DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali memastikan ketersediaan ternak babi dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026. Kondisi tersebut menunjukkan kesiapan sektor peternakan dalam menghadapi peningkatan permintaan masyarakat selama hari raya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari seluruh kabupaten/kota di Bali, ketersediaan ternak babi untuk memenuhi kebutuhan hari raya mencapai 90.733 ekor.

Dari jumlah tersebut, kebutuhan pemotongan diperkirakan sebanyak 17.248 ekor sehingga masih terdapat surplus sekitar 73.485 ekor.

“Dengan stok mencapai 90.733 ekor dan kebutuhan sekitar 17.248 ekor, Bali memiliki surplus yang cukup besar sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pasokan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada, Kamis (11/06/2026).

Menurut Sunada, peningkatan kebutuhan daging babi menjelang Galungan merupakan pola yang terjadi setiap tahun. Selain untuk konsumsi rumah tangga, permintaan juga meningkat karena kebutuhan upacara keagamaan. Namun, kondisi itu telah diantisipasi peternak melalui pengaturan produksi sejak beberapa bulan sebelumnya.

Baca juga :  Wisman ke Bali Tembus Rekor 7,1 Juta di 2025, Menpar Apresiasi Kinerja Gubernur Koster

“Kebutuhan babi saat Galungan memang meningkat cukup signifikan, tetapi produksi lokal Bali masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini menunjukkan sektor peternakan babi tetap menjadi tulang punggung penyediaan pasokan daerah,” ujarnya.

Selain memastikan kecukupan stok, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga memperketat pengawasan kesehatan hewan. Petugas kesehatan hewan di seluruh kabupaten/kota melakukan surveilans, pemeriksaan kesehatan ternak, pengawasan lalu lintas ternak, hingga pemeriksaan ante mortem dan post mortem di lokasi pemotongan.

“Kami memperkuat pengawasan mulai dari tingkat peternakan hingga tempat pemotongan hewan untuk memastikan ternak yang dipasarkan sehat dan daging yang dikonsumsi masyarakat aman,” kata Sunada.

Terkait Virus African Swine Fever (ASF), Sunada menyebut kasus yang sempat muncul beberapa waktu lalu kini telah mereda. Merebaknya kasus tersebut dipicu perubahan cuaca yang menyebabkan kondisi kesehatan ternak menurun sehingga lebih rentan terinfeksi virus.

Baca juga :  Arya Wibawa Terima Delegasi Laamu Atoll Council Maldives

Meski demikian, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan. Mengingat hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin ASF yang disetujui penggunaannya di Indonesia, langkah pengendalian difokuskan pada pencegahan dan pengetatan biosekuriti di kandang-kandang ternak.

“ASF memang masih menjadi perhatian bersama, tetapi penyakit ini tidak menular kepada manusia. Fokus kami adalah mencegah penyebaran penyakit agar tidak mengganggu produktivitas peternakan dan pasokan ternak di Bali,” ujarnya.

Di sisi lain, Sunada juga menanggapi keluhan peternak yang disampaikan melalui Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Provinsi Bali terkait harga babi hidup yang masih berada pada kisaran Rp36.000 hingga Rp38.000 per kilogram.

Menurut dia, harga babi hidup saat ini berada di level Rp38.800 per kilogram berat hidup dan berpotensi meningkat menjelang Galungan. Namun pemerintah tidak dapat menetapkan harga karena komoditas babi tidak termasuk bahan pangan pokok.

Baca juga :  Buah Manis “Leadership” Koster, Pusat Dukung Pembangunan Infrastruktur Prioritas Bali

“Harga ditentukan oleh mekanisme pasar, yaitu keseimbangan antara pasokan dan permintaan,” katanya.

Ia menjelaskan, pada 25 Mei 2026 pihaknya telah memfasilitasi pertemuan antara peternak, pelaku usaha, dan rumah potong yang diinisiasi GUPBI. Dalam pertemuan tersebut disepakati harga pembelian babi hidup di tingkat peternak sebesar Rp40.000 per kilogram.

“Kami memahami kondisi yang dihadapi peternak. Momentum Galungan dan Kuningan diharapkan dapat meningkatkan serapan pasar sehingga memberikan dampak positif terhadap harga di tingkat peternak,” ujar Sunada.

Ia menegaskan pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak dan konsumen melalui penguatan kesehatan hewan, pengendalian penyakit, serta kelancaran distribusi ternak.

“Yang terpenting adalah memastikan masyarakat memperoleh pasokan daging babi yang cukup dan aman, sementara peternak tetap dapat menjalankan usahanya secara berkelanjutan,” katanya.

Reporter: Agus Pebriana