DIKSIMERDEKA,COM BEIJING-Pemerintah China mengingatkan Amerika Serikat agar berhati-hati dalam menyikapi isu Taiwan, yang dinilai sebagai titik paling sensitif dalam hubungan kedua negara, menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing pertengahan Mei mendatang.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis menekankan pentingnya menjaga stabilitas hubungan bilateral.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri China, Wang menyampaikan bahwa kedua negara perlu “menjaga stabilitas yang telah susah payah dibangun” dalam hubungan China-AS.


Taiwan Disebut Titik Risiko Utama

Dalam pembicaraan tersebut, Wang juga menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan kepentingan inti bagi China dan menjadi risiko terbesar dalam hubungan kedua negara.

“Ia menekankan bahwa masalah Taiwan menyangkut kepentingan inti China dan merupakan titik risiko terbesar dalam hubungan China-AS,” demikian pernyataan resmi pemerintah China.

Baca juga :  Proposal Damai Ditolak, Trump Ngamuk Siap Rebut Uranium Iran

China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu reunifikasi. Beijing juga secara konsisten mengkritik dukungan militer dan politik Amerika Serikat terhadap Taipei.

Wang menambahkan bahwa Amerika Serikat harus mengambil langkah yang tepat.

“Amerika Serikat harus menghormati komitmennya dan membuat pilihan yang tepat, membuka perspektif baru bagi kerja sama bilateral serta berkontribusi pada perdamaian dunia,” ujarnya seperti yang dilansir dari The Guardian, Jumat (1/5/2026).


Persiapan Kunjungan Trump ke Beijing

Percakapan antara kedua pejabat tinggi tersebut juga bertujuan untuk mempersiapkan kunjungan Presiden Trump ke China yang dijadwalkan pada 14–15 Mei 2026.

Baca juga :  Italia Tolak Gantikan Iran di Piala Dunia 2026, Menteri Olahraga: Tak Pantas!

Kunjungan ini akan menjadi pertemuan langsung pertama antara Trump dan Presiden Xi Jinping sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi adanya pembicaraan tersebut, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut selain bahwa diskusi berkaitan dengan persiapan kunjungan.


Hubungan yang Stabil, Tapi Rentan

Dalam beberapa waktu terakhir, hubungan Washington dan Beijing relatif stabil meskipun sempat mengalami ketegangan terkait perdagangan dan tarif.

Ketegangan tersebut mereda setelah kedua pemimpin bertemu di Korea Selatan pada Oktober lalu dan mencapai kesepakatan gencatan sementara.

Wang menyatakan bahwa kedua pihak perlu memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan yang ada.

“Kedua pihak harus menjaga stabilitas yang telah dicapai, mempersiapkan interaksi tingkat tinggi dengan baik, memperluas bidang kerja sama, dan mengelola perbedaan,” kata Wang.

Baca juga :  Bank Inggris Siapkan Sistem Pembayaran Tandingan Visa–Mastercard, Alarm Ketergantungan AS Menguat

Bahas Timur Tengah, China Tetap Jaga Jarak

Selain isu bilateral, pembicaraan juga mencakup situasi di Timur Tengah.

China diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran, namun dalam perkembangan terbaru cenderung menjaga jarak setelah Amerika Serikat bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran.

Kementerian Luar Negeri China menyebut kedua pihak “bertukar pandangan” mengenai situasi di kawasan tersebut, tanpa merinci isi pembahasan.


Pernyataan China menunjukkan bahwa isu Taiwan tetap menjadi titik krusial dalam hubungan Beijing dan Washington.Di tengah upaya menjaga stabilitas, kunjungan Presiden Trump ke China berpotensi menjadi momentum penting—namun juga menyimpan risiko jika perbedaan mendasar tidak dikelola dengan hati-hati.