Trump Pangkas Latihan Militer AS-Korsel, Padahal Pasukan Korut Makin Teruji di Perang Ukraina
WASHINGTON DIKSIMERDEKA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat kebijakan yang mengundang tanda tanya dalam hubungan pertahanan AS dan Korea Selatan. Trump memerintahkan pengurangan besar-besaran latihan militer gabungan kedua negara, meski para pejabat militer memperingatkan Korea Utara kini memiliki pengalaman tempur baru dari perang Rusia-Ukraina.
Latihan militer gabungan yang dikenal sebagai Ulchi Freedom Shield dijadwalkan dimulai Senin dan berlangsung hingga 27 Agustus. Latihan ini merupakan salah satu dari dua latihan militer besar yang digelar setiap tahun oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Sekitar 18.000 tentara Korea Selatan diperkirakan ambil bagian. Mereka akan berlatih bersama pasukan Amerika Serikat serta personel dari 11 dari 18 negara anggota United Nations Command (UNC), badan multinasional yang mengawasi gencatan senjata 1953 yang mengakhiri permusuhan dalam Perang Korea.
Namun, pada Minggu malam, Trump menyatakan dirinya “tidak senang” dengan keterlibatan AS dalam latihan tersebut.
Dilansir The Guardian, Trump mengaitkan keputusannya dengan hubungannya yang disebutnya sangat baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
“Saya tidak senang dengan partisipasi AS berdasarkan hubungan saya yang sangat baik dengan Kim Jong-un.”
Trump juga menilai latihan tersebut mahal dan justru mengirimkan pesan yang keliru kepada Pyongyang.
“Latihan itu mahal dan mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada sebuah negara yang, selama Donald J Trump menjadi presiden, tidak mengancam dan bersikap hormat.”
Trump mengakui latihan sudah terlalu dekat dengan jadwal pelaksanaan sehingga tidak mungkin dibatalkan. Karena itu, ia memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk “mengurangi secara substansial” skala latihan.
Yang lebih mengejutkan, Trump juga menyebut Korea Selatan menolak membantu dalam upaya “denuklirisasi Republik Islam Iran”.
Sehari sebelumnya, Sabtu, Trump juga mengunggah foto lama dirinya bersama Kim Jong-un melalui platform Truth Social. Ia kembali mengatakan bahwa hubungan keduanya sangat baik.
“Kami sangat akur.”
Unggahan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Trump sedang membuka jalan untuk kembali menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
Bukan Pertama Kali Trump Pangkas Latihan
Langkah Trump bukan kali pertama latihan militer AS-Korea Selatan dikurangi demi membuka ruang diplomasi dengan Kim Jong-un.
Setelah pertemuan puncak pertama Trump dengan Kim pada 2018, latihan Ulchi Freedom Guardian pada tahun yang sama dibatalkan. Sejumlah latihan lainnya kemudian ditangguhkan atau dikurangi skalanya.
Latihan militer kedua negara selanjutnya dirancang ulang dan kembali digelar dengan format serta nama yang berbeda.
Cheong Seong-chang, wakil presiden lembaga pemikir Sejong Institute yang berbasis di Seoul, menilai Trump berpotensi mengambil langkah yang lebih jauh jika kembali bertemu Kim Jong-un.
Menurutnya, Trump bisa saja memutuskan untuk menghentikan latihan secara keseluruhan atau mengurangi jumlah pasukan AS di Korea Selatan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Seoul.
Cheong tetap menilai aliansi AS-Korea Selatan “sangat penting”. Namun, ia mendorong Seoul secara bertahap mengurangi ketergantungan keamanan terhadap Washington dan mulai membangun kemampuan penangkal nuklirnya sendiri.
Gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari masyarakat Korea Selatan, meski pemerintah Seoul menolaknya dan komunitas internasional juga menentangnya.
Korut Belajar dari Perang Ukraina
Ironisnya, pengurangan latihan justru dilakukan ketika militer AS dan Korea Selatan sedang berupaya menyesuaikan latihan dengan ancaman baru dari Korea Utara.
Pekan lalu, pejabat militer kedua negara mengatakan latihan tahun ini akan memasukkan berbagai pelajaran dari pengalaman pasukan Korea Utara di medan perang Ukraina, termasuk taktik penggunaan drone.
Hubungan militer Korea Utara dan Rusia memang semakin erat sejak kedua negara menandatangani pakta kemitraan strategis komprehensif pada Juni 2024.
Pyongyang diketahui mengirimkan pasukan, amunisi artileri dan rudal balistik untuk membantu Moskow dalam perang di Ukraina.
Dalam pengarahan bersama, Kolonel Ryan Donald, direktur urusan publik komando pimpinan AS di Korea Selatan, mengatakan skenario latihan tahun ini akan mencakup ancaman seperti penggunaan drone, gangguan GPS dan serangan siber.
