Wabah Hantavirus Kembali Jadi Sorotan Dunia

DIKSIMERDEKA. JOGJAKARTA-Kasus hantavirus kembali membuat dunia waspada setelah ahli UGM mengungkap tikus menjadi mata rantai utama penularan virus yang bisa memicu gagal napas hingga kematian.

Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Eropa. Virus strain Andes yang ditemukan dalam kasus tersebut menjadi perhatian karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia, meski dalam tingkat terbatas.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan risiko pandemi global dari wabah ini masih rendah karena penularannya membutuhkan kontak erat dan berlangsung lama.

UGM Beberkan Bahaya Hantavirus

Menanggapi perkembangan itu, Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar talkshow daring bertajuk “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia”.

Baca juga :  Pakar Satwa UGM: Indonesia Masih Bergantung pada Antibisa Ular Impor

Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Riris Andono Ahmad MPH, PhD, menjelaskan strain Andes berasal dari kawasan Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal.

“Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia,” ujar Riris.

Tikus Jadi Sumber Utama Penularan

Riris menjelaskan penularan hantavirus terjadi melalui dua jalur, yakni primer dan sekunder. Penularan primer berasal dari kontak manusia dengan tikus melalui urin, kotoran, air liur, maupun gigitan tikus yang terinfeksi.

Sementara pada strain Andes, penularan sekunder dapat terjadi antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh.

Namun ia menegaskan penularannya tidak semudah COVID-19 karena membutuhkan kontak erat dalam waktu lama.

Wabah Kapal Pesiar Telan Tiga Korban Jiwa

Dalam paparannya, Riris menyebut wabah di kapal pesiar tersebut melibatkan delapan kasus infeksi yang terdiri dari enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus suspek.

Baca juga :  Pengamat UGM: Indonesia Masuk Board of Peace Sulit Jadi Mediator Konflik Iran–AS

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dari total 147 penumpang dan awak kapal.

Kasus tersebut melibatkan sejumlah negara seperti Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.

Dokter Sardjito: Hantavirus Bisa Serang Paru dan Ginjal

Dokter spesialis penyakit dalam RSUP Sardjito, dr. Alindina Anjani, Sp.PD, menjelaskan hantavirus merupakan virus RNA zoonosis yang ditularkan terutama melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit.

Menurutnya, kelompok yang rentan terpapar antara lain pekerja gudang, petani, pekerja kehutanan, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah.

Ia menjelaskan ada dua sindrom utama akibat hantavirus, yakni:

  • Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS),
  • dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Baca juga :  WFH ASN Jadi Sorotan! Hemat BBM atau Malah Bikin Produktivitas Turun?

HPS lebih banyak menyerang paru-paru dan sistem pernapasan, sementara HFRS menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Mortalitas Bisa Capai 40 Persen

Alindina menyebut HPS memiliki tingkat kematian cukup tinggi, yakni sekitar 30–40 persen akibat gagal napas dan syok berat.

Sementara HFRS memiliki tingkat keparahan berbeda tergantung jenis virus penyebabnya seperti Seoul virus, Hantaan, hingga Dobrava virus.

Karena gejalanya mirip penyakit tropis lain seperti demam berdarah, leptospirosis, malaria, hingga sepsis, dokter mengingatkan pentingnya kewaspadaan tenaga kesehatan terhadap potensi infeksi hantavirus.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

UGM mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi paparan tikus, serta mengenali gejala awal seperti demam, sesak napas, nyeri tubuh, hingga gangguan ginjal.

Peningkatan kesadaran terhadap penyakit zoonosis dinilai penting agar potensi penyebaran hantavirus dapat dicegah lebih cepat.