Suhu Bumi Naik Drastis, BMKG dan Pakar UGM Ingatkan Ancaman Siklon hingga Krisis Pangan!
DIKSIMERDEKA.COM JOGJAKARTA Pemanasan global makin tak terbendung. Dalam 10 tahun terakhir, laju kenaikan suhu Bumi melonjak hampir dua kali lipat dibanding era 1970-an.
Dampaknya mulai terasa. Cuaca ekstrem kian sering terjadi.
Pakar klimatologi UGM, Dr. Emilya Nurjani, mengingatkan kenaikan suhu Bumi memicu efek berantai dari mencairnya es di kutub hingga meningkatnya potensi bencana.
“Jika suhu makin tinggi, maka suhu muka laut ikut meningkat. Dampaknya, siklon akan lebih sering terjadi,” ujar Emilya, Jumat (27/3).
Ancaman itu bukan sekadar teori. Siklon berpotensi memicu banjir, angin kencang, hingga cuaca ekstrem lainnya.
Kenaikan suhu juga mempercepat penguapan. Akibatnya, hujan berintensitas tinggi makin sering terjadi. Namun, di sisi lain, kemarau justru bisa datang lebih panjang dan lebih kering.
“Kalau kemarau panjang, sektor pertanian terdampak. Petani akan sulit menanam, terutama di musim tanam ketiga,” jelasnya.
Akar masalahnya jelas: aktivitas manusia. Penggunaan bahan bakar fosil meningkatkan gas rumah kaca dan membuat panas terperangkap di atmosfer.
Kondisi ini membuat pola hujan semakin tidak menentu—di satu wilayah banjir, di wilayah lain kekeringan.
Peringatan serupa datang dari Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani. Ia menekankan bahwa perubahan iklim bukan hanya soal lingkungan, tapi sudah menyentuh kehidupan manusia secara luas.
“Perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia berkaitan dengan ketahanan pangan, ketersediaan air, energi, hingga stabilitas sosial,” tegas Faisal.
Menurutnya, sejak dulu peradaban manusia sangat bergantung pada kondisi iklim. Ketika keseimbangan itu terganggu, dampaknya bisa meluas—mulai dari krisis pangan hingga konflik sosial.
Ia mengingatkan, sejarah mencatat banyak peradaban runtuh akibat perubahan iklim, seperti kekeringan panjang dan gagal panen.
Menghadapi ancaman ini, Faisal menekankan dua langkah utama: mitigasi dan adaptasi.
Mitigasi dilakukan dengan menekan emisi, seperti penggunaan energi ramah lingkungan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Sementara adaptasi dilakukan dengan memperkuat ketahanan masyarakat agar mampu menghadapi dampak perubahan iklim.
“BMKG tidak hanya berkaitan dengan bencana. Data kami digunakan untuk sektor pertanian, energi, transportasi hingga kesehatan,” jelasnya.
Sementara itu, Emilya mengingatkan pentingnya langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat, salah satunya menyimpan air hujan.
“Bisa dengan regulatory harvesting, menangkap air hujan dari atap dan menyimpannya,” ujarnya.
Ia juga menekankan penggunaan air harus lebih bijak.
Di tengah ancaman yang kian nyata, satu pesan jadi jelas: krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan—tapi sudah terjadi sekarang.

Tinggalkan Balasan