DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatatkan inflasi pada Maret 2025 sebesar 1,61 persen secara month to month (mtm). Sementara itu, secara year on year (yoy) yang membandingkan antara bulan Maret 2024 dengan Maret 2025, inflasi tercatat 1,89 persen.

Penyumbang inflasi terbesar tercatat berasal dari kelompok perumahan dengan andil 1,18 persen, terutama setelah diskon tarif listrik berakhir dan tarif listrik kembali normal. Sehingga memunculkan kesan adanya kenaikan harga.

Baca juga :  Ekonomi Bali Tumbuh 5,82 Persen pada 2025, Tertinggi dalam Tujuh Tahun Terakhir

“Ketika diskon selesai, tarif kembali normal, dan itu tercatat sebagai kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” jelas Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana.

Di samping kelompok perumahan, penyumbang inflasi juga tecatat dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,39 persen. Gede Hendrayana Hermawan, menyampaikan, momentum hari raya turut memberi pengaruh pada laju inflasi.

Baca juga :  Hadiri FGD IDI, Sekda Apresiasi Peningkatan Index Demokrasi Bali

Peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan berdampak pada ketersediaan barang, khususnya komoditas pangan.

“Kalau bicara kenaikan harga, pasti ada dampaknya dari hari raya. Permintaan meningkat, sehingga mempengaruhi ketersediaan barang. Ini berujung pada pergerakan harga,” ujarnya.

Meski demikian, inflasi sebesar 1,61 persen pada Maret 2025 ini masih dianggap dalam kondisi yang relatif terkendali.

Baca juga :  Terima Kepala BPS Bali, Koster Ungkap Rencana Pemerintah Lakukan Sensus Kebudayaan Bali

“Kalau melihat situasi yang memang dipengaruhi oleh momen hari raya, inflasi ini masih bisa dikatakan terjaga,” katanya.

Namun, jika dibandingkan dengan angka inflasi nasional, sambung Agus, Bali tercatat mengalami pergerakan harga yang sedikit lebih tinggi.

Editor: Agus Pebriana