AS Serang Iran Lagi, Rudal Hantam Dua Kapal Tanker UEA di Selat Hormuz
DIKSIMERDEKA.COM TIMUR TENGAH – Langit Timur Tengah kembali memerah. Saat dunia berharap konflik mulai mereda, AS Serang Iran lagi dengan gelombang serangan baru yang mengguncang kawasan. Balas-membalas rudal pun tak terhindarkan.
Dua kapal tanker Uni Emirat Arab (UEA) dihantam di Selat Hormuz, korban jiwa berjatuhan, sementara bayang-bayang krisis energi global kembali menghantui dunia.Eskalasi konflik ini langsung mengguncang pasar energi dunia dengan harga minyak melonjak hampir 10 persen.
Dilansir dari Reuters, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru dilakukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal sipil dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Tak lama setelah pengumuman itu, media Iran melaporkan ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas serta di Pulau Kish, Qeshm, dan Abu Musa, wilayah strategis yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Tanker UEA Diserang
Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi dua kapal tanker mereka, Al-Bahiya dan Mombasa, terkena serangan rudal Iran saat berada di perairan Oman.
Satu awak kapal berkewarganegaraan India dilaporkan tewas, sementara enam warga India dan dua warga Ukraina lainnya mengalami luka-luka.
Kedua kapal sempat terbakar akibat hantaman rudal, namun api berhasil dipadamkan.
Pemerintah UEA menyatakan seluruh aparat keamanan berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi ancaman lanjutan.
AS Blokade Jalur Laut Iran
Di tengah meningkatnya konflik, CENTCOM juga mengumumkan akan kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran mulai Selasa sore waktu Amerika Serikat.
Langkah tersebut diperkirakan akan semakin memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran sekaligus meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dunia.
Pesawat Tempur Terus Mengudara
Data pelacakan penerbangan menunjukkan sedikitnya 12 pesawat militer AS beroperasi di kawasan Teluk Persia, Teluk Oman, dan wilayah udara Arab Saudi.
Armada itu terdiri atas pesawat pengisian bahan bakar di udara KC-135R dan KC-46A, pesawat pengintai maritim P-8 Poseidon, serta pesawat peringatan dini E-3B Sentry yang mampu memantau sekitar 600 target sekaligus.
Kehadiran armada tersebut menunjukkan operasi militer AS terhadap Iran terus berlangsung untuk malam ketiga berturut-turut.
Trump: Kami Akan Menghantam Mereka
Presiden Donald Trump menegaskan operasi militer akan terus dilanjutkan.
“Kami akan menghantam mereka sangat keras malam ini, dan kami akan menghantam mereka lagi besok,” ujar Trump dalam wawancara dengan pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt.
Trump juga mengklaim Iran telah melanggar kesepahaman yang sebelumnya dicapai kedua negara terkait upaya meredakan konflik dan menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.
Ia bahkan menyatakan Amerika Serikat pada akhirnya akan mengendalikan keamanan di Selat Hormuz.
Iran Balas Serangan
Militer Iran mengaku meluncurkan serangan drone ke fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait.
Menurut pernyataan resmi Teheran, sasaran serangan meliputi sistem komunikasi, tangki bahan bakar, sistem pertahanan udara Patriot, menara pengawas, hingga gudang amunisi.
Iran menyebut serangan itu sebagai balasan atas agresi militer Amerika Serikat yang terus berlanjut.
Harga Minyak Meroket
Eskalasi konflik langsung memicu kepanikan pasar energi global.
Harga minyak mentah Brent melonjak 9,59 persen dan ditutup di level US$83,30 per barel, menjadi kenaikan harian terbesar dalam lebih dari enam tahun.
Situasi yang terus memanas juga meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap keselamatan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia karena dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak global.
Jika konflik terus bereskalasi dan mengganggu arus pelayaran, bukan hanya harga minyak yang berpotensi melonjak lebih tinggi, tetapi juga biaya logistik, inflasi global, hingga stabilitas ekonomi banyak negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Analis menilai Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut berpotensi mengerek harga energi global dan memicu tekanan inflasi di banyak negara.
Di tengah situasi yang terus memburuk, Kedutaan Besar AS di UEA membatalkan seluruh layanan konsuler dalam beberapa hari ke depan dan memindahkan sebagian personel non-esensial ke lokasi yang lebih aman sebagai langkah antisipasi.

Tinggalkan Balasan