DIKSIMERDEKA.COM CARACASGempa Venezuela tak hanya merobohkan gedung-gedung bertingkat, tetapi juga menghancurkan harapan ratusan keluarga dalam hitungan detik. Di tengah debu yang menyelimuti Caracas dan kota-kota pesisir, tangis para penyintas bercampur dengan suara sirene ambulans serta teriakan tim penyelamat yang terus berpacu mencari korban di bawah tumpukan beton.

Sedikitnya 164 orang dilaporkan meninggal dunia( data sementara otoritas setempat) , sementara ratusan lainnya masih menjalani perawatan akibat dua gempa besar berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela hanya dalam selang waktu 39 detik pada Rabu (24/6/2026) petang waktu setempat.

Di berbagai sudut Caracas, warga berhamburan keluar rumah ketika bangunan berguncang hebat. Banyak yang tak sempat menyelamatkan harta benda karena hanya berusaha keluar secepat mungkin demi menyelamatkan nyawa.

“Itu sangat mengerikan. Rasanya rumah bergerak dengan irama yang berbeda dari bumi. Saya harus menggendong ibu keluar karena beliau membeku ketakutan,” ujar Sebastian Rodríguez, pemuda berusia 18 tahun yang tinggal di kawasan Los Palos Grandes.

Meski pusat perbelanjaan Centro Plaza tempat keluarganya berusaha masih berdiri kokoh, kondisi di sekitarnya jauh berbeda. Sedikitnya tiga gedung di kawasan Los Palos Grandes dan Altamira roboh setelah dihantam gempa beruntun tersebut.

Baca juga :  Hujan Intensitas Sedang Sampai Lebat Masih Terjadi Di Luwu Utara

Ketika malam tiba, suasana berubah menjadi perlombaan melawan waktu. Petugas penyelamat, relawan, hingga keluarga korban berkumpul di sekitar bangunan yang telah berubah menjadi tumpukan baja dan beton dengan harapan masih ada tanda-tanda kehidupan.

“Terlalu banyak puing. Kami hanya berharap ada keajaiban,” kata Jessica Galvis, dokter spesialis perawatan intensif berusia 33 tahun yang menunggu kabar sahabatnya di depan sebuah gedung enam lantai yang runtuh.

Kesedihan juga dirasakan José Morillo. Pria berusia 61 tahun itu bergegas melintasi Caracas menggunakan sepeda motor setelah mengetahui keluarganya berada di dalam bangunan yang ambruk.

“Saudara saya, anak saya, dan para keponakan semuanya ada di dalam,” ujarnya dengan suara bergetar.

Beberapa saat kemudian secercah harapan muncul ketika salah satu kerabatnya berhasil dievakuasi dalam keadaan masih hidup dari balik reruntuhan.

Di kaki Gunung Ávila yang menjadi ikon Caracas, kawasan elite Altamira dan Los Palos Grandes mengalami kerusakan parah meski dikenal sebagai lokasi berbagai hotel mewah, restoran, hingga kantor kedutaan asing.

Namun penderitaan justru terasa lebih berat di kawasan permukiman padat seperti Catia. Warga yang sebelumnya telah bertahun-tahun menghadapi krisis ekonomi kini kembali kehilangan tempat tinggal akibat gempa.

Baca juga :  Dramatis! 7 Warga Laos Terjebak di Gua Banjir, Tim Penyelamat Berpacu dengan Waktu

“Dinding rumah saya runtuh. Air masuk dari atap. Gempa berlangsung sangat lama dan menghancurkan semuanya,” tutur José Luis, seorang guru olahraga.

Ia mengaku terlalu takut untuk kembali memasuki rumahnya. Seperti ribuan warga Caracas lainnya, José memilih menghabiskan malam di ruang terbuka dengan kasur seadanya, kardus, atau tenda darurat.

“Kami membutuhkan bantuan pemerintah. Jika ada gempa susulan sebesar tadi, bangunan ini pasti akan roboh. Itu yang paling kami takutkan,” katanya.

Pengalaman serupa dialami Isra Colmenares, 58 tahun. Ia mengatakan bangunan tempat tinggalnya bergoyang sangat keras ketika gempa kedua terjadi.

“Ini pengalaman paling mengerikan sepanjang hidup saya. Saya belum pernah merasakan guncangan sekuat ini,” ujarnya.

Kerusakan bahkan lebih parah terjadi di wilayah pesisir La Guaira, sekitar 45 menit dari Caracas. Bandara Internasional Simón Bolívar mengalami kerusakan berat sehingga seluruh penerbangan dihentikan sementara.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan penumpang berlarian menyelamatkan diri ketika sebagian atap terminal mulai runtuh dan debu tebal memenuhi area bandara.

Baca juga :  Upaya Menghadapi Bencana Alam, Sekda Dewa Indra Tekankan Pejabat Terkait Untuk Lakukan Contigency Plan

Tak jauh dari sana, puluhan apartemen, gedung bertingkat, hingga sebuah hotel di tepi pantai juga dilaporkan ambruk.

Wilayah tersebut sebelumnya masih berupaya pulih dari dampak operasi militer Amerika Serikat pada awal Januari yang menargetkan Presiden Nicolás Maduro. Kini, masyarakat kembali harus menghadapi bencana alam yang memperparah penderitaan mereka.

Putusnya jaringan komunikasi membuat banyak keluarga kehilangan kontak dengan kerabat mereka. Di media sosial, foto-foto orang hilang terus bermunculan. Di antaranya seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun bernama Brayne dan Miranda yang baru berusia lima tahun.

Dalam satu keluarga bahkan lima orang dilaporkan hilang sekaligus, yakni Luisa, Ángel, Carmen, Yepxalit, dan Andrea.

Di tengah kesedihan, secercah harapan masih muncul. Sekitar pukul 01.30 dini hari, tim penyelamat berhasil mengeluarkan tiga bersaudara dari reruntuhan sebuah gedung yang ambruk di La Guaira.

“Ya Tuhan, Engkau Maha Besar,” teriak seorang warga ketika ketiga anak tersebut berhasil dievakuasi hidup-hidup dari balik tumpukan beton.

Hingga kini, operasi pencarian korban Gempa Venezuela masih terus berlangsung. Pemerintah memperkirakan jumlah korban jiwa masih dapat bertambah seiring banyaknya bangunan yang belum selesai diperiksa oleh tim penyelamat.