DIKSIMERDEKA.COM,LIMA-Kursi kekuasaan di Peru kembali berguncang. Presiden interim José Jerí dilengserkan parlemen lewat “impeachment kilat” setelah terseret skandal pertemuan rahasia dengan pengusaha China. Baru empat bulan menjabat, karier politiknya langsung ambruk.


Parlemen Voting Telak Jatuhkan Jerí

Parlemen Peru memutuskan mencopot Jerí dengan suara telak 75 banding 24. Voting ini menjadi salah satu pemakzulan tercepat dalam sejarah politik negara Amerika Selatan itu.

Skandal yang menjatuhkannya dijuluki “Chifagate” istilah yang merujuk pada jaringan relasi bisnis China di Peru. Rekaman kamera keamanan memperlihatkan Jerí menghadiri pertemuan rahasia di luar agenda resmi. Dalam salah satu momen, ia bahkan terlihat mencoba menyamarkan identitas dengan hoodie.


Presiden ke-8 dalam 10 Tahun

Usia Jerí baru 39 tahun. Namun ia sudah menjadi presiden kedelapan Peru sejak 2016, menandakan betapa kronisnya krisis politik negara itu.

Pelaksana tugas Ketua Kongres, Fernando Rospigliosi, mengatakan parlemen akan memilih pengganti Jerí dalam pemungutan suara Rabu, hanya beberapa bulan sebelum pemilu presiden April.

Baca juga :  Sara Duterte Siap Rebut Pilpres Filipina 2028, Serang Marcos & Bela Ayahnya yang Diadili ICC

Popularitas Anjlok

Awalnya Jerí cukup populer. Tetapi setelah skandal mencuat, dukungannya langsung runtuh. Partai-partai yang dulu mengusungnya mulai menarik dukungan.

Langkah itu jelas bermotif politik. Mereka ingin menjaga citra menjelang kampanye pemilu yang sudah dimulai.


Tuduhan Berat: Lobi Gelap & Jaringan Ilegal

Jaksa membuka penyelidikan awal terkait dugaan perdagangan pengaruh dalam pertemuan Jerí dengan pengusaha China bernama Yang Zhihua alias “Johnny”.

Dalam salah satu pertemuan itu hadir juga Ji Wu Xiaodong, warga China yang dituduh bagian dari jaringan penyelundupan kayu ilegal Los Hostiles de la Amazonia dan sebelumnya menjalani tahanan rumah dua tahun.

Jerí juga disorot karena diduga merekrut perempuan muda tak memenuhi syarat ke jabatan pemerintah setelah pertemuan larut malam di istana presiden. Beberapa di antaranya bahkan ikut perjalanan dinas menggunakan pesawat kepresidenan.

Jerí membantah semua tuduhan. Ia menegaskan,“Penunjukan itu legal.” katanya dulansir dari The Guardian.

Baca juga :  Sara Duterte Siap Rebut Pilpres Filipina 2028, Serang Marcos & Bela Ayahnya yang Diadili ICC

AS vs China Ikut Panas

Krisis politik Peru ternyata bersinggungan dengan rivalitas global. Duta Besar baru AS untuk Peru, Bernardo Navarro, menyindir investasi China dengan keras di platform X.

Ia menulis: “Tak ada harga lebih mahal daripada kehilangan kedaulatan,”
sambil mengkritik “uang murah China”.

Sindiran itu diduga mengarah pada Pelabuhan Chancay, pelabuhan otomatis raksasa yang lokasinya 80 km dari Lima yang mayoritas dimiliki perusahaan China Cosco Shipping Ports.

Pejabat AS sebelumnya menilai pelabuhan laut dalam itu berpotensi dipakai aktivitas militer. Pemerintah Peru membantah keras.

China pun tak tinggal diam. Kementerian Luar Negeri mereka mengecam “tuduhan palsu dan disinformasi AS terhadap kerja sama China–Peru.” katanya.

Sebagai sinyal politik, Kementerian Luar Negeri Peru malah memposting foto menteri mereka berjabat tangan dengan duta besar China sambil memuji investasi dan perdagangan bilateral.

Baca juga :  Sara Duterte Siap Rebut Pilpres Filipina 2028, Serang Marcos & Bela Ayahnya yang Diadili ICC

Analisis Dampak Global

Kejatuhan Jerí bukan sekadar drama politik lokal. Ada efek internasional Pergantian presiden cepat memperkuat citra Peru sebagai negara tak stabil. Investor global biasanya langsung menahan modal saat risiko politik naik.

2. Medan baru rivalitas AS–China
Peru kini jadi arena pengaruh dua raksasa dunia. Infrastruktur strategis seperti pelabuhan bisa berubah menjadi simbol perebutan dominasi geopolitik.

3. Sinyal keras bagi pemimpin dunia
Kasus ini menunjukkan parlemen bisa bertindak cepat menjatuhkan presiden jika skandal menyentuh isu kedaulatan dan pengaruh asing.

4. Risiko efek domino regional
Jika krisis politik berlanjut, negara tetangga di Amerika Selatan bisa terkena dampak ekonomi dan keamanan, terutama dalam perdagangan dan migrasi.



Jerí bukan sekadar jatuh — ia dijatuhkan badai politik, skandal, dan pertarungan kekuatan global. Peru kini seperti panggung tinju: politisi lokal bertarung, sementara AS dan China saling lempar pukulan dari pinggir ring.