DIKSIMERDEKA.COM BOGOR — Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Edy Hartulistiyoso, memperkenalkan konsep combined heat, power and product (CHPP) sebagai solusi efisiensi energi industri di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan pengurangan emisi karbon.

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar di Kampus Dramaga, Sabtu, 23 Mei 2026, Prof Edy menjelaskan panas sisa dari proses industri selama ini banyak terbuang percuma. Padahal, panas tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik maupun produk bernilai tambah seperti biochar dan bio-oil.

“Panas yang selama ini terbuang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik maupun produk lain yang bernilai tambah,” kata Prof Edy.

Baca juga :  “Panci Presto Jadi Alat Sterilisasi Pangan, Inovasi IPB Ini Masuk 117 Inovasi Indonesia

Menurut dia, kebutuhan energi termal di Indonesia hingga kini masih didominasi batu bara dan gas alam, meski Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Ia menilai pembahasan energi tidak hanya berkaitan dengan listrik, tetapi juga sistem termal yang digunakan dalam proses pengolahan hasil pertanian dan perikanan, seperti pemanasan, pengeringan, hingga pendinginan.

Prof Edy menyebut kebijakan energi nasional menargetkan pemanfaatan energi terbarukan sebesar 51 persen dan efisiensi energi sebesar 37 persen. Namun, pemanfaatan energi surya di Indonesia dinilai masih rendah walaupun potensinya sangat melimpah.

Selain konsep CHPP, ia juga menjelaskan teknologi organic rankine cycle (ORC), yakni sistem yang mampu mengolah sumber panas bersuhu rendah menjadi energi yang dapat dimanfaatkan kembali.

Baca juga :  Hutan Gundul, Nyamuk Menggila! Pakar Warning: Manusia Jadi Sasaran Empuk Penyakit

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar dari sumber daya agromaritim seperti biomassa, energi surya, panas bumi, angin, hingga energi laut yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi berkelanjutan.

Biomassa sendiri dapat diolah melalui berbagai metode, mulai dari pembakaran langsung, produksi biogas, bioetanol, hingga proses pirolisis yang menghasilkan biochar dan bio-oil bernilai ekonomi.

Prof Edy juga memaparkan berbagai inovasi energi termal yang telah dikembangkan IPB University sejak dekade 1980-an. Salah satunya teknologi pengering surya tipe efek rumah kaca (ERK) untuk membantu pengeringan hasil pertanian tanpa bergantung pada bahan bakar fosil.

Baca juga :  Indonesia Produsen Nanas Terbesar di Dunia, Produksi Tembus 3,2 Juta Ton per Tahun

Selain itu, energi surya kini dimanfaatkan untuk sistem pendinginan hasil perikanan melalui listrik berbasis photovoltaic (PV) yang menggerakkan sistem pendingin kompresi uap. Teknologi tersebut dinilai membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan lebih lama.

Ia menegaskan isu energi dan perubahan iklim kini menjadi perhatian global karena pembakaran bahan bakar fosil masih menjadi penyumbang utama emisi karbon dioksida (CO₂) yang memicu efek rumah kaca dan peningkatan suhu bumi.

Melalui pengembangan teknologi seperti CHPP, Prof Edy berharap pemanfaatan energi dapat dilakukan lebih efisien, tidak hanya untuk menekan emisi karbon, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari energi yang selama ini terbuang.