TOKYO, DIKSIMERDEKA.COM – Gempa Jepang berkekuatan 6,8 magnitudo mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu dan menewaskan sedikitnya lima orang, sementara sembilan lainnya masih hilang. Hingga kini, lebih dari 60 gempa susulan terus terjadi sehingga pemerintah mengerahkan ribuan personel militer dan menginstruksikan sekitar 300 ribu warga untuk mengungsi.

Korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang, bertambah menjadi lima orang, sementara sembilan orang lainnya masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu di tengah rentetan gempa susulan yang masih mengguncang wilayah tersebut.

Dilansir NHK, gempa bermagnitudo 6,8 terjadi pada Selasa (28/7/2026) pukul 16.27 waktu setempat dan mencapai intensitas maksimum 7 pada skala Shindo milik Badan Meteorologi Jepang (JMA), yang menunjukkan tingkat guncangan paling kuat.

Salah satu fokus pencarian berada di sebuah pabrik kertas di Kota Yatsushiro setelah cerobong asap runtuh akibat gempa. Dua pekerja ditemukan dalam kondisi henti jantung dan dilarikan ke rumah sakit, sedangkan sembilan pekerja lainnya masih belum ditemukan.

Pemerintah Jepang mengerahkan 3.600 personel militer untuk membantu operasi penyelamatan. Sebanyak 20 pesawat militer diterbangkan guna memetakan kerusakan dari udara, sementara ratusan petugas tanggap darurat dari prefektur lain turut dikerahkan ke lokasi bencana.

Gempa Susulan Terus Terjadi

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan wilayah terdampak masih berpotensi mengalami gempa kuat dan longsor selama sekitar satu pekan ke depan karena aktivitas seismik masih tinggi.

Baca juga :  Unud dan Niigata Agro-Food University Jepang Jalin Kerjasama

Hingga Selasa malam, lebih dari 60 gempa susulan telah tercatat dengan magnitudo antara 1 hingga 4. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan sesaat setelah gempa, namun dicabut sekitar dua jam kemudian.

Dampak gempa juga menyebabkan sekitar 50.000 rumah kehilangan aliran listrik dan 140.000 rumah tangga mengalami gangguan pasokan air bersih.

Dengan suhu yang diperkirakan melebihi 30 derajat Celsius dan kelembapan tinggi, banyak warga memilih bermalam di dalam mobil karena khawatir terjadi gempa susulan.

Ledakan di Mal dan Ratusan Korban Luka

Selain kerusakan bangunan, sebuah ledakan juga dilaporkan terjadi di pusat perbelanjaan Aeon Kumamoto yang memiliki sekitar 200 gerai.

Dua perempuan berusia 20-an dilaporkan meninggal dunia di lokasi, sementara satu orang lainnya mengalami henti jantung. Pihak Aeon menyatakan seluruh pengunjung dan karyawan telah dievakuasi setelah gempa pertama terjadi. Penyebab ledakan masih diselidiki, meski terdapat laporan dugaan kebocoran gas.

Sedikitnya 350 orang telah mendapatkan perawatan di rumah sakit akibat luka bakar, patah tulang, hingga tertimpa reruntuhan bangunan. Sejumlah rumah sakit juga mengalami gangguan listrik, pasokan air, serta kerusakan peralatan medis.

Baca juga :  Korban Gempa Venezuela Tembus 4.118 Jiwa, Kerusakan Diperkirakan Capai Rp667 Triliun

Ratusan Ribu Warga Mengungsi

Badan Penanggulangan Bencana Jepang menginstruksikan sekitar 300.000 warga untuk mengungsi ke pusat-pusat evakuasi.

Layanan kereta cepat Shinkansen di wilayah Kyushu dihentikan sementara. Bandara Kumamoto juga menutup landasan pacu sehingga sejumlah penerbangan dialihkan maupun dibatalkan.

Operator telekomunikasi KDDI dan NTT Docomo melaporkan gangguan layanan seluler akibat pemadaman listrik dan kerusakan jaringan transmisi.

Meski demikian, Otoritas Regulasi Nuklir Jepang memastikan tidak ditemukan gangguan pada pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah terdampak.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pemerintah masih terus mendata tingkat kerusakan.

“Kami telah menerima laporan adanya korban luka. Pemadaman listrik, kebakaran, kerusakan jalan dan jembatan, serta runtuhnya bangunan telah terjadi. Saya meminta masyarakat segera mengambil langkah untuk melindungi diri, termasuk mengungsi ke tempat yang aman,” ujarnya.

Gempa kali ini kembali membangkitkan ingatan warga Jepang terhadap gempa besar di Kumamoto pada 2016 yang menewaskan 275 orang, serta gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang merenggut sekitar 18.500 korban jiwa dan orang hilang serta memicu bencana nuklir Fukushima.

Standar Bangunan Tahan Gempa Tekan Jumlah Korban

Meski guncangan gempa tergolong sangat kuat, jumlah korban diperkirakan tidak lebih besar karena Jepang selama puluhan tahun menerapkan standar bangunan tahan gempa yang ketat.

Baca juga :  Gempa Filipina Tewaskan 55 Orang, Kota-Kota di Mindanao Porak-Poranda

Pemerintah Jepang terus memperbarui regulasi konstruksi agar bangunan mampu menahan guncangan berkekuatan tinggi. Berbagai gedung modern juga telah dilengkapi teknologi peredam getaran, termasuk sistem fondasi yang memungkinkan bangunan bergerak mengikuti guncangan sehingga mengurangi risiko runtuh.

Namun demikian, sejumlah bangunan lama dan infrastruktur tetap mengalami kerusakan. Rekaman televisi NHK memperlihatkan beberapa bangunan terbakar, dinding runtuh, serta retakan besar yang membelah sejumlah ruas jalan dan jalan layang di wilayah terdampak.

Sejumlah perusahaan besar, termasuk produsen semikonduktor TSMC, Sony, dan Fujifilm, juga mengevakuasi para pekerjanya dari fasilitas produksi di wilayah Kyushu sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan.

Badan Informasi Geospasial Jepang melaporkan permukaan bumi di Kota Yatsushiro bergeser hingga 84 sentimeter akibat gempa, sedangkan di Kota Kumamoto terjadi pergeseran tanah hingga 40 sentimeter.

Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia karena berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Negara tersebut mengalami gempa bumi hampir setiap hari dan menyumbang sekitar 20 persen dari seluruh gempa berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi di dunia. Meskipun demikian, sistem mitigasi bencana, standar konstruksi, serta kesiapsiagaan masyarakat selama ini dinilai mampu menekan jumlah korban ketika gempa besar terjadi.