TEL AVIV- DIKSIMERDEKA.COM Ambisi rezim Zionis Israel bikin merinding. Secara terang-terangan, mereka kini tengah mengemis dukungan Amerika Serikat untuk melegalkan rencana gila: mengusir seluruh warga Palestina dari Jalur Gaza. Sebuah langkah brutal yang oleh dunia luas dikutuk sebagai potensi kejahatan perang tingkat tinggi.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, tanpa tedeng aling-aling menyatakan hal tersebut dalam sebuah konferensi yang digelar situs berita Israel Ynet dan surat kabar Yedioth Ahronoth.

“Tidak ada solusi nyata untuk Gaza pada akhirnya tanpa migrasi ini,” tegas Katz, tak menutupi niatnya. Ia bahkan sesumbar bahwa pemerintahan Israel sudah sangat siap melakukan aksi pembersihan tersebut. “Terorganisir dan siap untuk mengeluarkan mereka melalui laut, udara, dengan segala cara yang memungkinkan.”

Ambisi Kejam Jalur Laut dan Udara, Menhan Israel Klaim Trump Masih Buka Peluang

Lalu, di mana posisi AS? Presiden Donald Trump memang sempat cawe-cawe membahas pengambilalihan Jalur Gaza pada awal 2025 yang isinya melibatkan ‘pemindahan’ warga Palestina. Tapi belakangan, AS seolah tarik rem. Dokumen rencana perdamaian 20 poin yang disusun Gedung Putih tahun lalu bahkan tidak memuat poin deportasi—sebuah tindakan yang jelas akan dicap dunia sebagai pembersihan etnis.

Baca juga :  AS Gempur Selat Hormuz, Iran Ngamuk Hujani Pangkalan Yordania dan UEA dengan Rudal

Namun, Katz ngeyel. Pada Rabu(2/9/2026) kemarin, ia sangat yakin bahwa dukungan AS bakal sanggup memutarbalikkan opini regional dan memaksa negara-negara tetangga mau tak mau menampung pengungsi Palestina.

“Setiap negara yang bersedia menerima mereka menginginkan dukungan Amerika,” ucap Katz penuh percaya diri. “Trump belum membatalkan ini saat ini. Dia membekukannya.”

Gedung Putih sendiri mendadak ‘mingkem’. Saat dimintai tanggapan oleh The Guardian soal apakah Trump masih terus meladeni proposal Israel untuk mengosongkan Gaza, mereka tak langsung merespons.

Katz kemudian menyentil Mesir, negara yang paling keras melobi Washington untuk menolak pemindahan paksa ini. Dengan nada sombong, Katz memastikan rencana busuk itu masih terus berjalan. “Itu belum dibatalkan. Itu sedang dibahas sepanjang waktu, termasuk sekarang, dan saya pikir tidak ada solusi lain pada akhirnya yang demi kepentingan semua pihak,” ucapnya.

Baca juga :  Sadis! Menteri Israel Pamer Video Aktivis Global Sumud Flotilla Diikat dan Dilecehkan

Pamer Kekejaman di Penjara hingga Ngotot Tak Mau Tarik Pasukan

Usut punya usut, retorika beringas ini ternyata tak lepas dari panggung politik dalam negeri Israel. Menjelang musim pemilu yang ketat, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sekutu-sekutu sayap kanannya berlomba-lomba cari panggung. Jualan utamanya? Tampil sekejam mungkin terhadap warga Palestina demi meraup suara pemilih kanan.

Beberapa manuver mereka bahkan sudah masuk tahap sadis dan terbuka. Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, dengan bangganya memposting video di platform X dari sebuah penjara wanita. Ia mendeklarasikan diri sebagai dalang di balik kondisi mengerikan di fasilitas tersebut.

Baca juga :  Tuchel Santai Meski Inggris Gagal ke Final: "Saya Nggak Menyesal Sama Sekali"

Ketika ada seorang tahanan yang mengeluh mereka dibiarkan membusuk—tidak mendapat perawatan medis, tidak diizinkan mandi, dan tak diberi pakaian bersih—Ben-Gvir dengan pongah menjawab: “Kondisi baik di penjara sudah berakhir. Inilah situasi saat ini, dan saya bertanggung jawab langsung atas segalanya. Saya senang dengan kondisi ini.”

Netanyahu sendiri tak mau kalah gahar. Di hari yang sama (Rabu), ia melakukan inspeksi ke pos militer Israel yang berdekatan dengan ‘garis kuning’ di Jalur Gaza. Meski banyak pihak mendesak penarikan pasukan secara bertahap demi memuluskan gencatan senjata baru-baru ini, Netanyahu menutup telinga. Ia ngotot tak akan mundur sejengkal pun sampai Hamas dilucuti.

“Kami mengendalikan wilayah ini dan tetap berada di garis ini,” koar Netanyahu dengan angkuh. “Kami melakukan segalanya untuk mencapai tujuan kami – melucuti Hamas dan mendemiliterisasi Gaza. Gaza tidak akan lagi menjadi ancaman bagi Israel.”