DIKSIMERDEKA.COM BOGOR– Eropa benar-benar sedang “dipanggang”. Gelombang panas ekstrem menyapu sejumlah negara dengan suhu yang memecahkan rekor, memicu kebakaran hutan, gangguan kesehatan, hingga aktivitas masyarakat yang lumpuh di berbagai kota. Namun, benarkah semua itu semata-mata akibat perubahan iklim?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan SSi MSi, mengatakan fenomena tersebut jauh lebih kompleks. Menurutnya, gelombang panas di Eropa merupakan hasil perpaduan berbagai proses atmosfer yang saling berkaitan.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan berskala luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, tempat Eropa berada,” jelas Sonni.

Ia menerangkan, gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, arah angin, hingga distribusi suhu di wilayah lintang menengah.

Gelombang tersebut memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk ketika angin baratan melewati pegunungan besar seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara maupun Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Baca juga :  El Nino 2026 Mengancam! IPB Ungkap Cara Murah Cegah Ledakan Hama Padi Sejak Dini

Saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari membuat daratan menerima pemanasan maksimum. Berbeda dengan lautan yang mampu menyimpan panas lebih lama, daratan justru lebih cepat memanas sehingga suhu udara meningkat drastis.

“Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” ujarnya.

Menurut Sonni, kondisi semakin memburuk karena pada musim panas gelombang Rossby bergerak lebih lambat. Akibatnya, massa udara panas menetap lebih lama di wilayah yang sama.

Fenomena tersebut diperparah oleh Omega Block, yaitu pola tekanan udara tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem bisa bertahan selama beberapa hari, bahkan lebih lama.

“Pada musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah. Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama,” katanya.

Meski begitu, Sonni mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa meningkatnya frekuensi gelombang panas otomatis menjadi bukti langsung perubahan iklim.

Baca juga :  Dekan Fema IPB: 80 Persen Warga Melek Internet, Tapi Konsumen E-Commerce Masih Jadi Korban!

Menurutnya, dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam setiap analisis ilmiah.

“Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem,” tegasnya.

Indonesia Ikut Terdampak?

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Sonni menjelaskan, meski gelombang panas terjadi di Eropa, fenomena tersebut tetap memiliki hubungan dengan sistem iklim global melalui mekanisme telekoneksi, yakni keterkaitan antarkawasan yang dipengaruhi sirkulasi atmosfer berskala besar.

“Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis,” jelasnya.

Ia menambahkan, Indonesia memang berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dibandingkan gelombang panas di Eropa.

Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan serta efek urban heat island, yaitu meningkatnya suhu di kawasan perkotaan akibat dominasi beton, aspal, dan minimnya ruang terbuka hijau.

Baca juga :  Guru Besar IPB Temukan Cara Ubah Panas Sisa Industri Jadi Listrik

“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah bersama masyarakat memperkuat langkah adaptasi melalui penghijauan, reboisasi, penanaman pohon, hingga pengendalian alih fungsi lahan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan kenaikan suhu permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” pungkasnya.

Sonni juga mengingatkan bahwa peningkatan suhu ekstrem harus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem mitigasi bencana iklim. Selain memperbanyak ruang terbuka hijau, pembangunan perkotaan perlu memperhatikan keseimbangan lingkungan agar efek urban heat island tidak semakin parah. Dengan langkah antisipatif sejak dini, risiko kesehatan, penurunan produktivitas, hingga kerugian ekonomi akibat suhu panas dapat ditekan secara signifikan.