Anak Sering Begadang Bisa Bikin Tinggi Tak Maksimal, Dokter Ungkap Alasannya
BOGOR DIKSIMERDEKA.COM – Orang tua jangan menganggap kebiasaan anak tidur terlalu malam sebagai perkara sepele. Terlalu sering begadang ternyata bisa mengganggu pertumbuhan tinggi badan anak.
Dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), dr. Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, MARS, membenarkan adanya kaitan antara kurang tidur dan pertumbuhan tinggi badan anak.
“Benar. Kebiasaan tidur terlalu malam dapat memengaruhi tinggi badan anak. Anak yang kurang tidur berisiko memiliki tinggi badan yang lebih pendek. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon pertumbuhan yang paling banyak keluar selama anak tidur,” ujarnya.
Hormon Pertumbuhan Keluar Saat Anak Tidur
Menurut dr Gilang, tubuh anak memiliki mekanisme alami untuk mendukung pertumbuhan. Salah satunya melalui hormon pertumbuhan yang diproduksi kelenjar pituitari di otak.
Hormon tersebut mencapai puncaknya ketika anak memasuki fase deep slow-wave sleep (SWS), bagian dari fase tidur non-rapid eye movement (NREM).
Pada fase tidur tersebut, hormon pertumbuhan dilepaskan ke aliran darah dan menuju jaringan tubuh yang berperan dalam proses perbaikan jaringan, pembentukan otot hingga penguatan tulang.
Karena itu, kualitas dan kecukupan tidur menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan anak.
Masa pubertas memang menjadi periode ketika pertumbuhan tinggi badan mengalami lonjakan. Kondisi tersebut dipengaruhi peningkatan hormon seks dan hormon pertumbuhan.
Namun, dr Gilang mengingatkan bahwa pertumbuhan optimal tidak seharusnya baru dipikirkan ketika anak memasuki masa pubertas. Persiapannya justru perlu dilakukan sejak jauh sebelumnya melalui pola hidup sehat.
Bukan Cuma Susu
Selain tidur, asupan makanan juga punya peran besar. Dr Gilang meluruskan anggapan yang masih cukup sering beredar bahwa minum susu saja sudah cukup untuk membuat anak tumbuh tinggi.
“Jadi konsumsi susu saja tidak cukup. Harus ada kombinasi dari variasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang,” katanya.
Anak membutuhkan beragam zat gizi untuk menunjang pertumbuhan tulang. Di antaranya karbohidrat kompleks, protein hewani, lemak, vitamin D, vitamin K, kalsium, zink, magnesium, dan fosfor.
Suplemen, kata dr Gilang, bukan pengganti makanan bergizi. Fungsinya hanya sebagai penunjang apabila memang dibutuhkan.
Misalnya, pada anak yang mengalami kekurangan vitamin atau memiliki gangguan penyerapan nutrisi. Pemberian suplemen pun disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Gawai Sebaiknya Disimpan Sebelum Tidur
Untuk membantu anak mendapatkan pola tidur yang lebih baik, orang tua disarankan membangun rutinitas yang konsisten.
Mulai dari menjaga pola makan bergizi seimbang, menetapkan jadwal tidur yang teratur hingga mendorong anak aktif bergerak dan berolahraga.
Satu hal yang tak kalah penting adalah penggunaan gawai. Dr Gilang menyarankan penggunaan gawai dihentikan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur.
Langkah tersebut diharapkan membantu anak lebih siap memasuki waktu istirahat sehingga durasi dan kualitas tidurnya tetap terjaga.
Durasi tidur yang dibutuhkan juga berbeda sesuai usia anak.
“Durasi tidur yang dianjurkan bervariasi sesuai usia, mulai dari 9–12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8–10 jam untuk remaja,” tuturnya.
Dengan demikian, persoalan pertumbuhan tinggi badan anak tidak bisa hanya dilihat dari faktor keturunan atau konsumsi susu. Tidur cukup, makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik, serta kebiasaan hidup sehat menjadi bagian penting yang perlu dibangun sejak dini.

Tinggalkan Balasan