DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Banjir di Kalimantan Tengah terus meluas, bahkan dalam kurun waktu beberapa hari terakhir cenderung kian memburuk. Itu terlihat dari 31 desa atau kelurahan di 11 kabupaten yang yang ada di Kalimantan Tengah masih terendam banjir setinggi 30-150 cm.

Melihat situasi yang terjadi di Kalimantan Tengah, PP KMHDI mendesak pemerintah untuk lebih serius lagi dalam menanggapi bencana banjir yang melanda kalimantan tengah saat ini dan memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan mendesak korban bencana banjir di Kalimantan Tengah.

PP KMHDI juga mengajak kader KMHDI dan seluruh elemen masyarakat untuk saling bahu membahu dan bergotong royong meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir di Kalimantan Tengah.

“Melihat kondisi banjir di beberapa daerah di Kalimantan Tengah yang kian memburuk, kami dari PP KMHDI juga meminta pemerintah untuk meningkatkan perhatiannya terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat yang sifatnya mendesak dan menjadi kebutuhan dasar korban bencana banjir di kalimantan tengah,” ungkap I Putu Yoga Saputra selaku ketua presidium PP KMHDI, di Jakarta, Senin 7 Agustus 2021.

Baca juga :  Konflik di Tubuh PHDI, PP KMHDI: Contoh Tidak Baik untuk Umat

“PP KMHDI juga mengajak kader KMHDI dan seluruh elemen masyarakat untuk membangun kepedulian secara kolektif terhadap bencana banjir yang menerjang beberapa kabupaten di Kalimantan tengah,” ujarnya.

Yoga menambahkan bahwa dalam situasi sulit seperti ini, ditengah pandemi yang tak kunjung usai ditambah dengan bencana banjir yang melanda saudara-saudara kita di Kalimantan Tengah tentu akan semakin memperburuk kondisi dan keadaan mereka disana.

Baca juga :  Bertemu PP KMHDI, Ini Pesan AAGN Ari Dwipayana Untuk Kader KMHDI

“Pandemi tak kunjung usai, ditambah bencana banjir yang melanda masyarakat Kalimantan Tengah, ini akan semakin memperburuk kondisi. Belum lagi kita berbicara dampak dari pandemi Covid-19 kali ini yang tentunya meluluhlantakan perekonomian masyarakat, kemudian diperparah dengan banjir yang melanda dan tentunya ini membuat kondisi semakin memburuk,” kata Yoga Saputra.

Ini juga menjadi catatan khusus bagi pemerintah atas fenomena yang terjadi, banjir yang melanda Kalimantan tengah bukan terjadi satu atau dua kali, ini hampir terjadi di setiap tahun belakangan ini. 

Tentu ini tidak lepas dari krisis iklim yang terjadi, dimana kita tidak bisa menutup mata terhadap deforestasi atau penggundulan hutan yang terjadi di Kalimantan selama 10 tahun belakangan ini yang menimbulkan terjadinya kerusakan ekologis  pada beberapa wilayah di Kalimantan.

Baca juga :  HUT ke-29, PP KMHDI Gelar Donor Darah Bersama UKM Hindu se-Jabodetabek

“Kita semua tidak bisa lepas dari fakta yang ada bahwa deforestasi atau penggundulan hutan semakin marak terjadi dalam 10 tahun belakangan ini, yang menjadi cikal bakal terhadap kerusakan ekologis yang membuat daya tampung air semakin berkurang.”

“Deforestasi atau penggundulan hutan juga menjadi penyebab terjadinya krisis iklim yang berpengaruh besar terhadap curah hujan ekstrim di musim penghujan saat ini. Dengan curah hujan yang tinggi, ditambah daya tampung air yang semakin sedikit, menyebabkan potensi banjir akan semakin tinggi seperti yang telah kita ketahui bersama banjir yang telah melanda Kalimantan Tengah saat ini,” tandas Yoga Saputra. (*/sin)