DIKSIMERDEKA.COM,YOGYAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah dinilai belum realistis dalam waktu dekat. Ekonom Universitas Gadjah Mada menyebut dalam 30 tahun terakhir Indonesia bahkan belum pernah kembali mencapai 7 persen. Proyeksi 2026 diperkirakan masih di kisaran 5 persen. Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Universitas Gadjah Mada, Akhmad Akbar Susamto, menyebut struktur ekonomi Indonesia saat ini belum cukup kuat untuk melesat hingga angka tersebut.

“Secara realistis, target 8 persen masih sangat jauh dari kondisi struktural ekonomi Indonesia saat ini,” ujar Akbar di Kampus UGM, Senin (2/3).


30 Tahun Tak Pernah Tembus 7 Persen

Akbar mengingatkan, pertumbuhan ekonomi 8 persen memang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, bahkan tercatat empat kali. Namun dalam tiga dekade terakhir, angka 7 persen saja belum pernah kembali tercapai.

Baca juga :  Lebih Dari 75 Persen Ekspor Indonesia Berupa Produk Manufaktur

“Dalam 30 tahun terakhir, Indonesia tak pernah lagi mencapai pertumbuhan 7 persen atau lebih,” tegasnya.

Artinya, lonjakan menuju 8 persen membutuhkan lompatan struktural besar—bukan sekadar dorongan jangka pendek.


Proyeksi 2026: Normal di 5 Persen

Mengacu pada proyeksi lembaga internasional seperti International Monetary Fund, World Bank, dan Asian Development Bank, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan masih berada di kisaran 5 persen.

Menurut Akbar, ekonomi nasional memang cukup resilien menghadapi tekanan global. Namun di saat yang sama, kebijakan ekonomi dinilai belum cukup agresif untuk mendorong akselerasi pertumbuhan.

“Perekonomian Indonesia tahun 2026 diperkirakan tumbuh di angka normal 5 persen,” katanya.

Baca juga :  Pakar Satwa UGM: Indonesia Masih Bergantung pada Antibisa Ular Impor

Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang

Akbar menjelaskan, pertumbuhan ekonomi masih ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi pengeluaran. Sementara investasi, meski fluktuatif, juga berkontribusi signifikan.

Namun ia menyoroti penurunan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di sejumlah sektor strategis seperti pertambangan, kimia, dan transportasi—yang sebelumnya menjadi motor investasi.


Ekspor Tertekan, Impor Berpotensi Naik

Di sisi eksternal, sektor perdagangan luar negeri diperkirakan belum bisa menjadi mesin pertumbuhan pada 2026.

Nilai ekspor Indonesia dinilai akan terus tertekan akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan melemahnya harga beberapa komoditas utama.

Baca juga :  Dukung Perpres 10/2021, Koster : Jepang Punya Sake, Kita Punya 'rak Bali

Sebaliknya, impor berpotensi meningkat, terutama dari Tiongkok, seiring pengalihan pasar global akibat perang dagang serta upaya negara mitra melepas kelebihan kapasitas manufaktur.

Kondisi ini berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan industri domestik.


Secara matematis, untuk melonjak dari kisaran 5 persen ke 8 persen, Indonesia memerlukan:

  1. Lonjakan investasi produktif skala besar
  2. Transformasi industri bernilai tambah tinggi
  3. Perbaikan iklim usaha dan kepastian regulasi
  4. Diversifikasi ekspor agar tak bergantung pada komoditas

Tanpa reformasi struktural yang mendalam, target 8 persen berpotensi menjadi angka politis ketimbang proyeksi ekonomi berbasis data.

Ekonomi Indonesia memang stabil. Namun untuk tumbuh sangat tinggi dan berkelanjutan, stabil saja tidak cukup.