Nekat! China Buka Jalur Sutra Es ke Eropa, Bisa Gantikan Hormuz dan Suez?
TAIPEI DIKSIMERDEKA.COM — Perjalanan China ke Eropa yang biasanya memakan lebih dari 40 hari melalui Terusan Suez kini bisa dipangkas menjadi hanya 18 hari lewat Arktik. Masalahnya, jalur baru itu bukan tanpa risiko.
Ya, ketegangan di Selat Hormuz kembali mengingatkan dunia bahwa jalur perdagangan global bisa sewaktu-waktu lumpuh akibat konflik geopolitik. Ketika sejumlah negara mulai mencari rute alternatif, China justru semakin serius melirik kawasan yang selama ini dianggap terlalu ekstrem untuk perdagangan: Arktik.
China kini telah membuka layanan pelayaran terjadwal pertama melalui Northern Sea Route (NSR) atau Jalur Laut Utara. Rute sepanjang sekitar 5.500 kilometer itu membentang di sepanjang pantai utara Rusia dan melintasi kawasan Lingkar Arktik.
Jalur tersebut membelah laut yang sebagian besar masih membeku dengan bantuan kapal pemecah es bertenaga nuklir. Dalam kondisi tertentu, rute ini menawarkan waktu tempuh China-Eropa yang jauh lebih singkat dibandingkan jalur tradisional melalui Terusan Suez.
Namun, di balik janji efisiensi tersebut terdapat persoalan besar: risiko lingkungan, geopolitik, keselamatan pelayaran, hingga sanksi terhadap Rusia.
Jepang, Korea Selatan, dan India telah menyatakan ketertarikan mengirimkan kargo melalui NSR. Tetapi China menjadi negara pertama yang benar-benar menjalankan layanan terjadwal.
Perusahaan pelayaran Sea Legend dalam beberapa hari terakhir mulai mengoperasikan layanan reguler melalui rute Arktik tersebut.
China Uji ‘Jalur Sutra Es’
Ketika Marco Rubio menyarankan dunia mencari jalur pelayaran baru untuk menghindari kemacetan di Selat Hormuz, kemungkinan besar Menteri Luar Negeri AS itu tidak sedang membayangkan jalur laut di Arktik.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, prospek jalur sepanjang 5.500 kilometer tersebut semakin mencuat.
Dari Laporan The Guardian, Jalur NSR hanya dapat dilalui pada bulan-bulan yang lebih hangat. Akan tetapi, periode navigasi semakin panjang akibat menyusutnya lapisan es laut selama musim panas.
Untuk sejumlah kapal, perjalanan melalui jalur ini bahkan dapat memangkas lebih dari separuh waktu tempuh antara China dan Eropa.
Setelah melakukan satu pelayaran uji coba pada 2025, Sea Legend kini meluncurkan layanan peti kemas reguler melalui Arktik.
Menurut Li, perjalanan langsung dari Ningbo-Zhoushan menuju Felixstowe, Inggris, dapat ditempuh hanya dalam waktu 18 hari. Sebagai perbandingan, jalur melalui Terusan Suez membutuhkan waktu lebih dari 40 hari.
Keunggulan tersebut membuat NSR menarik untuk mengangkut barang yang sensitif terhadap suhu, termasuk kendaraan listrik, baterai litium, dan produk tenaga surya.
Produk-produk tersebut kebetulan merupakan komoditas yang menjadikan China salah satu eksportir terbesar dunia.
Karena saat ini menjadi satu-satunya layanan kargo komersial reguler di jalur tersebut, Sea Legend akan menjadi semacam laboratorium bagi ambisi lama Beijing untuk melihat apakah jalur Arktik benar-benar bisa berubah menjadi rute perdagangan China-Eropa yang layak secara komersial.
Presiden China Xi Jinping pada 2017 pertama kali secara terbuka menyerukan China dan Rusia mengembangkan jalur pelayaran Arktik sekaligus membangun “Jalur Sutra Kutub”.
Rusia, yang menguasai sebagian besar NSR, awalnya tidak terlalu nyaman dengan semakin besarnya kehadiran China di Arktik.
Namun, setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, posisi Moskow semakin bergantung kepada Beijing di kawasan utara tersebut.
Kondisi ini pada akhirnya memberikan China pengaruh dan akses yang lebih besar.
Perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom, menerbitkan izin navigasi dan mengawasi pelayaran di sepanjang rute tersebut. Rosatom juga menyediakan kapal pemecah es bertenaga nuklir yang dibutuhkan untuk mendampingi sebagian besar kapal.
Klaim Emisi Lebih Rendah Dipertanyakan
Sea Legend menyatakan rute Arktik dapat memangkas emisi sekitar setengahnya karena waktu pelayaran China-Eropa jauh lebih singkat.
Tetapi klaim tersebut tidak otomatis membuat NSR menjadi jalur perdagangan yang ramah lingkungan.
Sejumlah pakar justru memperingatkan bahwa risiko lingkungan dalam pelayaran Arktik dapat menghapus manfaat pengurangan emisi tersebut.
Beberapa perusahaan pelayaran juga mendapat kritik karena mengoperasikan kapal yang menggunakan heavy fuel oil (HFO) atau bahan bakar minyak berat. Penggunaan HFO di kawasan Arktik telah dilarang sejak 2024.
Laporan Bellona Environmental Foundation pada 2025 menyebut tumpahan bahan bakar dapat menimbulkan bahaya besar di Arktik.
HFO lebih kental dibandingkan jenis bahan bakar lainnya sehingga jauh lebih sulit dibersihkan. Dalam suhu dingin, minyak juga terurai lebih lambat dan hampir mustahil dikeluarkan jika sudah terperangkap di dalam es.