Ancaman tersebut, menurut Donald, berkaitan langsung dengan pengalaman yang diperoleh tentara Korea Utara ketika mereka diterjunkan ke Ukraina untuk membantu Rusia.
“Mereka mengambil pelajaran yang mereka dapatkan di sana dan membawanya kembali ke Korea Utara. Itu mengubah kemampuan DPRK.”
DPRK merupakan nama resmi Korea Utara.
Donald menegaskan latihan militer tahun ini memang sengaja dibuat berbeda karena harus mengantisipasi kemampuan baru tersebut.
“Latihan kami memperhitungkan ancaman itu. Itulah mengapa latihan ini terlihat berbeda [dari latihan sebelumnya], dan selama lima tahun terakhir latihan ini terus berkembang.”
Militer AS: Ancaman Korut Tak Bisa Diremehkan
Dalam pengarahan terpisah kepada The Guardian, Letjen Scott Winter, wakil komandan United Nations Command, mengatakan ancaman yang diantisipasi dalam latihan kali ini mencerminkan semakin luasnya penggunaan teknologi modern di medan perang.
Ia juga menegaskan Korea Utara kini memiliki pengalaman tempur yang lebih aktual.
“Kami sangat menyadari bahwa Korea Utara telah menggunakan kesempatan ini untuk menguji sejumlah sistem rudal balistiknya.”
Winter mengatakan latihan tahun ini akan menjadi yang lebih besar dan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
“Lebih besar dan lebih baik dari sebelumnya.”
Pernyataan itu memperlihatkan paradoks kebijakan Washington. Di satu sisi, Trump ingin mengurangi latihan karena alasan diplomasi dan hubungannya dengan Kim. Di sisi lain, para pejabat militer justru memperingatkan bahwa kemampuan tempur Korea Utara sedang berkembang.
Ketika ditanya mengenai unggahan Trump, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan latihan gabungan akan tetap berjalan sesuai rencana.
“Akan dilaksanakan sebagaimana telah diberitahukan dan dijadwalkan sebelumnya.”
The Guardian juga telah meminta komentar lebih lanjut dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengenai pernyataan Trump.
Lebih dari 14.000 Tentara Korut di Ukraina
Kekhawatiran terhadap meningkatnya kemampuan militer Korea Utara bukan tanpa alasan.
Lebih dari 14.000 tentara Korea Utara disebut telah bertempur bersama pasukan Rusia di wilayah Kursk.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan memperingatkan Rusia sedang bersiap menerima tambahan sekitar 30.000 tentara Korea Utara.
Hubungan Moskow dan Pyongyang juga semakin diperkuat dengan pembangunan jembatan jalan pertama yang menghubungkan kedua negara melintasi Sungai Tumen.
Sebuah investigasi berbasis sumber terbuka menyimpulkan bahwa jembatan tersebut lebih berfungsi sebagai koridor logistik militer ketimbang jalur perdagangan.
Media pemerintah Rusia menyebut jembatan tersebut diperkirakan mulai dibuka pada September.
Korut Kembali Pamer Rudal
Menjelang dimulainya latihan Ulchi Freedom Shield, Korea Utara juga kembali menguji coba rudal balistik.
Para analis membaca aksi tersebut, antara lain, sebagai bentuk protes terhadap latihan gabungan AS dan Korea Selatan.
Pada Jumat, Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut latihan tersebut sebagai:
“Latihan untuk perang agresif.”
Pyongyang juga memperingatkan akan merespons dengan meningkatkan kemampuan penangkalnya.
“Merespons tingkat ancaman baru dengan tingkat penangkalan baru.”
Retorika tersebut sebenarnya bukan hal baru. Korea Utara hampir selalu mengeluarkan peringatan keras menjelang latihan militer besar AS-Korea Selatan.
Sebaliknya, Washington dan Seoul berulang kali menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif.
Namun, di tengah meningkatnya pengalaman tempur Korea Utara di Ukraina, persoalannya kini bukan sekadar perang urat saraf antara Washington, Seoul dan Pyongyang.
Ada perubahan nyata pada kemampuan militer Korea Utara yang patut diperhitungkan.
Chun In-bum, pensiunan letnan jenderal yang pernah memimpin pasukan khusus Korea Selatan, menekankan pentingnya mempersiapkan kemampuan militer secara tepat waktu untuk menghadapi tantangan baru.
“Ini adalah peningkatan yang sangat serius dalam kemampuan Korea Utara. Dan kita tidak boleh menganggap enteng lingkungan ancaman ini.”
Peringatan tersebut menjadi semakin relevan ketika Amerika Serikat justru mengurangi latihan militernya dengan Korea Selatan.
Trump mungkin melihat pengurangan latihan sebagai kartu diplomasi untuk kembali merangkul Kim Jong-un. Tetapi dari sudut pandang militer, langkah itu berisiko menimbulkan pertanyaan lain: apakah pengurangan latihan justru memberi ruang bagi Korea Utara untuk semakin mengasah kemampuan tempurnya?

Tinggalkan Balasan