Korea Selatan Membara! Gelombang Panas Tewaskan 16 Orang, Seoul Masuk Status Siaga
SEOUL, DIKSIMERDEKA.COM – Korea Selatan masih bergulat dengan gelombang panas ekstrem yang terus meluas ke berbagai wilayah. Setelah mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, ibu kota Seoul kini bersiaga menghadapi lonjakan temperatur yang diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius pada Selasa (4/8), disusul tiga hari berturut-turut dengan suhu sekitar 37 derajat Celsius.
Dilansir oleh Yonhap News, Gelombang panas yang menyapu Negeri Ginseng itu telah menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan lebih dari 2.000 warga menjalani perawatan akibat penyakit yang berkaitan dengan suhu ekstrem sejak Mei 2026, menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).
Sebelumnya, kota Yangsan di wilayah tenggara Korea Selatan mencatat suhu 42,5 derajat Celsius pada Minggu (2/8). Angka tersebut menjadi rekor suhu tertinggi dalam 122 tahun sejak pencatatan cuaca modern dimulai pada 1904.
Kini, gelombang panas bergerak ke arah barat dan mengancam Seoul yang dihuni lebih dari sembilan juta penduduk.
Menghadapi kondisi tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta seluruh kementerian dan pemerintah daerah meningkatkan langkah antisipasi demi melindungi masyarakat.
“Kita perlu melakukan upaya untuk merombak secara mendasar sistem penanggulangan krisis nasional karena cuaca ekstrem seperti ini mulai menjadi kondisi yang normal,” kata Lee dalam rapat kabinet, Selasa (4/8).
Lonjakan suhu juga membuat konsumsi listrik meningkat tajam karena penggunaan pendingin ruangan. Pemerintah diminta memastikan sistem kelistrikan tetap stabil agar tidak terjadi gangguan pasokan di tengah cuaca ekstrem.
Seoul Kerahkan 200 Truk Penyemprot Jalan
Pemerintah Kota Seoul menggelar rapat darurat pada Senin (3/8) dan meluncurkan berbagai langkah untuk mengurangi dampak panas ekstrem.
Untuk pertama kalinya, Seoul menerapkan peringatan gelombang panas tingkat berat, kategori baru yang diperkenalkan pemerintah tahun ini sebagai respons terhadap meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem.
Sebanyak 200 truk tangki dikerahkan untuk menyemprotkan air ke hampir 2.000 kilometer ruas jalan di berbagai titik kota. Penyemprotan dilakukan hingga enam kali sehari dengan harapan dapat menurunkan suhu permukaan jalan dan mengurangi efek panas perkotaan.
Selain itu, ribuan warga lanjut usia, penyandang disabilitas, dan penderita penyakit kronis menjadi prioritas pemantauan.
Perawat komunitas ditugaskan memeriksa kondisi sekitar 63.000 warga rentan guna memastikan mereka tidak mengalami dehidrasi atau gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Di sejumlah sudut kota, pemerintah juga menyediakan area penyemprot kabut air (mist spray) yang dimanfaatkan warga untuk menurunkan suhu tubuh sebelum melanjutkan aktivitas.
Pekerja Luar Ruangan Paling Menderita
Gelombang panas paling terasa bagi para pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Seorang pekerja konstruksi di Seoul mengaku hanya mendapat waktu istirahat 10 menit setiap jam, namun kondisi di lokasi kerja tetap sangat menyiksa karena minim fasilitas pendingin.
“Kami istirahat 10 menit setiap jam, tetapi di sini bahkan tidak ada kipas angin. Kami hanya bisa duduk di tempat teduh. Keringat membuat pakaian terus bergesekan dengan kulit hingga terasa perih,” ujarnya kepada media lokal.
Keluhan serupa disampaikan Lee, seorang pekerja berusia 55 tahun yang bertugas mengumpulkan troli belanja di area parkir supermarket.
Menurutnya, bekerja di bawah suhu ekstrem terasa seperti berada di dalam sauna karena sirkulasi udara yang sangat minim.
Kondisi ini juga memicu kekhawatiran terhadap keselamatan kurir makanan, petugas kebersihan, dan pekerja lapangan lainnya yang harus tetap bekerja di tengah terik matahari.
Rekor Panas Dipicu Perubahan Iklim
Badan Meteorologi Korea (KMA) menjelaskan gelombang panas dipicu oleh kombinasi sistem tekanan udara tinggi yang menutupi Semenanjung Korea serta paparan sinar matahari langsung akibat langit cerah.
Di wilayah tenggara, suhu semakin meningkat akibat fenomena foehn, yaitu kondisi ketika angin yang melintasi pegunungan berubah menjadi lebih panas dan kering setelah turun ke sisi lainnya.
Pada Senin (3/8), wilayah Goryeong kembali mencatat suhu 41,2 derajat Celsius, sementara sejumlah kota lain juga menembus angka 41 derajat Celsius. Bahkan Distrik Guro di Seoul mencapai suhu sekitar 39 derajat Celsius.
Di sisi lain, Topan Dolphin yang bergerak menuju Pulau Okinawa masih menjadi faktor yang dipantau otoritas cuaca.
Jika topan bergeser ke arah pesisir timur China, kelembapan udara diperkirakan meningkat sehingga memperparah gelombang panas dan suhu malam yang tetap tinggi. Namun jika jalurnya mendekati selatan Semenanjung Korea, angin kencang, awan, dan hujan berpotensi memberikan sedikit kesejukan.
Para ilmuwan kembali mengingatkan bahwa gelombang panas ekstrem kini semakin sering terjadi dan semakin intens akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Fenomena tersebut tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap sistem kelistrikan, layanan kesehatan, hingga produktivitas ekonomi di berbagai negara.

Tinggalkan Balasan