DIKSIMERDEKA.COM,MANILA Peta politik Filipina memanas lebih cepat dari jadwal. Wakil Presiden Sara Duterte resmi mengumumkan akan maju dalam pemilihan presiden 2028. Putri mantan presiden Rodrigo Duterte itu menyatakan siap mengorbankan segalanya demi negaranya.

Dalam pidato Rabu waktu setempat, Sara, 47 tahun, menegaskan tekadnya: “Saya akan mempersembahkan hidup, kekuatan, dan masa depan saya untuk melayani Filipina.” katanya seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (19/2/2026).

Namun deklarasi itu bukan sekadar pengumuman pencalonan. Ia sekaligus melancarkan serangan tajam kepada Presiden Ferdinand Marcos Jr, yang ia tuding memimpin negara di tengah korupsi merajalela.


Dari Sekutu Jadi Musuh Politik

Hubungan Sara dan Marcos dulunya mesra. Keduanya maju satu paket dalam Pilpres 2022 dan menang telak. Tetapi dua tahun kemudian, Sara mundur dari kabinet setelah konflik politik mereka memanas.

Hubungan keduanya benar-benar retak tahun lalu saat Rodrigo Duterte ditangkap di Manila lalu diterbangkan ke Den Haag untuk menghadapi tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Baca juga :  Baru 4 Bulan Berkuasa,Presiden Peru Dimakzulkan , Tumbang Akibat Skandal Pengusaha China

Sara langsung membela ayahnya. Ia menyebut penangkapan itu sebagai:“penindasan dan penganiayaan.”


Kasus Berdarah “Perang Narkoba”

Rodrigo Duterte akan menghadapi sidang praperadilan pekan depan. Kasusnya terkait operasi pemberantasan narkoba saat ia berkuasa, yang menewaskan ribuan orang ditembak di jalanan mayoritas pria miskin di kawasan urban.

Setelah ditangkap, Rodrigo menyatakan siap bertanggung jawab. Dalam sidang senat 2024, ia berkata:“Saya tidak minta maaf dan tidak memberi alasan. Saya melakukan apa yang harus saya lakukan, dan percaya atau tidak, saya melakukannya untuk negara saya.”


Sara Minta Maaf Pernah Dukung Marcos

Dalam konferensi pers, Sara juga menyampaikan permintaan maaf karena dulu ikut memenangkan Marcos.

Ia berkata:

“Saya minta maaf jika terjadi penyalahgunaan terang-terangan lembaga negara demi kepentingan politik. Saya minta maaf harga kebutuhan pokok terus naik sementara pendapatan keluarga tak cukup. Saya minta maaf kita belum punya ketahanan pangan sejati. Saya minta maaf ada rakyat sakit dan meninggal karena sistem kesehatan yang tidak memadai.” katanya.

Baca juga :  Duterte Tolak Hadiri Sidang ICC: Eks Presiden Filipina Terancam Diadili atas Kasus 30 Ribu Korban Perang Narkoba

Kandidat Kuat Tapi Penuh Kontroversi

Survei menunjukkan Sara berpeluang besar menang di masa depan. Popularitas ayahnya tetap tinggi selama masa jabatan meski dunia internasional mengecam kebijakan “perang narkoba”.

Namun Sara sendiri bukan tanpa masalah hukum. Sejumlah gugatan pemakzulan pernah diajukan, termasuk terbaru oleh kelompok biarawati, pastor, dan pengacara. Mereka menuduhnya menyalahgunakan dana saat menjabat wakil presiden dan menteri pendidikan. Ia juga pernah dituding mengancam akan membunuh Presiden Marcos, tuduhan yang pernahia bantah.

Kasus pemakzulan terhadapnya sempat lolos tahun lalu, tetapi Mahkamah Agung Filipina membatalkannya karena masalah prosedur.


Gaya Retorika Keras Warisan Ayah

Sara dikenal memiliki gaya bicara ekstrem seperti ayahnya. Ia pernah mengancam akan menggali jenazah ayah Marcos , diktator Ferdinand Marcos Sr lalu melemparkannya ke laut.

Menjelaskan alasan maju pilpres, ia berkata:

Baca juga :  Duterte Tolak Hadiri Sidang ICC: Eks Presiden Filipina Terancam Diadili atas Kasus 30 Ribu Korban Perang Narkoba

“Butuh 47 tahun bagi saya memahami hidup saya bukan hanya milik saya. Tidak seperti orang lain, saya mungkin tidak dilahirkan hanya untuk mengejar kebahagiaan. Hari ini saya menerima dengan tenang bahwa hidup saya berbeda.”


Marcos Terdesak Skandal

Presiden Marcos Jr tak bisa maju lagi karena konstitusi membatasi masa jabatan satu periode enam tahun. Posisi politiknya juga melemah akibat skandal dugaan korupsi miliaran dolar dalam proyek bantuan banjir fiktif.

Ia berjanji akan menindak tegas korupsi dan menegaskan siapa pun yang terbukti menyalahgunakan dana akan dipenjara.


Penjelasan Berita & Dampaknya

Deklarasi Sara Duterte bukan sekadar manuver elektoral. Ini sinyal dimulainya perang dinasti politik besar di Filipina: kubu Duterte vs kubu Marcos.



Sara Duterte menabuh genderang perang lebih awal. Ia bukan cuma maju pilpres — ia menantang kekuasaan, membela ayahnya, dan membuka babak baru duel politik keluarga paling berpengaruh di Filipina