Zelensky Ngotot! Minta Jaminan Keamanan 20 Tahun dari AS Sebelum Teken Damai
DIKSIMERDEKA.COM, MUNICH-Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pasang syarat keras sebelum mau tanda tangan perjanjian damai dengan Rusia. Ia menuntut jaminan keamanan dari Amerika Serikat minimal 20 tahun. Tanpa itu, kata dia, perdamaian terhormat mustahil terjadi.
Berbicara di forum keamanan tahunan di Munich, Sabtu, Zelensky juga mendesak Uni Eropa segera menetapkan tanggal pasti kapan Ukraina boleh resmi bergabung. Beberapa pejabat Uni Eropa sebelumnya menyebut target optimistisnya adalah tahun 2027.
Zelensky berharap pertemuan tiga pihak pekan depan antara Ukraina, Rusia, dan AS berjalan serius. Namun ia menyindir situasi negosiasi yang terasa tak sinkron.
“Saya berharap pertemuan trilateral pekan depan serius, substantif, dan bermanfaat bagi semua. Tapi jujur saja, kadang rasanya tiap pihak bicara hal yang berbeda,” katanya.
Ia juga menyinggung sikap Washington yang dinilai terlalu sering menekan Ukraina soal konsesi.
“Amerika sering kembali ke isu konsesi, dan terlalu sering konsesi itu hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia,” tegasnya.
Hubungan AS–Eropa Masih Retak
Keretakan hubungan AS dan Eropa masih terasa, terutama karena Washington dianggap belum jelas soal jaminan keamanan konkret bagi Ukraina jika kesepakatan damai tercapai. Isu ini disebut jadi luka terbesar dalam relasi trans-Atlantik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mencoba meredakan ketegangan. Ia menawarkan kerja sama erat dengan Eropa.
“Eropa dan Amerika itu satu paket,” ujarnya diplomatis.
Namun ia memberi catatan: jika syarat versi Washington soal iklim, migrasi, dan tarif tak dipenuhi, AS siap jalan sendiri.
“Kami siap membangun tatanan dunia sendirian jika perlu. Tapi kami lebih memilih melakukannya bersama kalian, sahabat kami di Eropa,” tambahnya.
Donbas Jadi Titik Panas
Dalam konferensi pers, Zelensky membocorkan bahwa AS pernah menyarankan Ukraina mundur dari Donbas agar perdamaian cepat tercapai. Ia langsung menolak mentah-mentah.
“Itu tidak mungkin. Orang Ukraina tinggal di sana,” katanya tegas.
Ia mengungkap Washington baru menawarkan jaminan keamanan 15 tahun. Ukraina menuntut minimal 20 tahun dengan perjanjian hukum yang benar-benar mengikat serta rincian bantuan bagi pasukan penjamin keamanan Eropa yang direncanakan ditempatkan di Ukraina setelah damai.
Curiga Rusia Cuma Main Waktu
Zelensky juga mempertanyakan pergantian kepala delegasi negosiasi Rusia. Ia khawatir langkah itu cuma taktik mengulur waktu, bukan perubahan strategi.
Ia menilai absennya Eropa di meja perundingan sebagai kesalahan besar. Pandangan ini diamini Menteri Luar Negeri China Wang Yi.
Trump Ikut Menekan
Sehari sebelumnya, Donald Trump mendesak Zelensky agar segera bergerak mencapai kesepakatan dengan Moskow. Namun Trump belum menjelaskan konsekuensi apa yang akan terjadi jika Ukraina tak cukup fleksibel.
Soal pemilu, Zelensky menegaskan pemungutan suara hanya bisa digelar dua bulan setelah gencatan senjata, demi keamanan pemilih.
Perang Diprediksi Masih Lama
Para pemimpin Eropa pesimistis terobosan damai bisa tercapai cepat. Mereka menilai Presiden Rusia Vladimir Putin belum kehabisan tenaga, baik ekonomi maupun militer.
Salah satu pemimpin Eropa bahkan memprediksi perang masih akan berlangsung minimal dua tahun lagi, meski ia yakin Eropa punya sumber daya untuk terus menopang Ukraina.
Zelensky sendiri menargetkan korban Rusia bisa mencapai 50.000 tewas atau luka berat per bulan.
Serang Iran Secara Terbuka
Zelensky juga melontarkan kritik keras kepada Iran karena memasok drone Shahed ke Rusia.
“Kami tak pernah punya konflik kepentingan dengan rezim Iran. Tapi drone Shahed yang mereka jual ke Rusia membunuh rakyat kami dan menghancurkan infrastruktur kami,” ujarnya.
Ia memperingatkan dunia agar tak memberi waktu bagi rezim Teheran.
“Rezim seperti Iran tak boleh diberi waktu. Kalau diberi waktu, mereka hanya akan membunuh lebih banyak. Mereka harus dihentikan sekarang juga,” tegasnya.
Intinya: Zelensky tak mau gegabah. Tanpa jaminan keamanan panjang dari AS dan kepastian dukungan Barat, ia belum siap teken damai. Dunia pun kini menunggu apakah negosiasi pekan depan bakal jadi titik balik — atau cuma bab baru tarik-ulurnya perang.

Tinggalkan Balasan