BRASILIA DIKSIMERDEKA.COM Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva lagi sumringah. Di tengah persiapan nyapres lagi, dia kegirangan menyambut temuan ladang minyak di dekat muara Sungai Amazon.

Berbicara setelah perusahaan minyak negara Petrobras mengumumkan temuan tersebut, Lula dengan bangga menyebutnya sebagai “paspor menuju masa depan negara”.

Sayangnya, ambisi ini memicu amarah. Keputusannya untuk mengizinkan pengeboran eksplorasi di area yang dikenal sebagai Margin Ekuatorial Brasil itu dihujani kritik tajam oleh para aktivis lingkungan. Mereka ngeri, tumpahan minyak bisa mengkiamatkan ekosistem Amazon yang sudah sangat rapuh.

Menjelang pemilu bulan Oktober nanti di mana ia mengincar masa jabatan empat tahun lagi, Lula seolah berusaha “ngeles”. Dia buru-buru menegaskan bahwa dirinya masih berkomitmen untuk secara bertahap meninggalkan bahan bakar fosil demi mengerem perubahan iklim.

Harta karun hitam itu sendiri ditemukan di laut, sekitar 175 kilometer di lepas pantai Amazon. Namun, seberapa raksasa ladang minyak tersebut masih jadi misteri. Belum ketahuan juga apakah penyedotan minyak yang terkubur di kedalaman 2.886 meter itu bakal menguntungkan secara komersial atau tidak.

Baca juga :  Presiden Jokowi Serukan Langkah Global Tangani Dampak Perubahan Iklim

Para pegiat konservasi sudah mewanti-wanti keras. Area pengeboran itu adalah surga keanekaragaman hayati. Mereka waswas, kecelakaan sekecil apa pun tak hanya akan menghancurkan terumbu karang di sekitarnya, tapi arus laut bisa menyeret tumpahan minyak ke lahan basah pesisir yang penuh dengan satwa liar.

Berlindung di Balik Kedaulatan

Tapi dasar Lula, dia ogah ambil pusing. Selama ini dia selalu menepis kritik pegiat lingkungan dengan menyebutnya sebagai “campur tangan”. Pada hari Senin, dia kembali ngegas dan menegaskan tak sudi menerima intervensi asing.

“Ini adalah soal kedaulatan nasional. Negara mana pun yang memiliki minyak dengan kualitas seperti ini tidak akan membiarkan siapa pun ikut campur,” cetusnya tajam seperti yang dilansir oleh BBC, Selasa (18/8/2026).

Operasi pengeboran laut dalam oleh Petrobras ini sebenarnya sudah dimulai sejak Oktober 2025. Bos Petrobras, Magda Chambriard, berbangga hati. Dia menyebut temuan ini membuktikan bahwa “optimisme” Petrobras untuk menemukan minyak di Margin Ekuatorial Brasil memang terbukti benar.

Baca juga :  BMKG: Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, Sebagian Wilayah Indonesia Mulai Kering April

Dia juga mengklaim perusahaannya berkomitmen untuk “memastikan keamanan energi negara”.

Lalu apa dalih Lula soal isu iklim? Sang presiden berargumen bahwa cuan dari pendapatan minyak ini justru sangat dibutuhkan untuk membiayai transisi Brasil menuju energi non-fosil.

“Saya tidak menyangkal komitmen saya pada perjuangan menuju hari di mana kita tidak lagi membutuhkan bahan bakar fosil, karena Brasil akan terus menjadi raja inovasi biofuel dan akan tetap menjadi pemain utama dalam energi terbarukan,” tekannya pada hari Senin.

Sentil Eropa Jelang COP30

Sebelumnya, para aktivis lingkungan makin geram mengingat Lula memberi lampu hijau pada Petrobras untuk mengebor hanya beberapa minggu sebelum konferensi iklim COP30 yang digelar di Brasil November tahun lalu.

Menanggapi kemarahan itu, Lula malah menunjuk hidung Eropa yang dinilainya terlalu cerewet soal urusan dalam negeri Brasil.

Baca juga :  Suhu Bumi Naik Drastis, BMKG dan Pakar UGM Ingatkan Ancaman Siklon hingga Krisis Pangan!

“Banyak orang tidak ingin saya mengumumkan bahwa Petrobras telah mendapatkan lisensi tersebut karena mereka bilang orang-orang Eropa akan kesal,” ungkapnya blak-blakan.

“Saya mengambil keputusan untuk mengumumkan bahwa orang-orang ingin melakukan pengeboran eksplorasi di sana sebelum COP karena kepentingan negara kita dan perusahaan kita sedang dipertaruhkan,” tambahnya.

Meski menuai badai kritik, prospek minyak ini rupanya sudah bikin silau kota terdekat. Di Oiapoque, Negara Bagian Amapá, otoritas perumahan setempat melaporkan adanya gelombang kedatangan penduduk baru yang tergiur oleh harapan ketersediaan lapangan kerja dan peluang ekonomi.

Kini, dengan sisa waktu kurang dari dua bulan sebelum hari H pencoblosan, Lula harus mati-matian bermanuver. Dia berusaha memikat para pemilih yang haus akan pembangunan ekonomi di pelosok terpencil Brasil, sambil berakrobat agar tak ditinggalkan oleh mereka yang peduli pada nasib lingkungan.