Kapal Perang AS Mati Mesin 4 Hari di Laut China Selatan, Awak Kepanasan dan Tak Bisa Pakai Toilet
WASHINGTON DIKSIMERDEKA.COM — Kapal perang AS USS Benfold mengalami gangguan serius saat beroperasi di Laut China Selatan. Kapal perusak berpemandu rudal berbobot sekitar 10.000 ton itu kehilangan daya selama empat hari, membuat para awak harus bertahan tanpa pendingin udara, toilet, dan layanan dapur di tengah penugasan militer Amerika Serikat.
Dilansir dari The Guardian, USS Benfold dilaporkan terombang-ambing selama empat hari tanpa tenaga listrik di Laut China Selatan pada Juli lalu. Insiden ini menambah sorotan terhadap beban yang harus ditanggung personel militer AS yang menjalani penugasan panjang di tengah meningkatnya aktivitas operasi Washington.
USS Benfold merupakan kapal perusak kelas Arleigh Burke berbobot sekitar 10.000 ton. Kapal tersebut sebelumnya berlayar bersama kelompok tempur kapal induk USS George Washington.
Menurut laporan USNI News, media independen milik US Naval Institute, USS Benfold kemudian ditarik menuju Subic Bay, Filipina.
Kapal kehilangan tenaga setelah mengalami apa yang disebut Armada Ketujuh AS sebagai “gangguan teknis yang melibatkan generatornya” atau “an engineering casualty involving its generators”.
Akibat kehilangan daya tersebut, para pelaut di dalam kapal tidak dapat menggunakan layanan dapur, toilet, maupun pendingin udara.
Komandan Matthew Comer mengatakan kepada USNI News bahwa kapal lain, USS Robert Smalls, yang merupakan kapal penjelajah dalam kelompok tempur tersebut, harus membantu menyediakan makanan bagi seluruh awak Benfold.
Comer mengatakan Benfold kehilangan tenaga pada 24 Juli dan baru ditarik pada 28 Juli. Sementara itu, tenaga listrik kapal kembali pulih dua hari kemudian.
Meski menghadapi kondisi tersebut, Angkatan Laut AS menyatakan tidak ada awak yang terluka.
“Tidak ada awak yang mengalami cedera. Mereka menunjukkan ketangguhan, kegigihan, profesionalisme, dan ketenangan yang tak tergoyahkan dalam menghadapi situasi tersebut,” kata Comer dalam pernyataannya kepada USNI News dilansir dari The Guardian.
The Guardian telah menghubungi Armada Ketujuh AS untuk meminta komentar lebih lanjut.
Latihan Militer AS-Korea Selatan Ikut Dipangkas
Insiden Benfold terjadi ketika tekanan terhadap personel militer AS juga menjadi sorotan akibat penugasan kapal-kapal perang dalam jangka panjang.
Secara terpisah, Pentagon diperintahkan untuk mengurangi latihan militer gabungan tahunan dengan Korea Selatan. Kebijakan tersebut diambil ketika perang AS melawan Iran disebut semakin membebani kapasitas kapal induk Amerika.
Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan dirinya telah memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk “mengurangi secara signifikan” latihan militer gabungan dengan Korea Selatan.
Pada Senin, Kapal induk USS George Washington dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.
Kapal induk Lincoln sebelumnya menjalani lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan. Navy Times dan Stars and Stripes melaporkan adanya beberapa upaya awak kapal untuk melompat ke laut dalam beberapa hari terakhir.
Trump pada Senin mengatakan kepada wartawan bahwa kapal induk tersebut memang telah berada di laut dalam “jangka waktu yang cukup lama”. Ia juga mengaku berbicara dengan seorang pensiunan laksamana pada akhir pekan yang menceritakan pernah berada di kapal selama “jauh lebih lama”.
Trump mengatakan laksamana tersebut meyakinkannya bahwa Lincoln “dirawat dengan sangat baik dan dipelihara dengan sangat baik”.
Namun, laporan mengenai rendahnya moral awak kapal membuat anggota parlemen dari Partai Demokrat dan keluarga personel militer mendesak pemerintahan Trump memberikan penjelasan mengenai kondisi mental, moral, serta kehidupan para awak kapal.
Demokrat Kritik Keras Strategi Perang Trump
Senator Ruben Gallego, politikus Demokrat dari Arizona sekaligus mantan anggota Korps Marinir AS, mengatakan kepada ABC News pada Minggu bahwa persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perang Iran yang dimulai pemerintahan Trump pada Februari tetapi hingga kini belum terselesaikan.
USS Abraham Lincoln sebelumnya ditugaskan di kawasan Indo-Pasifik sebelum diperintahkan berlayar menuju Timur Tengah pada Januari.
Gallego menilai persoalan utamanya justru terletak pada perencanaan perang pemerintahan Trump.
