Lulusan SMA/SMK Masih Sumbang Pengangguran Bali, Disnaker Soroti Link and Match
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Provinsi Bali menjadi 1,52 persen pada Mei 2026 belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan. Lulusan SMA dan SMK masih menyumbang angka pengangguran cukup besar.
Hal tersebut menunjukkan kesesuian antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja (link and match) masih menjadi tantangan di Pulau Dewata.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali Ida Bagus Setiawan mengatakan sebanyak 13 persen lulusan SMA/SMK menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran di Bali.
“Artinya pendidikan vokasi seharusnya lebih cepat bekerja, tapi kenyataan ini yang menyumbang agak tinggi yaitu sampai 13 persen,” ungkap Setiawan saat ditemui usai upacara HUT RI ke-81 di Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, Senin (17/8/2026).
Menurut Setiawan, kondisi tersebut terjadi akibat belum terjadi link and match antara dunia pendidikan dan industri atau dunia kerja.
Belum adanya link and match tersebut katanya merupakan tantangan bagi semua pihak, tidak hanya dinas ketenagakerjaan, namun juga dunia usaha dan lembaga pendidikan.
Karena itu, Setiawan mengatakan penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi perlu dilakukan sejak awal agar kompetensi lulusan lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Selain keterampilan teknis (hard skill), kemampuan bahasa dan kesiapan mental juga menjadi aspek penting, terutama untuk menghadapi persaingan tenaga kerja yang semakin terbuka.
“Penguatannya tidak hanya hard skill, tetapi juga mindset. Bahasa sangat penting. Hard skill masih bisa dilatih, tetapi mentalitas dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting,” ujarnya.
Setiawan mengatakan, peluang kerja bagi lulusan Bali saat ini tidak hanya tersedia di dalam negeri.
Pemerintah juga mulai mendorong akses tenaga kerja ke pasar global, salah satunya melalui program SMK Go Global yang dikembangkan pemerintah pusat.
Meski demikian, Setiawan mengatakan, untuk dapat bersaing di pasar kerja global, lulusan harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan negara atau industri tujuan.
Ia mengatakan proses tersebut membutuhkan persiapan sejak pendidikan dan pelatihan vokasi.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan