Tuchel Tak Menyesal Meski Dikritik Habis-habisan


ATLANTA DIKSIMERDEKA.COM – Gelombang kritik terus menghantam Pelatih InggrisThomas Tuchel setelah Three lions gagal melangkah ke final Piala Dunia 2026. Kekalahan 1-2 dari Argentina tak hanya memicu kekecewaan publik Inggris, tetapi juga mengundang komentar dari berbagai pihak, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, di tengah derasnya sorotan, Tuchel tetap bergeming. Pelatih asal Jerman itu menegaskan tidak menyesali satu pun keputusan taktis yang diambilnya.

Menjelang laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis, Sabtu (19/7/2026) di Miami, Tuchel memilih tidak larut dalam saling menyalahkan. Sebaliknya, ia mengajak timnya fokus memperbaiki kualitas demi mengejar ketertinggalan dari negara-negara elite dunia.

Tuchel: Inggris Belum Selevel Spanyol, Argentina, dan Prancis

Menurut Tuchel, Inggris saat ini masih berada satu tingkat di bawah kekuatan seperti Argentina, Spanyol, dan Prancis.

“Mereka datang ke turnamen dengan ekspektasi menjadi juara. Kami belum berada di level itu. Masih ada jarak yang harus kami kejar,” ujar Tuchel dilansir The Guardian.

Meski demikian, mantan pelatih Chelsea tersebut memastikan proses pembangunan tim tidak akan berhenti.

“Kami akan terus mengejar level terbaik. Kami tidak akan berhenti berkembang dan terus menantang diri sendiri,” tegasnya.

Baca juga :  Viking Belum Mau Pulang! Haaland Siap Hantam Inggris

Tegaskan Tak Mau Terjebak Permainan Saling Menyalahkan

Kekalahan dari Argentina memunculkan banyak kritik terhadap pendekatan bertahan yang dipilih Tuchel setelah Inggris unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon.

Namun demikian, Tuchel menolak ikut dalam permainan mencari kambing hitam.

“Kalau memang harus ada drama atau saling menyalahkan, silakan. Tetapi saya memilih tidak terlibat.”

Selain itu, ia mengaku seluruh keputusan dibuat berdasarkan insting, pengalaman, dan situasi pertandingan yang berlangsung sangat cepat.

“Saya mengambil keputusan untuk membantu tim meraih hasil terbaik. Semua keputusan dibuat di bawah tekanan. Saya tidak menyesali keputusan tersebut.”

Donald Trump Ikut Mengkritik Taktik Inggris

Menariknya, kritik terhadap Tuchel juga datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam konferensi pers bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, Trump mempertanyakan keputusan Tuchel yang dianggap membuat Harry Kane terlalu banyak membantu pertahanan.

“Mereka sudah unggul, lalu pemain terbaik mereka justru ditempatkan untuk bertahan. Bukankah seharusnya tetap menyerang?” kata Trump.

Meski begitu, Tuchel tidak terlalu memedulikan komentar tersebut.

Bahkan, ia sempat menjawab dengan nada santai.

“Apakah Donald Trump sekarang menjadi saksi ahli Anda?”

Tuchel Jelaskan Peran Harry Kane

Pelatih berusia 52 tahun itu menegaskan Harry Kane hanya menjalankan instruksi tim.

Baca juga :  Italia Tolak Gantikan Iran di Piala Dunia 2026, Menteri Olahraga: Tak Pantas!

Menurutnya, ketika sebuah tim memilih bertahan dalam blok rendah (deep block), seluruh pemain, termasuk striker, memiliki tanggung jawab bertahan.

“Kami bertahan sebagai 10 atau 11 pemain. Itu bagian dari kebersamaan dan mentalitas tim.”

Namun, Tuchel mengakui Inggris gagal keluar dari tekanan Argentina sehingga terlalu lama bertahan di area sendiri.

Inggris Masih Terluka Usai Gagal ke Final

Sementara itu, bek senior John Stones mengakui seluruh skuad masih merasakan kekecewaan mendalam.

Menurutnya, para pemain benar-benar yakin mampu menjadi juara dunia.

“Kami masih merasakan sakit. Kami percaya bisa melangkah lebih jauh. Karena itulah kekalahan di semifinal terasa jauh lebih menyakitkan,” ujar Stones.

Meski demikian, Inggris kini harus mengalihkan fokus ke laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis sebagai kesempatan terakhir menutup Piala Dunia 2026 dengan hasil positif.

Tuchel Optimistis Inggris Mampu Bangkit

Meski gagal memenuhi ambisi menembus final, Tuchel menegaskan hasil di Piala Dunia 2026 bukanlah akhir dari perjalanan Timnas Inggris. Menurutnya, turnamen ini justru memberikan banyak pelajaran berharga bagi skuad Three Lions untuk menghadapi tantangan yang lebih besar pada masa mendatang.

Baca juga :  Netanyahu Diam-Diam ke UEA Saat Perang Iran? Abu Dhabi Langsung Membantah

Pelatih berusia 52 tahun itu menilai fondasi permainan Inggris mulai terbentuk selama enam pekan terakhir. Karena itu, ia meminta seluruh pemain tidak larut dalam kekecewaan dan segera mengalihkan fokus ke proses pengembangan tim. Selain itu, Tuchel meyakini pengalaman menghadapi lawan-lawan elite dunia akan menjadi bekal penting untuk meningkatkan mental bertanding para pemain.

Di sisi lain, Tuchel juga mengapresiasi semangat juang anak asuhnya yang mampu bersaing hingga babak semifinal. Meskipun hasil akhir belum sesuai harapan, ia melihat perkembangan positif dalam kekompakan tim, disiplin bertahan, dan mentalitas pemain selama turnamen berlangsung.

Kini, Inggris masih memiliki satu kesempatan untuk menutup Piala Dunia 2026 dengan hasil positif saat menghadapi Prancis pada laga perebutan tempat ketiga. Tuchel berharap kemenangan atas Les Bleus dapat menjadi modal berharga sekaligus mengembalikan kepercayaan diri tim sebelum memasuki agenda internasional berikutnya. Menurutnya, finis di peringkat ketiga memang bukan target utama, tetapi kemenangan tetap penting untuk menunjukkan bahwa Inggris terus berkembang dan siap menjadi penantang serius di turnamen-turnamen besar mendatang.