FLORES — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya merusak bangunan. LSM Internasional yang fokus pada perlindungan anak Save the Children menyebut Lebih dari 8.000 anak kini menghadapi risiko keselamatan dan terganggunya pendidikan akibat bencana tersebut.

Pada Senin (17/08), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 54 orang. sementara jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah karena proses pendataan dan penanganan di lapangan terus berlangsung.

Dampaknya juga menjalar ke fasilitas publik yang sangat penting bagi anak-anak. Sebanyak 87 fasilitas pendidikan dan 18 pusat layanan kesehatan dilaporkan terdampak.

Kerusakan tersebut berpotensi mengganggu akses anak terhadap pendidikan dan layanan kesehatan pada saat mereka justru membutuhkan perlindungan lebih besar.

Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

Save the Children Indonesia bersama organisasi mitra lokal CIS Timor sedang melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan anak dan keluarga terdampak sebelum meluncurkan respons kemanusiaan.

Bencana ini datang ketika Flores belum sepenuhnya lepas dari persoalan lain.

“Kawasan tersebut sebelumnya menghadapi kekeringan yang dipicu El Niño serta risiko aktivitas vulkanik yang masih berkaitan dengan Gunung Lewotobi,” tulis Save the children dalam press rilis yang diterima

Artinya, masyarakat menghadapi bencana beruntun.

Save the Children memperingatkan dampak kumulatif dari berbagai bencana tersebut dapat mengancam kesehatan, perlindungan, pendidikan dan kondisi psikososial anak.

Fadli Usman, Humanitarian and Resilience Director Save the Children Indonesia, mengatakan gempa terbaru memperparah kerentanan yang sudah ada.

“Gempa bumi mematikan ini telah menyebabkan banyak penderitaan dan kerusakan, sekaligus memperparah kerentanan yang sudah ada akibat bencana yang berulang di Flores. Anak-anak termasuk kelompok yang paling berisiko.”

Menurut Fadli, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan darurat.

“Melindungi kesejahteraan dan masa depan mereka membutuhkan lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan mendesak; hal itu membutuhkan investasi berkelanjutan dalam pemulihan dan ketangguhan.”

Ia mengatakan Save the Children bersama CIS Timor tengah mempersiapkan dukungan bagi anak dan keluarga terdampak.

“Bersama organisasi mitra lokal kami, CIS Timor, kami bekerja untuk mendukung anak-anak dan keluarga yang terdampak.”

Jangan Sampai Anak Kehilangan Sekolah

Menurut Fadli, kebutuhan paling mendesak bukan hanya makanan, air bersih atau tempat tinggal.

Baca juga :  Gempa NTT, DPR Minta Pemerintah Tak Cuma Kirim Bantuan: Informasi Harus Akurat

Akses pendidikan harus segera dipulihkan agar anak-anak tidak mengalami kehilangan waktu belajar yang berkepanjangan.

Pada saat yang sama, keluarga juga perlu mendapatkan dukungan untuk memulihkan mata pencaharian mereka.

Jika kondisi ekonomi keluarga memburuk, risiko yang dihadapi anak bisa semakin besar.

Save the Children mengingatkan kondisi tersebut dapat meningkatkan ancaman malnutrisi, pekerja anak, perkawinan anak dan berbagai bentuk risiko perlindungan lainnya.

Karena itu, pendidikan dan pemulihan ekonomi keluarga harus berjalan beriringan dengan bantuan penyelamatan jiwa.

Kesaksian Keluarga Tunanetra

Di tengah gempa yang mengguncang Flores, pengalaman sebuah keluarga di Ruteng menggambarkan bagaimana bencana dapat menjadi ancaman berlapis bagi kelompok rentan.

Baca juga :  Gempa NTT, DPR Minta Pemerintah Tak Cuma Kirim Bantuan: Informasi Harus Akurat

Agus, 46 tahun, dan istrinya Euis, 39 tahun, keduanya merupakan penyandang tunanetra. Mereka tinggal di sebuah sekolah berkebutuhan khusus di Ruteng, tempat Euis bekerja sebagai guru.

Ketika gempa terjadi, pasangan tersebut langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki mereka yang baru berusia enam bulan.

Agus menceritakan bagaimana mereka berjuang mempertahankan diri ketika guncangan semakin kuat.

“Begitu kami sampai di halaman belakang, guncangannya menjadi jauh lebih kuat. Pada puncaknya, saya bahkan tidak bisa berdiri. Saya memegang anak saya, istri saya, dan ibu mertua saya.”

Kondisi mereka semakin sulit karena Euis harus menggendong bayi.

“Istri saya tidak bisa memegang saya erat-erat karena dia harus memegang bayi. Jadi saya merentangkan kaki dan berusaha sekuat tenaga melingkarkan kedua tangan saya kepada mereka semua.”

Keluarga tersebut bertahan dalam posisi itu selama sekitar satu menit.

“Kami berhasil bertahan dalam posisi itu selama sekitar satu menit karena gempa begitu dahsyat.”

Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa dalam kondisi bencana, kelompok rentan membutuhkan perhatian khusus. Anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, serta keluarga dengan bayi menghadapi tantangan yang jauh lebih berat ketika evakuasi harus dilakukan secara cepat.

Gempa Kedua M 6,9 di Sumatra

Di tengah penanganan gempa Flores, Indonesia kembali diguncang gempa.

Gempa berkekuatan magnitudo 6,9 terjadi di lepas pantai wilayah barat Pulau Sumatra.

Rangkaian gempa tersebut kembali mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tinggi di dunia.

Baca juga :  Di Forum PBB, Indonesia Bersama Save The Children Bahas Nasib Anak-Anak Palestina

Bagi masyarakat Indonesia, ancaman gempa bukan persoalan yang datang sekali lalu selesai. Gempa susulan, tsunami, letusan gunung api dan bencana hidrometeorologi dapat datang secara beruntun.

Kondisi itu membuat pembangunan ketangguhan masyarakat menjadi semakin penting.

Pemulihan Harus Jangka Panjang

Save the Children menegaskan bantuan darurat memang penting untuk menyelamatkan nyawa. Namun, pemulihan tidak boleh berhenti setelah kondisi darurat mereda.

Layanan pendidikan dan kesehatan harus kembali berfungsi. Keluarga perlu dibantu agar mata pencahariannya pulih. Sementara anak-anak membutuhkan ruang aman untuk kembali belajar dan memulihkan kondisi psikologis mereka.

Save the Children menyatakan prioritas respons mencakup memastikan anak kembali mendapatkan akses pendidikan serta membantu keluarga memulihkan mata pencaharian.

Tujuannya bukan hanya mencegah kehilangan pembelajaran, tetapi juga mengurangi risiko malnutrisi, pekerja anak, perkawinan anak dan persoalan perlindungan lainnya.

Lembaga tersebut juga menyerukan agar pemulihan layanan dasar, penguatan ketahanan keluarga dan masyarakat, serta pemulihan anak mendapatkan prioritas yang setara dengan bantuan penyelamatan jiwa.

Save the Children telah bekerja di Indonesia sejak 1976 dan sebelumnya terlibat dalam respons terhadap berbagai bencana besar, termasuk tsunami 2004 serta gempa Sulawesi 2018.

Data mengenai korban dan kerusakan dalam laporan ini didasarkan pada informasi pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).