Peed Aya PKB 2026, Kontingen Tabanan Curi Perhatian Bawa Pesan KB 4 Anak Krama Bali
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Kontingen Kabupaten Tabanan mencuri perhatian ribuan penonton dalam Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (13/6). Di tengah kemegahan atraksi seni dan budaya yang ditampilkan, Tabanan menghadirkan pesan kuat tentang pelestarian identitas Bali melalui Program Keluarga Berencana (KB) 4 Anak Krama Bali.
Pesan tersebut ditampilkan secara simbolis pada barisan terdepan kontingen saat pasangan Jegeg Bagus Tabanan tampil mengenakan Payas Agung khas Tabanan dan diiringi empat orang anak yang merepresentasikan nama tradisional Bali, yakni Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut.
Kehadiran empat anak tersebut bukan sekadar pelengkap atraksi budaya, melainkan simbol pelestarian generasi Krama Bali sekaligus implementasi kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang mendorong pelestarian sistem penamaan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya Bali.

Program KB 4 Anak Krama Bali merupakan gagasan Gubernur Bali Wayan Koster yang tertuang dalam Instruksi Gubernur Bali Nomor 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali. Program ini bertujuan menjaga keberlanjutan sistem penamaan khas Bali berdasarkan urutan kelahiran agar tetap lestari dari generasi ke generasi.
Melalui atraksi tersebut, Tabanan ingin menyampaikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kesenian dan tradisi, tetapi juga dimulai dari keluarga sebagai fondasi utama keberlangsungan peradaban Bali.
Peed Aya PKB XLVIII Tahun 2026 yang mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” secara resmi dilepas Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia serta Ketua DPRD Provinsi Bali. Hadir pula anggota DPR RI, anggota DPD RI, Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Forkopimda Provinsi Bali, serta para bupati dan wali kota se-Bali.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan Ny. Rai Wahyuni Sanjaya turut mendampingi langsung kontingen yang menampilkan kekayaan budaya Tabanan berbasis kehidupan agraris, adat, tradisi, dan spiritualitas.

Selain mengangkat pesan KB 4 Anak Krama Bali, kontingen Tabanan juga menyuguhkan beragam atraksi budaya yang sarat nilai filosofis. Penampilan diawali dengan Uparengga yang menggambarkan keindahan seni dan spiritualitas masyarakat Bali, dilanjutkan Tari Jayaning Singasana AUM yang mencerminkan semangat pembangunan Kabupaten Tabanan.
Kekayaan budaya Tabanan semakin terasa melalui penampilan kesenian Okokan yang telah lama hidup di tengah masyarakat agraris. Atraksi kemudian dilanjutkan dengan Barong Bangkung, Barong Macan, dan Barong Lembu dalam konsep Tri Murti melalui ritual Mapetuk Agung yang diiringi Tabuh Bebolangan khas Paiketan Seniman Jayaning Singasana.
Sebagai penutup, kontingen Tabanan menampilkan kesenian tematik Kunti Seraya yang mengangkat pesan penyucian diri, kemenangan dharma, dan keharmonisan kehidupan sebagai bagian dari filosofi budaya Bali.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengatakan bahwa Pesta Kesenian Bali merupakan panggung penting untuk menunjukkan kualitas seni budaya sekaligus menyampaikan pesan-pesan strategis kepada masyarakat.
“PKB adalah panggung budaya yang sangat luar biasa. Selain menunjukkan kreativitas para seniman, juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai yang penting bagi masa depan Bali. Kami bangga karena seniman Tabanan mampu menampilkan atraksi yang berkualitas sekaligus membawa pesan pelestarian budaya Bali,” ujarnya.
Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan Ny. Rai Wahyuni Sanjaya juga mengapresiasi semangat para seniman dan generasi muda yang terus menjaga warisan budaya daerah.
“Saya sangat bangga melihat generasi muda Tabanan tetap menjaga taksu budaya Bali. Semoga semangat berkarya dan melestarikan budaya terus tumbuh sehingga warisan leluhur dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Melalui penampilan tersebut, Kabupaten Tabanan tidak hanya menyuguhkan atraksi budaya yang memikat, tetapi juga menegaskan komitmennya mendukung pelestarian identitas Krama Bali melalui semangat KB 4 Anak. Pesan itu menjadi pengingat bahwa nama Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut bukan sekadar penanda urutan kelahiran, melainkan bagian dari jati diri budaya Bali yang harus terus dijaga di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan