WASHINGTON DIKSIMERDEKA.COM Hubungan mesra “special relationship” antara Amerika Serikat dan Inggris mendadak panas. Presiden AS, Donald Trump, kembali bermanuver tajam. Kali ini, ia memberi sinyal kuat bakal mengevaluasi ulang dukungan historis Paman Sam terhadap kedaulatan Inggris atas Kepulauan Falkland (Malvinas).

Dilansir The Guardian, Sinyal ini dilontarkan langsung oleh Trump di Gedung Putih saat merespons pertanyaan wartawan terkait sikap AS terhadap pulau di Atlantik Selatan yang terus diklaim oleh Argentina tersebut.”Saya selalu meninjau setiap posisi – itu hanya satu dari sekian banyak,” ucap Trump dengan nada khasnya, tak menutupi bahwa status Falkland kini ada di atas meja evaluasi.

Secara resmi, AS memang mengambil posisi netral terkait siapa pemilik sah kedaulatan kepulauan yang diklaim Inggris sejak akhir abad ke-17 itu. Namun pada praktiknya, sejak invasi militer Argentina pada 1982, Washington selalu mengakui dan menyokong administrasi Inggris di wilayah tersebut.

: “Senjata” Perang Anggaran NATO

Usut punya usut, komentar Trump ini bukanlah langkah diplomasi tanpa sebab. Ini adalah gertakan keras agar pemerintahan Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, mau merogoh kocek lebih dalam untuk belanja pertahanan dan sumbangan ke NATO.Manuver ini makin terang benderang setelah pekan lalu seorang pejabat AS anonim membocorkan kepada Telegraph bahwa Washington siap memutar haluan di Falkland jika Inggris gagal memenuhi komitmen anggaran militernya.

Baca juga :  AS–Israel Akui Rencanakan Serangan Berbulan-bulan, Bahrain Konfirmasi Pangkalan Armada Kelima AS Diserang

BBC melaporkan Ancaman ini tak lepas dari manuver Menteri Keuangan Inggris, John Healey, yang dilaporkan bersiap membuang komitmen lama Inggris untuk mengalokasikan 3 persen dari PDB-nya untuk pertahanan pada 2030 mendatang. Angka ini rencananya bakal diutak-atik saat Healey menyampaikan anggaran perdananya pada 28 Oktober nanti.Bukan rahasia lagi, memaksa sekutu untuk tidak “numpang gratis” alias freeloading adalah ambisi besar Trump sejak masa kepresidenannya. Pada KTT di Den Haag tahun lalu, negara-negara sekutu bahkan telah didesak berkomitmen membelanjakan 5 persen PDB untuk pertahanan dan keamanan selambat-lambatnya pada 2035.

Baca juga :  Xi Jinping Jamu Trump di Markas Elite Partai Komunis China, Iran dan Taiwan Jadi Sorotan

Balas Dendam Perang Iran & Mesranya Trump-Milei

Spekulasi membelotnya AS dari Inggris sejatinya sudah tercium sejak berbulan-bulan lalu. Pada April, sebuah email Pentagon yang bocor mengungkap rencana AS meninjau ulang klaim Inggris di Falkland. Alasannya sangat politis: sebagai hukuman karena Inggris tidak mendukung keputusan Trump untuk berperang dengan Iran.

Jika Washington benar-benar berbalik arah, ini akan menjadi pukulan telak bagi mental dan kedaulatan Inggris. Sejarah mencatat, saat Margaret Thatcher mengirim armada lautnya pada 1982, dukungan diplomatik dari Ronald Reagan-lah yang menjadi pilar penting kemenangan Inggris, meskipun saat itu AS juga bersekutu dengan junta militer Argentina. Perang berdarah itu menewaskan 649 tentara Argentina dan 255 personel Inggris.

Di sisi lain, Trump kini tengah menikmati “bulan madu” politik dengan Presiden populis Argentina, Javier Milei. Milei bahkan hadir dalam pelantikan kedua Trump pada Januari tahun lalu.Dukungan Trump untuk Milei tak main-main. Tahun lalu, AS mengucurkan dana talangan raksasa senilai 20 miliar Dolar AS (sekitar Rp 312 triliun) untuk menyelamatkan krisis keuangan Argentina. Syaratnya cuma satu: partai La Libertad Avanza milik Milei harus menang pemilu kongres. Saat Milei benar-benar menang dan menjungkirbalikkan prediksi lembaga survei, Trump memberinya hadiah tambahan berupa izin impor daging sapi Argentina untuk menekan harga sembako di AS.Milei sendiri adalah pendukung vokal klaim Argentina atas Malvinas, meski dalam referendum 2013, sebanyak 1.513 dari 1.517 penduduk Falkland dengan tegas memilih untuk tetap berbendera Inggris.

Baca juga :  Folarin Balogun Lolos dari Skorsing, Trump Diduga Lobi FIFA Jelang AS vs Belgia

Panasnya sengketa ini bahkan sempat merembet ke lapangan hijau. Pada semifinal Piala Dunia Juli lalu, usai Argentina menekuk Inggris 2-1, para pemain Argentina berselebrasi sambil membentangkan spanduk raksasa berbunyi “Las Malvinas son Argentinas” (Falkland adalah milik Argentina). Buntut dari aksi provokatif ini, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) diganjar denda 235.000 Dolar AS oleh FIFA karena melanggar aturan demonstrasi non-olahraga.