KYIV DIKSIMERDEKA.COM Ibu kota Ukraina kembali luluh lantak. Peristiwa Rusia serang Kyiv baru-baru ini dilaporkan telah membuat sedikitnya 13 orang tewas dan 40 lainnya luka-luka akibat gempuran mematikan pada Kamis dini hari WIB (20/8/1988). Serangan ini terjadi tepat di saat Kyiv sedang kembang-kempis menghadapi krisis rudal pertahanan udara.

Dinas Darurat Negara Ukraina mencatat, blok-blok apartemen dan berbagai gudang di seluruh kota hancur dihajar serangan udara sepanjang malam. Mirisnya, fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit anak-anak juga tak luput dari kerusakan.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, tak menutupi kekesalannya. Ia menegaskan bahwa jatuhnya korban jiwa ini murni buntut dari minimnya stok rudal pertahanan udara, yang selama ini pasokannya sangat bergantung pada uluran tangan sekutu Barat.

Berbicara kepada BBC News di depan sebuah blok apartemen yang hancur di Kyiv, Wali Kota Vitali Klitschko melontarkan permohonan mendesak. “Amunisi, sistem anti-rudal – kami membutuhkan dukungan dari mitra-mitra kami,” tegasnya.

Saat itu, Klitschko tengah berada di distrik Solomianskyi untuk meninjau kerusakan. Di sekelilingnya, tim penyelamat sibuk mengais puing-puing, sementara warga hanya bisa berdiri menatap kosong sisa-sisa rumah mereka. Salah satunya adalah Valeria Bondaruk.

Ia melarikan diri ke Kyiv setelah rumahnya di Ukraina selatan dibom, mengira ibu kota akan lebih aman bagi ia dan putrinya. Ironisnya, untuk kedua kalinya dalam perang ini, ia kembali kehilangan tempat bernaung. Valeria, yang semalaman terpaksa bersembunyi di lorong karena tak punya bunker, mengatakan kepada BBC bahwa ia sangat mengkhawatirkan masa depan putrinya yang berusia 13 tahun dan kini serius mempertimbangkan untuk angkat kaki dari Ukraina.

Baca juga :  Rusia Gempur Kyiv, 13 Tewas usai Hujan Rudal dan Drone

Kritik tajam soal rapuhnya pertahanan juga datang dari Anggota Parlemen Ukraina, Oleksiy Goncharenko. Ia menyebut Ukraina kini “benar-benar tidak terlindungi” dari serangan rudal balistik dan “tidak bisa melakukan apa-apa” tanpa rudal pencegat.

Dalam program Today di BBC Radio 4, Goncharenko membeberkan realitas pahit di lapangan: “Rusia menggunakan ini untuk mencoba menghancurkan infrastruktur sebanyak mungkin.” Ia menambahkan dengan getir, “Bagi kami ini sangat menyakitkan karena kami sekarat di sini setiap hari tanpa pencegat-pencegat ini.”

Melalui saluran Telegram, Zelensky kembali menyentil negara Barat. “Selama Ukraina tidak memiliki cukup anti-balistik, Rusia tidak akan memikirkan perdamaian secara serius,” tulisnya. Ia menggarisbawahi urgensi di lapangan, “Pencegat untuk (sistem) Patriot belum diganti, dan itu dibutuhkan setiap hari. Setiap rudal tambahan menyelamatkan nyawa rakyat kami.”

Kondisi kritis ini makin kentara lewat laporan Angkatan Udara Ukraina pada Kamis pagi, yang mengindikasikan tak satupun rudal balistik Rusia berhasil dicegat semalam. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia berdalih bahwa mereka menggunakan senjata berbasis udara, darat, dan laut murni untuk menyasar fasilitas militer dan gudang penyimpanan.

Nasib Ukraina memang makin di ujung tanduk karena pasokan rudal pencegat Patriot dari Amerika Serikat tersendat. AS disebut telah menguras sebagian besar stoknya untuk menyokong konflik di Timur Tengah, sehingga jatah untuk Ukraina dipangkas secara signifikan.

