DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Sejumlah SMA negeri di Bali mengalami lonjakan pendaftar pada jalur prestasi dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Penumpukan pandaftaran tersebut ditanggarai akibat adanya dikotomi sekolah favorit dan tidak favorit di tengah masyarakat. Pandangan itu membuat siswa berbondong-bondong ingin mendaftar di sekolah yang dianggap unggulan.

Dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SMPB) Tahun 2026 pada jalur prestasi jenjang SMA terjadi penumpukan pendaftar pada sejumlah sekolah diantaranya SMA Negeri 7 Denpasar, SMA Negeri 2 Denpasar, dan SMA 1 Denpasar.

Di SMA Negeri 7 Denpasar terdapat pendaftar sebanyak 621 siswa dengan kuota hanya 172 siswa. Lalu di SMA Negeri 2 Denpasar 362 pendaftar dengan daya tampung 130 siswa. Selanjutnya, SMA 1 Denpasar dengan jumlah kursi 172 dengan pendaftar 244.

Baca juga :  Satpol PP Diminta Lakukan Pendekatan Humanis

Menanggapi itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Bali Dewa Made Indra menilai keberadaan sekolah favorit merupakan hal yang alamiah dalam sistem pendidikan, sepanjang predikat tersebut dibangun atas kapasitas akademik dan kualitas pembelajaran.

Menurutnya, setiap satuan pendidikan memang semestinya berkompetisi meningkatkan mutu agar mampu menjadi pilihan utama masyarakat, sebagaimana terjadi pada perguruan tinggi.

“Sekarang favorit apa ukuranya, kalau favorit berkaitan dengan kapasistas akademik normalnya itu pasti terjadi,” terangnya saat ditemui usai penutupan Bulan Bung Karno, Selasa (30/06/2026).

Baca juga :  Ribuan Pelari Ramaikan Bali Tourism Run 2026, Pemprov Dorong Jadi Event Tahunan

Ia mencontohkan sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi kampus favorit karena kualitas akademik perguruan tersebut.

Menurut Dewa Indra, predikat favorit bukan sesuatu yang keliru selama didasarkan pada kualitas pendidikan. Justru, kondisi tersebut dapat mendorong persaingan sehat antarlembaga pendidikan untuk terus meningkatkan standar pembelajaran.

“Secara alamiah setiap satuan pendidikan harus berkompetisi meningkatkan kualitas. Karena itu pengelola satuan pendidikan, kepala sekolah, sampai wakil kepala sekolah harus terus mendorong peningkatan kapasitas akademik di sekolahnya,” katanya.

Baca juga :  Sekda Made Indra: Digitalisasi Pengadaan Tingkatkan Efisiensi dan Tranparansi

Ia menegaskan, yang patut dipersoalkan adalah apabila predikat favorit tidak dibangun atas kualitas akademik, melainkan faktor lain yang tidak relevan dengan mutu pendidikan.

“Kalau basisnya bukan kapasitas akademik, itu yang harus dipersoalkan. Misalnya favorit karena sering membuat event seperti itu,” ujarnya.

Lebih jauh, terkait SPMB SMA/SMK pada tahun 2026, ia memastikan pelaksanaan berjalan transparan dan akuntabel.

“Sistem ini berusaha membuat seleksi (SPMB) itu transparan dan akuntabel. Transparan itu artinya bisa diketehui oleh siapa pun dan akuntabel bisa dipertanggungjawabkan,” terang.

Reporter: Agus Pebriana