium pertama di dunia.
Skandium merupakan logam tanah jarang yang digunakan dalam sejumlah sektor strategis, termasuk industri pertahanan, pesawat terbang, hingga pusat data.
Pentagon Ikut Danai Tambang Australia
Komitmen pendanaan Pentagon diumumkan setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan sejumlah eksekutif perusahaan pertambangan di Washington.
Tambang Syerston di Fifield, sekitar 450 kilometer sebelah barat Sydney, diproyeksikan menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok logam strategis yang tidak bergantung pada China.
Ketua Sunrise Energy Metals Robert Friedland menyebut proyek tersebut akan menjadi salah satu fondasi pasokan skandium bagi negara-negara Barat.
“Kami bertujuan menjadikan Syerston sebagai landasan pasokan skandium Barat,” kata Friedland dalam pernyataan perusahaan.
China Dominasi Pasokan Skandium
Skandium selama ini umumnya diperoleh sebagai produk sampingan dari kegiatan pertambangan mineral lainnya.
China diketahui mendominasi pasokan sekaligus pengolahan skandium dunia. Kondisi tersebut menjadi perhatian Amerika Serikat karena logam tersebut memiliki kegunaan strategis dalam industri pertahanan dan teknologi.
Pemerintah New South Wales menyebut wilayah tersebut memiliki salah satu konsentrasi skandium tertinggi di dunia.
Situasi semakin menjadi perhatian setelah China pada 2025 membatasi ekspor skandium untuk produk pertahanan.
Langkah tersebut mendorong Amerika Serikat mencari sumber pasokan alternatif dan memperkuat kerja sama dengan negara-negara sekutu.
Pernyataan Pentagon menyebut proyek tersebut diharapkan mampu memastikan keterhubungan rantai pasok Barat, mulai dari pertambangan hingga produk jadi.
AS dan Australia Hadapi China
Investasi Pentagon tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari persaingan strategis Amerika Serikat dan China dalam menguasai mineral-mineral kritis.
Pada Oktober 2025, Trump dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menandatangani kesepakatan mineral kritis yang bertujuan memperkuat kerja sama kedua negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap China.
Dalam kesepakatan tersebut, AS dan Australia berkomitmen masing-masing menginvestasikan US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun untuk berbagai proyek mineral kritis.
Tambang skandium Syerston menjadi salah satu proyek yang mendapat perhatian dalam agenda tersebut.
Lockheed Martin Sudah Amankan Pasokan
Sunrise Energy Metals sebelumnya juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan pertahanan dan kedirgantaraan AS Lockheed Martin.
Dalam kesepakatan yang dibuat pada 2025, Lockheed Martin akan membeli 25 persen produksi skandium Sunrise selama lima tahun pertama setelah tambang beroperasi.
Kesepakatan tersebut menunjukkan besarnya kepentingan industri pertahanan terhadap pasokan skandium di luar China.
Skandium dapat digunakan dalam pembuatan paduan logam berkinerja tinggi, yang memiliki aplikasi pada industri kedirgantaraan dan pertahanan.
Pengumuman Baru Segera Keluar
Dilansir dari AFP. Sunrise Energy Metals menyatakan perkembangan terbaru mengenai proyek tersebut akan diumumkan kepada Australian Securities Exchange (ASX) pada 10 Agustus.
Dengan masuknya pendanaan Pentagon, proyek Syerston kini mendapat dukungan strategis sekaligus finansial dari Washington.
Bagi Australia, proyek tersebut membuka peluang untuk memperkuat posisinya sebagai pemasok mineral kritis bagi negara-negara Barat.
Sementara bagi Amerika Serikat, investasi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok mineral strategis yang lebih aman di tengah persaingan dengan China.
Tambang skandium Australia kini bukan sekadar proyek pertambangan. Proyek tersebut telah menjadi bagian dari pertarungan geopolitik untuk menguasai mineral strategis yang dibutuhkan industri pertahanan dan teknologi masa depan.

Tinggalkan Balasan