Bukan Iran atau AS, China Kini Jadi Penentu Harga Minyak Dunia
DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK – Selama berbulan-bulan dunia menyoroti perang Iran, ancaman penutupan Selat Hormuz, hingga ketegangan antara Amerika Serikat dan Teheran. Namun di balik gejolak geopolitik tersebut, ada satu negara yang diam-diam justru menjadi penentu arah harga minyak dunia: China.
Analisis terbaru CNN menyebut Negeri Tirai Bambu kini memainkan peran penting dalam menjaga pasar energi global tetap stabil, bahkan ketika konflik di Timur Tengah sempat mengancam pasokan jutaan barel minyak setiap hari.
Saat perang Iran memutus akses terhadap lebih dari 11 juta barel minyak per hari, banyak analis memperkirakan harga minyak dunia akan meroket hingga menembus US$200 per barel.

Namun kenyataan di lapangan berbeda.
Harga minyak memang sempat melonjak, tetapi tidak sampai mencapai level yang dikhawatirkan pasar. Bahkan pada Senin (22/6), minyak Brent justru turun di bawah US$78 per barel setelah muncul harapan Selat Hormuz segera kembali beroperasi normal.
Menurut sejumlah analis, salah satu alasan utama harga minyak tidak meledak adalah langkah-langkah yang diambil China.
“China memainkan peran penting dalam meredam dampak krisis ini bagi Asia dan pada akhirnya membantu menjaga stabilitas ekonomi global,” kata Daan Walter, analis energi dari lembaga riset Ember.
China disebut berhasil mengurangi impor minyak hingga sekitar tiga juta barel per hari. Jumlah tersebut hampir setara dengan total kebutuhan minyak Jepang.
Langkah itu membuat tekanan permintaan di pasar global berkurang sehingga lonjakan harga minyak dapat ditekan.
Analis Societe Generale bahkan menyebut China sebagai “tangan tak terlihat” yang sedang menyeimbangkan pasar energi dunia.
Istilah tersebut muncul karena besarnya pengaruh China dalam mengatur konsumsi energi domestik di tengah krisis pasokan global.
Sebelum perang meletus, China diketahui aktif membeli minyak murah dari Rusia dan Iran untuk mengisi cadangan strategisnya.
Kini negara tersebut diperkirakan memiliki lebih dari satu miliar barel minyak dalam fasilitas penyimpanan komersial maupun cadangan nasional.
Sejak Mei lalu, sebagian cadangan tersebut mulai digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“China selama ini menjadi penopang harga minyak dunia. Tahun ini pola itu berubah,” ujar Janiv Shah dari Rystad Energy.
Selain memanfaatkan stok minyak, Beijing juga membatasi ekspor produk olahan seperti bensin dan solar guna memastikan pasokan domestik tetap aman.
Kebijakan tersebut membuat kilang-kilang minyak China mengurangi pembelian minyak mentah dari pasar internasional.
Namun faktor yang paling menarik perhatian analis adalah ledakan penggunaan kendaraan listrik di China.
Saat ini satu dari dua mobil baru yang terjual di China merupakan kendaraan energi baru atau electric vehicle (EV).
Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), perkembangan kendaraan listrik telah memangkas konsumsi minyak China sekitar satu juta barel per hari hanya dalam setahun terakhir.
“Ini menjadi katup pelepas tekanan yang luar biasa bagi pasar minyak global,” kata David Fishman, analis energi dari Lantau Group.
Di sisi lain, muncul prediksi yang justru berlawanan dengan kekhawatiran beberapa bulan lalu.
Jika sebelumnya pasar takut mengalami kekurangan pasokan minyak, kini dunia mulai menghadapi ancaman kelebihan pasokan.
Dalam laporan terbarunya, IEA memperkirakan pasokan minyak global tahun depan akan melampaui permintaan hingga 4,7 juta barel per hari.
Kondisi itu bisa terjadi apabila Selat Hormuz kembali normal dan produksi minyak Timur Tengah pulih sepenuhnya.
Tak hanya itu, sekitar 100 juta barel minyak yang selama ini tertahan akibat konflik diperkirakan akan kembali masuk ke pasar internasional.
Iran juga diperkirakan bakal meningkatkan produksi secara agresif apabila sanksi Amerika Serikat dicabut.
Situasi tersebut berpotensi membuat harga minyak mengalami tekanan turun dalam beberapa bulan mendatang.
Namun sekali lagi, semua mata kini tertuju ke China.
Ketika pasokan dunia melimpah, hanya sedikit negara yang memiliki kemampuan menyerap kelebihan minyak dalam jumlah besar.
China adalah salah satunya.
“Negara yang memiliki kemampuan menyerap kelebihan pasokan adalah China. Pertanyaannya sekarang, apakah China ingin membeli?” ujar Muyu Xu, analis minyak mentah dari Kpler.
Pernyataan itu menggambarkan betapa besarnya pengaruh Beijing terhadap pasar energi global saat ini.
Jika China kembali menimbun minyak, harga bisa kembali terdorong naik. Sebaliknya, jika konsumsi tetap ditekan dan penggunaan kendaraan listrik terus meningkat, harga minyak dunia berpotensi bertahan di level yang lebih rendah.
Dengan kata lain, masa depan harga minyak dunia kini tidak hanya ditentukan oleh perang, sanksi, atau diplomasi di Timur Tengah.
Keputusan yang diambil di Beijing bisa menjadi faktor yang jauh lebih menentukan bagi arah pasar energi global dalam beberapa tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan