DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA– Ambisi pemerintah menjalankan program biodiesel B50 untuk memperkuat ketahanan energi nasional tak sepenuhnya mulus. Selain soal kesiapan industri dan pasokan bahan baku, isu lingkungan ikut menjadi sorotan.

Salah satu proyek yang disiapkan untuk menopang program tersebut adalah Refinery Development Master Plan (RDMP) milik Pertamina di Kalimantan Timur. Proyek ini ditargetkan memperkuat kapasitas kilang dalam proses pencampuran solar dengan biodiesel, sehingga penggunaan bahan bakar nabati bisa meningkat.

Namun di balik agenda besar itu, muncul peringatan agar ekspansi sawit tidak dilakukan secara serampangan.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Eddy Soeparno mengingatkan bahwa peningkatan produksi sawit harus dilakukan secara hati-hati, terutama jika ditempuh melalui pembukaan lahan baru.

Baca juga :  Guru Besar UGM : RI Terancam Krisis BBM! Tanpa Pasokan Baru Hanya Bertahan 22 Hari

Menurutnya, ekspansi lahan sawit berisiko memicu konflik penggunaan lahan hingga mempercepat deforestasi.

“Jika dilakukan melalui ekspansi lahan, terdapat risiko konflik penggunaan lahan, potensi deforestasi, serta penurunan fungsi kawasan hutan,” ujar Eddy.

Hutan Indonesia Terus Menyusut

Data menunjukkan tekanan terhadap hutan Indonesia masih cukup besar. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 124 juta hektare kawasan hutan.

Namun dari total tersebut, yang benar-benar masih berupa hutan alami diperkirakan hanya sekitar 86 juta hektare.

Angka ini menjadi alarm bagi para pembuat kebijakan agar tidak menjadikan ekspansi sawit sebagai solusi utama dalam mengejar kebutuhan biodiesel.

Baca juga :  Hutan Gundul, Nyamuk Menggila! Pakar Warning: Manusia Jadi Sasaran Empuk Penyakit

Eddy menilai pendekatan yang lebih masuk akal adalah intensifikasi dan peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada, bukan membuka hutan baru.

B50 Jadi Strategi Energi

Program biodiesel B50 sendiri merupakan salah satu strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Melalui kebijakan ini, Indonesia ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik, khususnya minyak sawit (CPO).

Namun implementasinya tidak sederhana.

Sejumlah tantangan masih membayangi, mulai dari ketersediaan bahan baku CPO, rendahnya produktivitas kebun sawit rakyat, kesiapan industri biofuel, hingga aspek lingkungan yang kerap menjadi sorotan global.

Baca juga :  Korban Banjir Sumatera Seret Pemerintah ke PTUN: Negara Sibuk MBG dan Motor Listrik, Kami Terlantar

Kunci di Sawit Rakyat

Dalam konteks ini, peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat dinilai menjadi kunci.

Produktivitas kebun milik petani masih jauh di bawah perusahaan besar. Jika produktivitas dapat ditingkatkan melalui peremajaan, teknologi, dan akses pembiayaan, kebutuhan bahan baku biodiesel dapat dipenuhi tanpa harus membuka lahan baru.

Pendekatan ini juga dinilai lebih aman untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik, ekspor sawit, dan kelestarian lingkungan.

Dengan kata lain, jika Indonesia ingin mendorong biodiesel hingga B50, pekerjaan rumahnya bukan sekadar menambah kebun sawit, tetapi meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada.