DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pembangunan transportasi massal berbasis kereta di Bali (Bali Urban Rail and Associated Facilities) atau yang lebih dikenal dengan Subway/LRT (Light Rail Transit) masuk pada tahap penunjukan mitra strategis dan pemimpin konsorsium investor yang nantinya akan berperan aktif dalam pengembangan proyek mercusuar ini.

Setelah melalui proses seleksi, PT. Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) selaku pihak yang diberi kewenangan dalam pengembangan Bali Urban Rail and Associated Facilities menunjuk PT. Bumi Indah Prima (BIP) menjadi Qualified Partner dan Lead Consortium of Investors.

Surat penunjukan Qualified Partner dan Lead Consortium of Investors diserahkan oleh Dirut SBDJ I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) kepada Dirut PT. BIP Aditya Anton Subowo di Ruang Pertemuan Hotel Andaz Sanur Denpasar, Rabu (24/7/2024).

Penyerahan surat penunjukan mitra strategis pengembangan LRT Bali disaksikan Pj. Gubernur Bali S. M. Mahendra Jaya dan Dirut PT. Jamkrida Bali Mandara (Perseroda), I Ketut Widiana Karya.

Dalam kesempatan itu, Pj. Gubernur Bali menyampaikan PT. SBDJ dan BIP secepatnya melanjutkan proses sesuai dengan tahapan dan ketentuan yang berlaku. Kedua perusahaan ini juga diharapkan dapat membuka ruang kerjasama dengan investor lain yang nantinya menjadi sumber daya dalam mewujudkan dan pengoperasian subway Bali.

Dalam prosesnya nanti, Pj. Gubernur Mahendra Jaya mengingatkan agar investor mengutamakan masyarakat lokal. Ini sekaligus untuk transfer knowledge teknologi dalam pembangunan dan pengoperasiannya.

Baca juga :  Air Bersih Baru 52%, LRT–MRT Nihil: Komisi V DPR Sentil PR Infrastruktur Bali

Lebih jauh Mahendra Jaya menambahkan, pengembangan koridor transportasi massal berbasis kereta di Bali adalah kerja besar yang membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan.

Semula ia sempat ragu bisa mewujudkan kerja besar ini karena keterbatasan fiskal daerah maupun pusat serta belum ada model pembiayaan infrastruktur tanpa menggunakan anggaran APBN atau APBD.

“Namun saya diyakinkan oleh berbagai pihak yang mengatakan bahwa pola baru itu bisa dilaksanakan karena Bali memiliki magnet luar biasa,” terangnya.

Sebagai gambaran umum, ia menginformasikan peningkatan trafik penumpang, cargo, dan pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai selama semester 1 Tahun 2024. Dibandingkan semester 1 Tahun 2023, jumlah flight internasional mengalami kenaikan 18%, jumlah penumpang naik 26% dan cargo naik 72%.

“Hal ini menambah optimisme kami bahwa Bali memiliki daya tarik bagi wisatawan,” cetusnya.

Peluang ini rupanya dibaca oleh mitra strategis sehingga tak ragu berinvestasi dalam rencana pengembangan subway di Bali. Dari diskusi, ia memperoleh gambaran bahwa investor tertarik karena market utamanya wisatawan, berbeda dengan daerah lainnya yang pasar utamanya adalah penduduk lokal. Selain itu, investor juga akan memperoleh pendapatan dari tiket.

Hanya saja, khusus untuk tiket, Mahendra Jaya ingin ada subsidi bagi warga Bali sehingga harganya tidak mahal. Keuntungan lainnya juga bisa diperoleh dari penggunaan naming rights, ruang bawah tanah, penyewaan atas penggunaan utilitas serta perhitungan dari kredit karbon.

Baca juga :  Pj Gubernur Bali Terima Kunjungan Konsul Jendral Australia

“Tak hanya keuntungan bagi investor, nanti apabila subway telah beroperasi, pemerintah daerah juga mendapatkan persentase dari hasil operasional,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa menegaskan kalau proyek ini harus jadi karena menjadi pertaruhan kementeriannya yang mendorong penerapan model pembiayaan pembangunan tak biasa ini.

Menurutnya, model pembiayaan pembangunan seperti ini baru pertama kali diterapkan di Indonesia. Bali menjadi percontohan karena merupakan daerah pertama di Indonesia yang punya konsep transformasi ekonomi dan diluncurkan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo pada 3 Desember 2021.

Konsep yang kemudian diimplementasikan dalam Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali Menuju Bali Era Baru ditindaklanjuti dengan beragam kegiatan seperti penanganan sampah, penerapan energi terbarukan dan lainnya. “Apa yang kami rancang dalam peta jalan ekonomi kerthi Bali, satu demi satu mulai terwujud,” ujarnya.

Khusus terkait rencana pengembangan moda transportasi massal berbasis kereta, ia menilai langkah ini sangat strategis karena bertujuan untuk memberi kenyamanan. “Yang paling meresahkan saat ini adalah ancaman ketidaknyamanan,” ucapnya.

Sebagai destinasi wisata dunia yang terus berkembang, ia menilai situasi lalu lintas di Bali saat ini berbeda jika dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Inilah yang perlu disikapi karena tak mungkin membangun jalan layang, menurutnya model subway adalah pilihan yang paling tepat.

Baca juga :  Terbaik Terapkan SKNBI, Pj Gubernur Apresiasi BPD Bali

Mengakhiri arahannya, Monoarfa mengajak semua pihak optimis dengan rencana pengembangan subway Bali ini. “Hari ini kita melakukan langkah kecil, tapi langkah kecil ini adalah awal dari langkah besar berikutnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Dirut PT. SBDJ Ari Ashkara menginformasikan bahwa tahap berikutnya adalah groundbreaking yang dijadwalkan pada bulan September 2024.

“Groundbreaking akan dilakukan di Kuta Parking Centre, yang nantinya juga akan menjadi management dan site office kami,” ucapnya.

Diterangkan olehnya, pembangunan subway Bali akan dilaksanakan dalam 4 tahap pengerjaan. Tahap satu Airport-Kuta Sentral Parkir-Seminyak-Berawa-Cemagi, tahap dua Airport-Jimbaran-Unud-Nusa Dua, tahap ketiga Kuta Sentral Parkir-Sesetan-Renon-Sanur dan tahap empat Renon-Sukawati-Ubud.

Kemudian, Fase Airport-Kuta dan Airport-Jimbaran-Unud-Nusa Dua ditarget rampung awal tahun 2028, dan keseluruhan fase satu dan dua diselesaikan pada tahun 2031. Total nilai investasi dari 2 fase pertama adalah USD10.8 miliar sedangkan biaya untuk total 4 fase pengerjaan mencapai USD 20 miliar.

Pembangunan koridor pada setiap fase meliputi infrastruktur transportasi berupa terowongan dan rel kereta bawah tanah, infrastruktur utilitas pendukung seperti telekomunikasi, tenaga listrik, air minum, sampah dan limbah serta pembangunan transit oriented development (TOD).

Editor: Agus Pebriana