Di tengah gempuran rudal, Zelensky juga dihantam krisis politik internal. Seruannya untuk menambah bantuan militer berbarengan dengan tantangan politik frontal dari mantan Menteri Pertahanan yang populer, Mykhailo Fedorov. Fedorov mendesak digelarnya pemilu dan menyerang pemerintah secara pedas dengan klaim bahwa korupsi di level atas telah merampas senjata dari tangan militer.

Baca juga :  Ukraina Siapkan Rudal Balistik, Rusia Bisa Dihantam 3-6 Bulan Lagi

Serangan terbaru di Kyiv ini dimulai sekitar tengah malam waktu setempat. Suara sirene meraung-raung di penjuru kota, disusul dentuman dari sekitar 20 rudal Rusia. Hantaman ini memutus aliran listrik ke ribuan properti, membuat sebagian wilayah Kyiv gelap gulita. Hari Jumat pun resmi dideklarasikan sebagai hari berkabung nasional.

Secara keseluruhan, Angkatan Udara Ukraina menyebut Rusia melepaskan 168 drone dan 44 rudal dalam serangan yang utamanya menargetkan Kyiv, meski mereka mengklaim berhasil menembak jatuh 146 drone dan 39 rudal jelajah.

Kengerian malam itu terekam dari kesaksian Anastasiia Kovtun (31), seorang guru SD yang duduk termenung bersama pasangannya di dekat puing-puing apartemennya yang hancur. Ia mengaku merasa “kepala rasanya mau pecah” saat mendengar ledakan beruntun dari tempat perlindungannya.

“Sangat menakutkan menyadari bahwa itu adalah rumah Anda, Anda tidak pernah berpikir Anda akan menjadi (korban) berikutnya,” ungkapnya kepada BBC. Saat ditanya apakah ia berani menempati tempat itu lagi, ia menjawab tegas: “Bahkan jika kami bisa pindah kembali ke sana, kami tidak akan menginginkannya setelah kejadian ini. Jika kami tinggal di flat itu sepuluh menit lebih lama, kami mungkin sudah terbunuh.”

Dampak eskalasi ini tak hanya memukul Kyiv. Serangan di distrik Brovary dan Boryspil menewaskan satu pria dan melukai tujuh lainnya. Di Oblast Donetsk, satu orang tewas dan 11 luka-luka.

Baca juga :  Zelensky Ajak Putin Tatap Muka demi Perdamaian

Sementara itu, serangan juga terjadi di pihak lawan. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 726 drone Ukraina yang diluncurkan ke berbagai wilayah negara tersebut. Ketegangan bahkan merembet ke negara tetangga; Kementerian Pertahanan Rumania melaporkan sebuah drone nyasar melintasi perbatasan utara mereka dengan Ukraina, memicu sirene peringatan sebelum akhirnya jatuh di “area tak berpenghuni”. Militer Polandia juga sampai harus mengerahkan “operasi udara defensif” guna melindungi ruang udaranya.

Beberapa pekan terakhir memang menjadi saksi eskalasi udara besar-besaran dari kedua belah pihak yang memakan puluhan korban jiwa. Ukraina kini makin berani membalas dan menargetkan jauh ke dalam wilayah Rusia, termasuk menghujani ibu kota Moskow dengan gelombang 600 drone pada akhir pekan lalu. Dua serangan terpisah ke Rusia pekan ini menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk seorang anak.

Sejak Juli, Ukraina juga berulang kali menggempur fasilitas milik ritel online Wildberries (setara Amazon di Rusia). Kementerian Pertahanan Ukraina berkoar bahwa serangan terbaru mereka telah membuat tujuh dari sepuluh pusat logistik raksasa perusahaan itu “dilumpuhkan”.

Di balik aksi saling gempur dan rentannya pertahanan warga sipil di kedua kubu, upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata terbukti jalan di tempat. Kedua belah pihak terus saling tuding soal penargetan warga sipil dalam perang yang telah pecah sejak invasi skala penuh Rusia pada Februari 2022 ini—sebuah invasi yang kini membuat Rusia menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, mayoritas terpusat di kawasan perbatasan timur.