Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak USD100
DIKSIMERDEKA.COM, TEHERAN– Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada awal konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Penunjukan ini menegaskan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali di Republik Islam tersebut.
Keputusan itu diambil oleh Majelis Ahli, lembaga berisi 88 ulama yang berwenang memilih pemimpin tertinggi Iran. Pemungutan suara digelar Minggu waktu setempat, di tengah memanasnya perang Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel yang sudah berlangsung lebih dari sepekan.
Dalam pernyataan resminya, Majelis Ahli menyatakan Mojtaba Khamenei terpilih secara meyakinkan.
“Melalui pemungutan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi yang dirilis tak lama setelah tengah malam waktu Teheran Seperti yang dilansir Reuters, Senin, 9 Maret 2026
Dengan jabatan itu, Mojtaba kini memegang kekuasaan tertinggi dalam seluruh urusan negara di Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut penunjukan Mojtaba sebagai wujud kehendak bangsa Iran untuk memperkuat persatuan nasional.
“Penunjukan ini adalah manifestasi dari tekad rakyat Iran untuk memperkuat persatuan nasional,” ujar Pezeshkian.
Trump Ngamuk
Penunjukan Mojtaba diperkirakan bakal memancing kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebelumnya, Trump bahkan menyatakan Washington seharusnya ikut menentukan siapa pemimpin tertinggi Iran.
“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News.
Israel juga sebelumnya mengancam akan menargetkan siapa pun yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Ayah Mojtaba, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam salah satu serangan pertama yang dilancarkan terhadap Iran lebih dari sepekan lalu.
Korban Perang Terus Bertambah
Konflik yang semakin meluas membuat korban terus bertambah. Menurut duta besar Iran untuk PBB, serangan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan setidaknya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya.
Militer Amerika juga melaporkan satu tentara lagi meninggal akibat luka yang diderita dalam serangan balasan Iran pekan lalu. Total korban tewas dari pihak AS kini mencapai tujuh orang.
Washington bahkan memerintahkan staf non-darurat dan keluarga diplomat Amerika meninggalkan Kedutaan Besar AS di Arab Saudi setelah sejumlah fasilitas Amerika di kawasan itu diserang.
Harga Minyak Meledak
Perang besar di Timur Tengah langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak melonjak tajam hingga menembus USD100 per barel.
Kontrak minyak mentah AS melonjak lebih dari 20 persen pada awal perdagangan Senin, level tertinggi sejak Juli 2022. Sementara minyak Brent melesat 17 persen menjadi USD108,73 per barel, setelah sebelumnya sudah naik 28 persen pekan lalu.
Lonjakan harga minyak juga membuat pasar saham Asia terguncang. Kontrak berjangka S&P 500 turun 1,6 persen, sedangkan Nasdaq anjlok 1,7 persen.
Trump mencoba menenangkan pasar. Dalam unggahan di media sosial, dia mengatakan lonjakan harga minyak hanya sementara.
“Harga minyak akan turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran berhasil dihancurkan. Kenaikan harga ini adalah harga yang sangat kecil untuk keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia,” tulis Trump.
Militer Iran Setia ke Mojtaba
Media pemerintah Iran melaporkan pimpinan militer Iran sudah menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menyatakan siap mengikuti kepemimpinan pemimpin tertinggi yang baru.
Kepala keamanan Iran Ali Larijani mengatakan Majelis Ahli tetap menggelar sidang pemilihan pemimpin baru meski ada ancaman serangan terhadap lembaga tersebut.
“Mojtaba Khamenei mampu memimpin negara dalam kondisi sensitif saat ini,” kata Larijani sambil menyerukan persatuan nasional.
Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan mundur dari konflik. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf sebelumnya menyatakan Teheran tidak sedang mencari gencatan senjata.
Sebaliknya, Iran justru meningkatkan serangan balasan ke berbagai target Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Situasi semakin panas setelah Arab Saudi mengumumkan pasukannya berhasil menembak jatuh drone yang mencoba menyerang kawasan diplomatik di Riyadh, lokasi berbagai kedutaan besar asing termasuk Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan