Belum Kelar! Trump dan Iran Kembali Adu Kekuatan Saat Khamenei Dimakamkan
rump Ancam Iran Lagi, Serangan Balasan Memanas saat Khamenei Dimakamkan
DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN– AS dan Iran kembali berada di ambang konflik yang lebih besar. Ketika jutaan warga Iran mengantar jenazah mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei ke tempat peristirahatan terakhirnya di Mashhad, rudal dan serangan udara kembali menghantam kedua kubu. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih dahsyat jika Iran terus mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Akibatnya, harapan mempertahankan gencatan senjata yang baru disepakati pun kembali berada di ujung tanduk.
Trump Nyatakan Gencatan Senjata Hampir Berakhir
Ketegangan meningkat hanya beberapa pekan setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka ruang perundingan damai.
Namun, situasi berubah drastis setelah Iran kembali dituding menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 90 target di Iran. Sasaran utama meliputi peluncur rudal, landasan pacu, hingga fasilitas militer yang disebut digunakan untuk mengancam kebebasan pelayaran internasional.
Tak lama berselang, Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai tersebut praktis telah berakhir.
“Ini adalah balasan atas pengeboman kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, balasannya akan jauh lebih buruk,” tulis Trump melalui Truth Social.
Iran Balas Serangan ke Sekutu Amerika
Iran tidak tinggal diam.
Teheran membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah yang menjadi sekutu dekat Amerika Serikat, yakni Kuwait dan Qatar. Pemerintah Iran juga menuduh Washington menyerang kawasan di sekitar satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil milik negara itu di Provinsi Bushehr.
Wakil Gubernur Bushehr, Ehsan Jahanian, mengatakan beberapa lokasi strategis menjadi sasaran, termasuk area sekitar pembangkit nuklir, pangkalan militer di Choghadak, dan dermaga perikanan di pesisir selatan.
Meski demikian, hingga kini belum ada laporan korban jiwa akibat serangan tersebut.
Pemakaman Khamenei Berlangsung di Tengah Ancaman Perang
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran menggelar pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di kompleks suci Imam Reza, Kota Mashhad.
Ratusan ribu pelayat memadati kawasan tersebut sambil membawa berbagai spanduk bernada anti-Amerika. Salah satu spanduk bahkan bertuliskan “Kami Akan Membunuh Trump.”
Khamenei diketahui tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu, yang menjadi awal pecahnya perang antara kedua negara.
Sementara itu, putranya yang sekaligus penerus kepemimpinan Iran, Mojtaba Khamenei, tidak hadir dalam prosesi pemakaman karena masih menjalani pemulihan setelah terluka dalam serangan yang sama.
Fasilitas Nuklir Jadi Sorotan Dunia
Iran menuduh serangan terbaru Amerika Serikat dilakukan sangat dekat dengan pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr.
Lokasi tersebut merupakan satu-satunya fasilitas nuklir sipil yang masih beroperasi di Iran.
Sebelumnya, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah berulang kali mengingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi memicu ancaman serius terhadap keselamatan nuklir dan lingkungan.
Karena itu, serangan terbaru langsung memicu kekhawatiran komunitas internasional.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas
Perselisihan antara Washington dan Teheran kembali berpusat di Selat Hormuz.
Iran ingin menerapkan biaya bagi kapal dagang yang melintasi jalur tersebut sebagai bagian dari kedaulatan wilayahnya.
Sebaliknya, Amerika Serikat menegaskan Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang tidak boleh dikenakan tarif.
Perbedaan pandangan itu membuat negosiasi kedua negara kembali menemui jalan buntu.
Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur strategis tersebut.
Harga Minyak Sempat Melonjak
Serangan terbaru langsung mengguncang pasar energi global.
Harga minyak sempat melonjak tajam karena investor khawatir konflik akan mengganggu distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz.
Meski harga kembali stabil beberapa jam kemudian, para analis menilai situasi masih sangat rapuh dan dapat berubah sewaktu-waktu apabila eskalasi terus berlanjut.
Iran Tegaskan Tidak Akan Tunduk
Pimpinan parlemen Iran sekaligus anggota tim negosiasi, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat.
Menurutnya, kebijakan ancaman dan tekanan militer tidak akan memaksa Iran mengubah posisinya.
“Amerika belum belajar bahwa intimidasi dan pengingkaran janji tidak lagi tanpa konsekuensi. Jika kalian menyerang, kami akan membalas,” tegas Ghalibaf melalui media sosial X.
Mediasi Terus Dilakukan
Di tengah meningkatnya eskalasi, berbagai upaya diplomatik masih berlangsung.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani kembali menghubungi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk mendorong kedua pihak menahan diri demi menyelamatkan proses negosiasi.
Sementara itu, pejabat Amerika Serikat menyebut pembicaraan teknis dengan Iran tetap berjalan meski situasi di lapangan semakin memburuk.
Namun, dengan saling balas serangan yang terus terjadi, peluang tercapainya perdamaian permanen masih dipenuhi tanda tanya.

Tinggalkan Balasan