Alih Fungsi Lahan Bikin Waswas! IPB & WALHI Sebut Banjir Bukan Sekadar Faktor Hujan
DIKSIMERDEKA.COM,JAKARTA-Risiko banjir di Indonesia kian meningkat seiring cuaca ekstrem yang makin sering terjadi. Isu ini menjadi sorotan dalam The 58th IPB Strategic Talks bertajuk “Cuaca Tak Menentu, Banjir Makin Mengancam” yang digelar daring, Selasa lalu,(10/2).
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB University, Prof Ernan Rustiadi, menegaskan cuaca ekstrem adalah fenomena multidimensi yang tak bisa dipandang sebelah mata. “Dampak cuaca ekstrem harus menjadi pembelajaran bersama,” ujarnyadalam siaran persnya.
Ia menyoroti perubahan iklim yang memperumit risiko bencana, terutama banjir di kawasan perkotaan dan wilayah dengan alih fungsi lahan cepat. Contoh banjir berulang di Sumatra Utara disebut sebagai alarm nyata.
Dari sisi data, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan nasional. Plt Deputi Meteorologi BMKG, Dr Andri Ramdhani, menyatakan, “Kenaikan suhu global berkorelasi dengan meningkatnya kejadian hujan ekstrem dan banjir.”
Pemanasan laut dan atmosfer memperkuat sistem cuaca ekstrem, termasuk siklon tropis seperti Siklon Senyar yang memicu hujan lebat di Sumatera. BMKG kini mengembangkan sistem prediksi berbasis dampak agar informasi cuaca lebih mudah diterjemahkan menjadi langkah mitigasi.
Sementara itu, Kepala Departemen Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Tubagus Saleh Ahmadi, melontarkan kritik keras. “Kita menghadapi kebangkrutan ekologis,” tegasnya. Ia menilai banjir bukan sekadar faktor cuaca, melainkan buah dari eksploitasi sumber daya alam, kerusakan hutan, dan lemahnya tata ruang.
Para narasumber sepakat, koordinasi lintas sektor harus diperkuat dan pendekatan mitigasi perlu bergeser dari respons darurat menuju pencegahan risiko jangka panjang. Tanpa pembenahan tata guna lahan dan kebijakan yang adaptif, banjir diprediksi akan terus menjadi ancaman tahunan.

Tinggalkan Balasan