Bellona menilai Rusia sama sekali belum siap menghadapi bencana semacam itu apabila terjadi.
Jarak yang sangat jauh dan kondisi kawasan yang terisolasi membuat tim penyelamat khusus bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mencapai lokasi tumpahan minyak.
Capt Nitin Chopra, konsultan utama risiko kelautan Allianz untuk Asia, memperingatkan:
“Karena kawasan ini terpencil dan kurang mendapat dukungan logistik, kemungkinan terjadinya kerusakan mesin berkepanjangan dan konsekuensi kapal kandas jauh lebih tinggi. Hal ini menimbulkan risiko tumpahan minyak terhadap ekosistem yang rapuh.”
Bellona juga menyoroti bahaya black carbon atau karbon hitam, salah satu emisi dari HFO.
Lembaga tersebut menyebut karbon hitam sebagai:
“Salah satu penyerap radiasi matahari yang paling kuat.”
Karbon hitam dapat mengurangi kemampuan kawasan Arktik memantulkan cahaya matahari. Akibatnya, lebih banyak energi matahari diserap dan panas terperangkap, yang pada akhirnya memperburuk pemanasan global.
Jalan Es untuk ‘Shadow Fleet’
Chief operating officer Sea Legend, Li Xiaobin, mengatakan krisis di Timur Tengah telah memperlihatkan betapa rentannya Terusan Suez dan Selat Hormuz terhadap gejolak regional.
Menurutnya, kondisi tersebut memperkuat kebutuhan untuk membangun jalur perdagangan alternatif antara China dan Eropa.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan pandangan serupa.
Moskow ingin mengubah peta perdagangan dunia. Namun, kendali Rusia atas NSR yang sebagian besar berada di zona ekonomi eksklusif Rusia justru dianggap terlalu berisiko bagi banyak operator internasional.
Sanksi internasional terhadap Rusia setelah invasi Ukraina juga dapat mempersulit operasi penyelamatan apabila kapal mengalami masalah dan membutuhkan bantuan.
Allianz Commercial memperingatkan persoalan tersebut dalam kajian keselamatan dan pelayaran 2026.
Untuk saat ini, para pakar mengatakan sebagian besar lalu lintas di NSR justru digunakan shadow fleet milik Moskow.
Armada tersebut terdiri dari kapal tanker yang kerap beroperasi tanpa asuransi atau pengawasan regulasi memadai. Kapal-kapal itu melakukan pelayaran secara sporadis untuk menghindari sanksi terhadap minyak Rusia.
Ksenia Vakhrusheva dari Bellona menulis dalam laporan tahun lalu:
“Pada 2025 terdapat seratus kapal semacam itu yang berada di bawah sanksi internasional—atau hampir sepertiga kapal kargo yang berlayar di rute tersebut.”
Pada 2026, sejumlah laporan menunjukkan pengiriman oleh shadow fleet melalui NSR berlangsung dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Kondisi musim panas yang semakin ringan akibat perubahan iklim membuat navigasi menjadi lebih mudah.
Vinh Thai, profesor manajemen logistik dan rantai pasok di RMIT University, mengatakan:
“Dengan perubahan iklim saat ini, kita mungkin dapat melihat lebih banyak waktu dalam setahun ketika Jalur Laut Utara terbuka untuk pelayaran komersial.”
Ia menambahkan bahwa terdapat sejumlah bukti kondisi tersebut memang sudah mulai terjadi.
Sebuah kapal pengangkut LNG Rusia bahkan dapat melakukan pelayaran lebih awal melalui rute tersebut pada Mei karena menyusutnya es laut musim panas.
Dalam sepekan terakhir, para pemantau kapal melihat konvoi tanker Rusia dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya mengambil jalur yang sangat utara melalui NSR.
Armada tersebut dilaporkan membawa sekitar 8 juta barel minyak dan melintas dalam jarak sekitar 500 mil dari Kutub Utara.
Ekonomi Belum Mendukung
Meski Rusia dengan berani—atau mungkin terlalu nekat mendorong NSR sebagai alternatif perdagangan internasional, para pakar menilai hitungan ekonominya saat ini belum masuk akal.
Ada terlalu banyak persoalan yang harus ditanggung.
Risiko keselamatan, biaya operasional tinggi, musim pelayaran yang pendek, serta ancaman sanksi kemungkinan masih akan membatasi perkembangan pelayaran komersial di Arktik.
Dengan kondisi tersebut, satu kecelakaan saja bisa berubah menjadi bencana besar.
Vinh Thai memperingatkan:
“Tumpahan minyak apa pun dapat menjadi bencana lingkungan sekaligus ekonomi.”
Ia menegaskan dampaknya tidak hanya dirasakan Rusia.
“Bukan hanya bagi Rusia, tetapi juga bagi kawasan sekitarnya.”
Lantas, apakah Jalur Laut Utara bisa menggantikan Selat Hormuz dan Terusan Suez?
Thai memberikan jawaban yang tegas:
“Jadi, bisakah Jalur Laut Utara digunakan sebagai pengganti Selat Hormuz dan Terusan Suez? Jawaban singkatnya adalah tidak, setidaknya untuk saat ini.”
Artinya, ‘Jalur Sutra Es’ China memang menawarkan jalan pintas perdagangan yang menggoda, tetapi belum menjadi jalan keluar nyata dari kerentanan jalur perdagangan global.
Arktik kini membuka peluang baru bagi Beijing sekaligus membuka masalah baru: semakin banyak kapal masuk, semakin besar pula risiko lingkungan dan pertarungan kepentingan geopolitik di kawasan yang selama ini didominasi es.
Jalur lebih pendek belum tentu berarti jalan lebih aman.

Tinggalkan Balasan