Intelijen Eropa Peringatkan Serangan Rusia ke NATO Tinggal Hitungan Bulan
DIKSIMERDEKA,COM MOSKOW Alarm bahaya kembali berbunyi di seantero Eropa. Para petinggi intelijen Benua Biru secara terbuka memperingatkan bahwa ujian nyata dari Rusia terhadap kekuatan NATO sudah di depan mata. Bukan lagi prediksi jangka panjang, seorang pejabat tinggi intelijen bahkan menegaskan bahwa potensi serangan bisa terjadi dalam “hitungan bulan, bukan tahun”.
Dilansir The Guardian, peringatan ini mengemuka tak lama setelah Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, membeberkan laporan intelijen di hadapan parlemennya di Warsawa. Laporan itu mengindikasikan bahwa Rusia berpeluang meluncurkan serangan drone atau rudal ke wilayah NATO dalam waktu dekat. Tujuannya provokatif: membuktikan kepada dunia bahwa “Pasal 5 lebih bersifat teoretis daripada praktis”.
Dengan kata lain, adalah untuk menguji dan membuktikan bahwa Pasal 5 NATO (yang berbunyi bahwa serangan terhadap satu anggota NATO adalah serangan terhadap seluruh anggota) pada kenyataannya hanya sebatas teori di atas kertas dan tidak benar-benar dipraktikkan (NATO mungkin akan ragu untuk benar-benar membalas dan memulai Perang Dunia 3 hanya karena serangan kecil).
Di Prancis, Presiden Emmanuel Macron langsung mengambil langkah darurat. Ia menyebut peringatan Tusk “masuk akal dan terdokumentasi dengan baik”. Macron bahkan mengumpulkan para pimpinan partai politik dan kandidat presiden 2027 di Paris untuk merapatkan barisan menghadapi intelijen yang menunjukkan ancaman Rusia yang terus membesar.
Eskalasi ketegangan ini terjadi tepat ketika Majelis Umum PBB bersiap bersidang di New York minggu ini. Di medan tempur, baku hantam udara antara Rusia dan Ukraina makin brutal. Minggu (20/9/2026) dini hari, Kyiv menghujani Moskow dan berbagai wilayah Rusia lainnya dengan ratusan drone dan rudal dalam salah satu serangan udara terdahsyat selama perang berlangsung.
Skenario Invasi Terbatas dan Taktik Sabotase
Dalam serangkaian wawancara terpisah di berbagai lokasi selama sepekan terakhir, tiga bos intelijen Eropa membedah anatomi ancaman dari Moskow. Michal Koudelka, Kepala Layanan Keamanan BIS Republik Ceko, membeberkan bahwa selain lonjakan aktivitas drone, invasi skala kecil ke wilayah NATO yang berbatasan dengan Rusia sangat mungkin masuk dalam cetak biru Kremlin.
“Itu mungkin. Ini bisa melibatkan serangan terbatas, provokasi false-flag, kampanye pengaruh yang masif,” tegas Koudelka di markas besarnya di Praha. Ia mengingatkan skenario ini bisa terjadi dalam “hitungan bulan, bukan tahun”, seraya menambahkan bahwa “banyak orang melakukan semua yang mereka bisa untuk memastikan ini tidak terjadi”.
Sikap lebih berhati-hati justru ditunjukkan oleh negara-negara Baltik yang berbatasan langsung dengan beruang merah. Mereka menyoroti sumber daya Moskow yang tengah terkuras di Ukraina dan memperingatkan bahwa mengeksploitasi isu serangan secara berlebihan justru bisa menguntungkan perang psikologi (psy-ops) Kremlin.
“Kami tidak melihat indikasi serangan yang akan segera terjadi,” kata Normunds Mežviets, Direktur Jenderal VDD, layanan keamanan negara Latvia, di Riga.
Meski begitu, ia tak menampik adanya sinyalemen bahwa Moskow tengah menyiapkan manuver yang lebih agresif di Eropa. “Masih menjadi pertanyaan terbuka apakah mereka memiliki rencana langsung dan konkret atau apakah itu hanya dalam konteks upaya keseluruhan mereka untuk menyebarkan ketakutan dan ketidakpastian di masyarakat Barat,” urainya.
Para politisi Baltik kini berada di posisi yang ironis. Dulu, mereka kerap mencibir Eropa Barat yang dinilai terlalu lembek menghadapi Rusia. Kini, mereka justru harus meminta para pemimpin Barat untuk cooling down di ruang publik, khawatir narasi invasi yang terus didengungkan malah akan melumpuhkan ekonomi dan memicu kepanikan sosial.
Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Estonia, Jonatan Vseviov, sampai harus meredam “kepanikan di media sosial” belakangan ini. “Jika ada alasan untuk takut akan serangan, yakinlah: kami akan menjelaskannya. Sampai saat itu tiba, tetap tenang, lanjutkan, dan dukung Ukraina,” tulisnya di platform X.
Kendati demikian, Mežviets menilai kebangkitan kesadaran Eropa Barat adalah sebuah kemajuan. “Sebelum 2022, kami terus-menerus memperingatkan mitra Eropa Barat kami tentang ancaman dari Rusia, tetapi sebagian besar waktu suara kami tidak didengarkan. Pada tahun 2022, pendekatan mitra kami berubah. Mereka mengatakan ternyata orang Baltik dan Polandia benar,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan