DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON-Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meninjau proposal damai terbaru dari Iran, namun meragukan peluang keberhasilannya. Ia menilai Teheran belum “membayar harga yang cukup” atas tindakan yang dilakukan selama puluhan tahun terakhir.

Seperti yang dilansir The Guardian, pernyataan itu disampaikan Trump pada Sabtu (2/1/2026) waktu setempat sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One. Ia mengatakan akan mempelajari isi proposal tersebut, meski memberi sinyal kuat kemungkinan penolakan.

Tak lama setelah itu, Trump menulis di media sosial bahwa ia sulit membayangkan proposal tersebut dapat diterima. “Mereka belum membayar harga yang cukup atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir,” ujarnya.

Baca juga :  Iran Bantah Deal Hormuz, Israel Siap Gempur Lebanon

Dua media semi-resmi Iran, Tasnim dan Fars, melaporkan bahwa Teheran telah mengirimkan proposal berisi 14 poin kepada Washington melalui Pakistan. Proposal tersebut muncul di tengah gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak 8 April, setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada akhir Februari.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan keputusan kini berada di tangan Amerika Serikat. “Bola ada di lapangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan konfrontasi,” katanya kepada para diplomat di Teheran. Ia menambahkan Iran siap menghadapi kedua kemungkinan tersebut.

Baca juga :  1 Prajurit TNI UNIFIL Gugur di Lebanon! Misi Perdamaian Berubah Jadi Medan Maut

Sejumlah laporan menyebut proposal Iran mencakup penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, pencabutan blokade di Selat Hormuz, pelepasan aset Iran yang dibekukan, pembayaran kompensasi, serta penghentian sanksi dan perang di berbagai wilayah, termasuk Lebanon. Proposal itu juga mengusulkan mekanisme pengawasan baru terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Pemerintah AS sebelumnya menegaskan tidak akan mengakhiri konflik tanpa kesepakatan yang menjamin Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. Sementara itu, Iran terus menyatakan program nuklirnya bertujuan damai.

Dalam pernyataan terpisah di Florida, Trump juga membuka kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran. “Jika mereka berperilaku buruk, itu bisa saja terjadi,” ujarnya.

Baca juga :  Dor! Peluru Tentara Israel Tembus Kepala Pelajar 14 Tahun Palestina di Depan Gerbang Sekolah

Ketegangan turut meningkat di sektor maritim. Pemerintah AS memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak melakukan pembayaran kepada Iran demi melintas aman di Selat Hormuz, termasuk dalam bentuk aset digital atau bentuk kompensasi lainnya.

Sejak konflik berlangsung, Iran mengendalikan ketat jalur tersebut, yang menjadi jalur penting distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia. Sebagai respons, Amerika Serikat menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran guna menekan pendapatan minyak negara tersebut.

Dampak konflik ini telah mendorong harga minyak dunia naik sekitar 50 persen dibandingkan sebelum perang, memperlihatkan besarnya pengaruh ketegangan geopolitik terhadap stabilitas ekonomi global.