DIKSIMERDEKA.COM SHANXI– Tragedi tambang kembali mengguncang China. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, menewaskan sedikitnya 90 pekerja. Angka korban melonjak tajam setelah tim penyelamat melakukan evakuasi sepanjang malam.

Ledakan terjadi Jumat malam (22/5/2026) waktu setempat di tambang yang berada di Kabupaten Qinyuan, Shanxi Utara. Saat insiden berlangsung, sebanyak 247 pekerja berada di bawah tanah. Sebagian besar berhasil dievakuasi, namun puluhan lainnya menjadi korban dalam salah satu kecelakaan tambang paling mematikan di China dalam satu dekade terakhir.

Media pemerintah China, CCTV, menayangkan proses dramatis penyelamatan. Para petugas penyelamat terlihat membawa tandu keluar area tambang, sementara ambulans berjajar di sekitar lokasi.

Presiden China Xi Jinping langsung turun tangan. Ia memerintahkan seluruh aparat bekerja maksimal menyelamatkan korban dan mengusut tuntas penyebab tragedi tersebut.

Xi Jinping meminta otoritas untuk “mengerahkan segala upaya” dalam menangani korban luka dan operasi pencarian. Ia juga memerintahkan investigasi menyeluruh terkait penyebab ledakan serta pihak yang harus bertanggung jawab.

Dalam arahannya, Xi menegaskan seluruh daerah dan instansi harus belajar dari tragedi ini. Ia meminta standar keselamatan kerja diperketat demi mencegah kecelakaan besar terulang kembali.

Perdana Menteri China Li Qiang ikut mengingatkan pentingnya transparansi informasi dan penegakan tanggung jawab secara tegas.

Otoritas manajemen darurat setempat menyebut operasi penyelamatan masih berlangsung. Dugaan awal, ledakan dipicu tingginya kadar karbon monoksida di dalam tambang yang melampaui batas aman. Gas beracun tanpa bau itu diduga membuat banyak pekerja terjebak dalam kondisi kritis.

Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan tambang di Negeri Tirai Bambu. Pada 2023, longsor tambang terbuka di Mongolia Dalam menewaskan 53 orang. Sementara pada 2009, ledakan tambang di Heilongjiang menelan lebih dari 100 korban jiwa.

Meski pemerintah China mengklaim angka kematian tambang batu bara terus menurun sejak awal 2000-an berkat regulasi yang lebih ketat, tragedi besar masih terus terjadi.

Media pemerintah Xinhua melaporkan para eksekutif perusahaan pengelola tambang kini telah ditahan aparat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.