“Masalah yang sangat, sangat, sangat besar di sini adalah pemerintahan ini tidak merencanakan perang ini, tidak merencanakan bagaimana keluar dari perang ini, dan benar-benar tidak memahami bagaimana perang ini akan berkembang menjadi semakin besar,” kata Gallego.
Hegseth membantah laporan tersebut dan menyebutnya “sepenuhnya disalahartikan”.
“Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, setiap kapten mendapatkan semua yang bisa kami berikan setiap saat,” kata Hegseth kepada Newsmax.
Ia menambahkan bahwa para pelaut yang bertugas dalam “kondisi serba terbatas dengan lebih sedikit kesempatan singgah di pelabuhan” telah melakukan pekerjaan yang “luar biasa”.
Angkatan Laut Bantah Ada Lonjakan Upaya Bunuh Diri
Angkatan Laut AS juga membantah adanya peningkatan kasus keinginan atau upaya bunuh diri di atas kapal.
Dalam keterangannya, Angkatan Laut mengatakan:“Berdasarkan informasi yang tersedia bagi komando, kami belum mengidentifikasi adanya peningkatan laporan keinginan bunuh diri atau upaya bunuh diri di atas kapal.”
Pejabat Angkatan Laut dalam pernyataan yang diperoleh Task & Purpose juga mengakui bahwa penugasan dalam waktu panjang memberikan tekanan besar terhadap personel dan keluarga mereka.
“Kami mengetahui bahwa penugasan yang diperpanjang memberikan tekanan yang signifikan kepada para personel kami dan keluarga mereka, dan kami berterima kasih atas ketangguhan serta pengorbanan yang mereka berikan demi mendukung keamanan bangsa kami.”
Di tengah kontroversi tersebut, Komandan Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper berusaha memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi awak Lincoln.
Dalam artikel opini yang diterbitkan Wall Street Journal pada Minggu, Cooper mengatakan dirinya berada di atas Lincoln di Teluk Arab sehari sebelumnya dan berbicara langsung kepada para pelaut.
Cooper mengatakan kunjungannya dilakukan untuk “melihat bagaimana lebih dari 4.000 personel di kapal itu menjalani tugas mereka dan berterima kasih atas ketangguhan luar biasa mereka dalam menghadapi tekanan terus-menerus”.
Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai “kunjungan yang luar biasa”.
Cooper juga mengakui adanya pemberitaan media mengenai “tempo operasi, moral awak, dan kenyataan yang dihadapi pasukan kami yang sedang bertugas”. Namun, menurut dia, apa yang ditemukannya menunjukkan bahwa “banyak unsur dari cerita-cerita tersebut sebenarnya sudah merupakan berita lama”.
“Awaknya lelah, tetapi mereka terus bekerja dengan seluruh kemampuan,” tulis Cooper. “Sejarah akan mencatat penugasan ini sebagai salah satu operasi paling intens dan paling menentukan dalam era modern.”
Kapal Induk Berbulan-bulan di Laut
Dalam unggahan di X pada Senin, Cooper mengatakan dari 11 kapal induk aktif Angkatan Laut AS, Lincoln justru termasuk kapal dengan jumlah kasus terkait kesehatan mental yang paling rendah.
Namun, ia mengakui kondisi di lapangan tidak sepenuhnya sempurna.
“Ini bukan berarti semuanya sempurna,” tulis Cooper. “Temui salah satu dari hampir 4 juta veteran Angkatan Laut saat ini dan mereka mungkin akan mengatakan kepada Anda bahwa bertugas di laut dalam waktu lama bukan untuk semua orang. Ini sangat menantang dan berat, dan setiap orang di antara kita, termasuk saya, bereaksi terhadap tekanan dengan cara yang berbeda.”
Persoalan tersebut tidak hanya datang dari laporan media atau kritik politik. Keluarga awak kapal juga mulai bersuara.
The Guardian pada Minggu melaporkan keluarga sejumlah personel yang telah berbulan-bulan bertugas di kapal perang AS selama perang Iran merasa marah terhadap sikap pemerintahan Trump yang dianggap mengabaikan kekhawatiran mereka mengenai tekanan dan kondisi kehidupan para awak.
Salah seorang saudara perempuan awak Lincoln mengatakan:
“Ini adalah perasaan dikhianati. Ini adalah komentar yang membuat frustrasi, keliru, dan ceroboh, dan komentar-komentar itu akan membawa banyak konsekuensi bagi saudara laki-laki saya.”
Rangkaian persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Angkatan Laut AS bukan semata soal kemampuan kapal beroperasi di tengah konflik. Ketahanan mesin, lamanya kapal berada di laut, keterbatasan fasilitas dasar, kesehatan mental awak, hingga tekanan keluarga kini ikut menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih besar: seberapa lama armada AS mampu mempertahankan tempo operasi tinggi tanpa membebani personelnya secara berlebihan?

Tinggalkan Balasan