Update Banjir Bandang Nepal : 165 Korban Jiwa, 1.000 Lebih Turis Lenyap Tanpa Jejak
KATHMANDU DIKSIMERDEKA.COM Banjir Bandang Nepal telah merenggut sedikitnya 165 nyawa. Sementara itu, lebih dari 1.000 orang, yang sebagian besar merupakan turis asing, masih berstatus hilang. Selanjutnya, tim penyelamat terus berpacu dengan waktu untuk mencari para korban di wilayah perbatasan Tibet tersebut. Oleh karena itu, ratusan warga negara asing dari India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada kini masih dalam pencarian intensif.
Dilansir AFP. sejumlah video mengerikan yang beredar pada hari Rabu memperlihatkan dinding air raksasa menghantam kawasan perbatasan. Akibatnya, orang-orang berlarian menyelamatkan diri saat air bah menggulung truk, rumah, jalan, dan proyek pembangkit listrik di Nepal.
Di sisi lain, para pejabat di Tibet juga mengkhawatirkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar setelah tanah longsor menyapu perlintasan perbatasan. Sebagai dampaknya, air dan lumpur menenggelamkan rumah, pohon, dan kendaraan di seluruh area terdampak. Kemudian, helikopter evakuasi terus bermanuver di udara sepanjang hari untuk mengangkut para penyintas.
Ratusan Turis Asing dan Peziarah Lenyap
Selanjutnya, kepolisian dan pejabat pariwisata Nepal melaporkan bahwa hampir 600 warga negara asing masuk dalam daftar 826 orang hilang di wilayah mereka. Secara rinci, tim pencari belum menemukan 177 warga India, 63 warga AS, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 25 warga Kanada. Selain itu, media pemerintah Tiongkok menyebutkan sedikitnya 558 orang lenyap di sisi perbatasan Tibet. Menariknya, dari jumlah tersebut, 260 orang di antaranya merupakan warga negara asing.
Oleh sebab itu, polisi Nepal langsung mengevakuasi 165 jenazah hingga Rabu malam. Sementara itu, media Tiongkok baru melaporkan tiga korban tewas di wilayah Tibet. Terlebih lagi, fakta di lapangan menunjukkan sebagian besar korban rupanya sedang melakukan perjalanan spiritual menuju Kailash Mansarovar. Tempat ini merupakan situs dataran tinggi suci di Tibet yang sangat umat Hindu dan Buddha hormati.
Runtuhan Gletser Pemicu Utama
Pada awalnya, laporan dari pejabat Nepal menduga gempa bumi memicu runtuhnya bagian bawah gletser. Namun, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) segera meralat informasi tersebut. Mereka menegaskan bahwa guncangan awal yang sempat tercatat bermagnitudo 4,4 sebenarnya merupakan gelombang seismik dari runtuhnya batuan dan es gletser. Dengan kata lain, tidak ada gempa bumi sama sekali.
Selanjutnya, otoritas bencana nasional Nepal mengkaji citra satelit Planet Labs. Hasilnya, mereka menemukan bahwa longsoran es dan batu memicu banjir sarat puing di Sungai Lhende. Sungai ini membentang sekitar 20 kilometer sebelah timur laut perlintasan perbatasan Rasuwagadhi. Oleh karena itu, para ahli memperingatkan bahwa topografi ekstrem Himalaya semakin memperparah risiko bencana semacam ini.
Kesaksian Mencekam Para Penyintas
Sementara itu, kengerian bencana ini membekas kuat dalam ingatan para korban selamat. “Saya langsung berlari. Kemudian, dinding air datang bergemuruh seolah-olah terjadi gempa bumi,” ujar Bibek Kumal. Pria ini merupakan seorang pekerja di hilir distrik Rasuwa yang paling parah terdampak. Dari ranjang rumah sakit, Kumal bercerita bahwa arus deras sempat menyeretnya bersama lumpur. Namun, ia berhasil selamat karena berpegangan erat pada sebatang pohon mangga.
Di sisi lain, Keshav Prasad Baral, seorang penyintas berusia 68 tahun, menceritakan tragedi pilu yang menimpanya. “Lumpur dalam jumlah besar datang langsung ke arah kami. Semakin dekat, lumpur itu terus naik semakin tinggi,” ungkapnya. Kemudian, ia berusaha meraih tangan istrinya untuk lari ke teras. “Tetapi lumpur langsung menyapunya,” lanjut Baral dengan nada sedih. Setelah empat atau lima jam menunggu, helikopter akhirnya datang menyelamatkannya, namun sang istri masih tertimbun lumpur entah di mana.
Mobilisasi Bantuan Internasional
Menanggapi krisis ini, Kepala Palang Merah Internasional (IFRC), David Fisher, menegaskan bahwa air bah telah menyapu bersih seluruh desa dan area pasar. Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memerintahkan timnya untuk memobilisasi pasokan logistik ke Nepal. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga menyatakan akan mengucurkan dana bantuan darurat sebesar $500.000.
Sementara itu, di wilayah Tibet, pemerintah Tiongkok mengerahkan hampir 800 pekerja darurat dan 150 kendaraan. Mereka juga menerjunkan anjing pelacak dan perahu cepat untuk mempercepat upaya penyelamatan. Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menginstruksikan aparatnya untuk melakukan segala cara demi mencari dan menyelamatkan korban hilang.
Sebagai akibat dari hancurnya infrastruktur listrik, kegelapan total menyelimuti area pangkalan militer Nepal. Walaupun demikian, warga Nuwakot dan Dhading tetap berkumpul di luar pusat pelatihan tentara untuk mencari informasi keluarga mereka. Selanjutnya, polisi menggunakan lampu senter ponsel untuk mencatat nama-nama korban hilang di luar gerbang barak. Di sisi lain, perusahaan tur Himalayan Glacier melaporkan 47 kliennya lenyap. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, juga menyampaikan rasa simpatinya karena upaya mengumpulkan informasi korban hilang masih sangat sulit tim evakuasi lakukan.

Tinggalkan Balasan