Investasi di Bali Tembus Rp23 Triliun pada Semester I 2026, 93 Persen Terkonsentrasi di SERBAGITA
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali mencatat realisasi penanaman modal atau investasi di Pulau Dewata sepanjang semester I 2026 mencapai Rp 23,8 triliun. Angka tersebut setara 49,71 persen dari target pemerintah daerah yang dipatok sebesar Rp47,9 triliun.
Kepala Dinas DPMPTSP I Ketut Sukra Negara mengatakan dari total nilai investasi tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) berkontribusi Rp8,8 triliun, sementara penanaman modal asing (PMA) Rp 14,9 triliun.
Secara sebaran, Sukra Negara mengatakan realisasi investasi masih terkonsentrasi di daerah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (SERBAGITA), yakni menyumbang sebanyak 93 persen atau sekitar Rp22 triliun, dibandingkan daerah lain seperti Jembrana, Buleleng, Bangli, Karangasem, dan Klungkung yang hanya menyumbang sekitar 7 persen atau Rp1,6 triliun.
“93 persen itu diwilayah SERBAGITA, sementara di luar wilayah SERBAGITA itu 7 persen. Jadi masih terkonsentrasi di wilayah SERBAGITA” ungkapnya.
Meski demikian, Sukra mengatakan sejumlah wilayah seperti Klungkung menunjukan pertumbuhan positif. Terkhusus Klungkung, ia mengatakan realisasi investasi semester I 2026 tercatat Rp 669 miliar. Hal tersebut tidak lepas dari perkembangan pariwisata di Gumi Serombotan itu.
“Klungkung itu bagus dia, di wilayah luar SERBAGITA dia (Klungkung) paling tinggi,” katanya.
Lebih lanjut, Sukra mengatakan dari total nilai investasi, sektor tersier, terutama jasa pariwisata masih jadi primadona para penanam modal. Nilai investasi di sektor tersier sekitar 70 persen dari total investasi. Sementara sektor sekunder masih tergolong rendah.
Dalam rangka mengurangi rasio ketimpangan investasi antar daerah, Sukra mengatakan pihaknya telah meminta pemerintah kabupaten/kota menyiapkan sejumlah langkah diantaranya adalah pemetaan potensi investasi unggulan dan melakukan promosi.
“Tapi ini tentu butuh proses,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tidak menariknya daerah di luar SERBAGITA di mata investor tidak bisa dilepaskan dari minimnya dukungan infrastruktur di wilayah tersebut.
“Jadi kalau ingin menanam modal ke Jembrana katakanlah, pasti mereka akan berpikir. Namanya juga pelaku usaha kan pasti mereka tidak mau rugi,” ungkapnya.
Padahal katanya daerah di luar SERBAGITA memiliki sejumlah potensi unggulan. Salah satunya Jembrana yang memiliki potensi pertanian dan perikanan.
Guru Besar Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Prof IB Raka Suardana mengatakan masih terkonsentrasikan realisasi investasi di wilayah SERBAGITA menunjukan bahwa aktivitas ekonomi masih sangat berorientasi pada kawasan yang memiliki pasar besar, infrastruktur memadai, konektivitas tinggi, serta ekosistem pariwisata dan jasa yang telah terbentuk.
Suardana mengatakan konsentrasi investasi pada satu kawasan secara teori ekonomi merupakan fenomena wajar karena investor cenderung memilih lokasi dengan pasar besar, infrastruktur memadai, biaya transaksi rendah, dan kepastian usaha tinggi.
Namun, apabila konsentrasi tersebut mencapai hampir 93% dan berlangsung dalam jangka panjang, hal itu dapat menjadi sinyal adanya ketimpangan pembangunan.
Menurutnya, pemerintah perlu mendorong pemerataan melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, kemudahan perizinan, serta pengembangan keunggulan ekonomi lokal. Ia mengatakan tantangan terutama pemerintah adalah menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bali Utara, Timur, dan Barat.
“Jika konsentrasi investasi terus berlangsung, Bali berisiko menghadapi ketimpangan antar wilayah yang semakin lebar, tekanan terhadap lahan dan lingkungan, kemacetan, kenaikan harga properti, serta meningkatnya biaya hidup,” terangnya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan