AS Sudah Habiskan Rp400 Triliun untuk Perang Iran, Pentagon: Ini Bukan Perang Gagal
DIKSIMERDEKA.COMWASHINGTON— Perang Amerika Serikat melawan Iran kini memasuki fase yang semakin mahal dan penuh tekanan politik. Di tengah kritik tajam, Pentagon justru menegaskan konflik ini bukan kegagalan melainkan misi besar yang belum selesai.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, membantah bahwa keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik Iran telah berubah menjadi “rawa” yang sulit keluar. Ia menyatakan kritik terhadap operasi tersebut justru lebih berbahaya dibanding ancaman Iran itu sendiri.
Pernyataan itu disampaikan Hegseth saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, Rabu waktu setempat. Dalam sidang panjang tersebut, ia didampingi Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine.
Hegseth juga meminta persetujuan anggaran militer sebesar US$1,5 triliun. Namun, dalam kesempatan yang sama, ia melontarkan kritik keras terhadap sejumlah anggota parlemen yang dinilai melemahkan upaya perang.
“Musuh terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kata-kata sembrono dan pesimistis dari anggota Kongres,” kata Hegseth seperti yang dilansir Media Inggris The Guardian.
Biaya perang terus membengkak. Pejabat keuangan Pentagon, Jules Hurst III, menyebut pengeluaran AS telah mencapai sedikitnya US$25 miliar, terutama untuk amunisi, operasi militer, pemeliharaan, dan penggantian peralatan.
Konflik yang telah berlangsung dua bulan ini sebelumnya diperkirakan Presiden Donald Trump akan selesai dalam empat hingga enam pekan. Namun, situasi di lapangan menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.
Hegseth menyebut perang melawan Iran sebagai “pertarungan eksistensial” demi keamanan rakyat Amerika. Ia bahkan membandingkannya dengan konflik panjang AS di Vietnam, Irak, dan Afghanistan.
Di luar ruang sidang, demonstran meneriakkan tuduhan “penjahat perang” terhadap Hegseth dan para pejabat militer.
Sementara itu, Trump memicu kontroversi dengan mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan yang menampilkan dirinya memegang senjata di tengah ledakan, disertai tulisan “NO MORE MR. NICE GUY”. Ia juga memperingatkan Iran agar segera mengambil keputusan, serta membuka kemungkinan blokade laut berkepanjangan hingga tercapai kesepakatan.
Perdebatan memanas ketika anggota DPR dari Partai Demokrat, John Garamendi, menilai kebijakan tersebut sebagai “ketidakmampuan yang mencengangkan” yang membawa bencana politik dan ekonomi.
“Presiden telah membawa Amerika ke dalam rawa perang baru di Timur Tengah,” kata Garamendi.
Hegseth menanggapi keras kritik tersebut. Ia menuduh Garamendi menyebarkan narasi yang menguntungkan musuh Amerika.
Di sisi lain, anggota Demokrat lainnya, Adam Smith, mempertanyakan pengelolaan anggaran yang melonjak hingga 50–60 persen serta isolasi diplomatik yang dihadapi AS. Ia juga menyinggung serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran, yang menewaskan sedikitnya 168 orang, sebagian besar anak-anak.
“Kita membuat kesalahan, dan itu terjadi dalam perang. Tapi dua bulan berlalu tanpa penjelasan memberi kesan kita tidak peduli,” ujar Smith.
Sidang tersebut memperlihatkan perpecahan tajam antara Partai Demokrat dan Republik. Demokrat menyoroti dampak ekonomi, termasuk kenaikan harga bahan bakar dan gangguan akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Sebaliknya, sebagian besar anggota Partai Republik mendukung kebijakan pemerintah. Anggota DPR Nancy Mace bahkan menyatakan terkesan dengan perkembangan operasi militer.
Meski demikian, situasi secara keseluruhan masih menunjukkan kebuntuan. Gencatan senjata rapuh tengah berlangsung, sementara tiga kapal induk AS tetap berada di Timur Tengah—jumlah yang belum pernah terjadi dalam lebih dari dua dekade.
Pemerintahan Trump juga menolak tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan pencabutan blokade laut.
Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung di Senat pada Kamis waktu setempat, dengan tekanan politik terhadap kebijakan perang diperkirakan terus meningkat.

Tinggalkan Balasan