KYIV DIKSIMERDEKA.COM – Asap hitam tebal membumbung tinggi menyelimuti jantung kota Kyiv. Sabtu (5/9/2026) Pertahanan udara ibu kota Ukraina kembali kecolongan. Markas besar badan intelijen Ukraina (SBU) luluh lantak dihantam serangan drone Rusia dalam sebuah operasi yang disebut Kyiv sebagai “eskalasi besar-besaran”.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, tidak tinggal diam. Ia langsung menginstruksikan SBU untuk memberikan “respons yang setimpal dan nyata” atas serangan fatal tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyebut serangan terang-terangan ini sebagai sebuah provokasi tingkat tinggi.

Sesaat setelah serangan mematikan pada Jumat tersebut, jalanan di sekitar markas SBU langsung diblokade total. Pasukan bersenjata lengkap berpatroli mengamankan area. Puluhan ambulans dan kendaraan darurat bersiaga di lokasi kejadian, yang ironisnya berdekatan dengan Katedral St Sophia, salah satu situs warisan dunia Unesco.

“Sayangnya, sebuah drone Rusia menghantam bangunan pusat SBU di Jalan Volodymyrska di Kyiv, berseberangan dengan Katedral St Sophia,” ungkap Zelenskyy melalui unggahan di Telegram. “Drone itu diarahkan langsung ke kantor Kepala Layanan Keamanan di gedung tersebut.”

Selama lebih dari sepekan terakhir, Kyiv memang menjadi bulan-bulanan rentetan serangan drone dan rudal harian Rusia. Pada hari Jumat, Zelensky mendesak Rusia untuk menghentikan serangannya selama kunjungan negosiator Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke kota itu pada hari Minggu. Ia bahkan menjanjikan jaminan keamanan bagi wilayah udara Rusia selama utusan AS tersebut berada di Moskow.

Baca juga :  Kim Jong-un Bangun Perumahan Khusus Keluarga Tentara Korut Yang Tewas di Ukraina

Menembus Pertahanan Kyiv dengan Drone Cepat

Keberhasilan Rusia menembus jantung Kyiv bukan tanpa sebab. Ukraina kini tengah menghadapi krisis kritis armada pencegat Patriot buatan AS yang biasanya diandalkan untuk menembak jatuh ancaman udara. Kondisi ini diperparah dengan taktik baru Rusia yang mengerahkan drone bertenaga jet model terbaru. Dengan kecepatan mencapai 250 mph (sekitar 400 km/jam), drone pembunuh ini sangat sulit untuk dicegat radar dan sistem antiair.

Fakta bahwa gedung-gedung pemerintah di pusat Kyiv berhasil dijangkau oleh serangan Rusia—terutama di siang bolong—adalah sebuah insiden langka. Suara ledakan dahsyat dari hantaman di gedung SBU bahkan terdengar menggema hingga radius beberapa blok.

Insiden ini dipastikan akan memperuncing eskalasi serangan balasan antara Moskow dan Kyiv, di mana kedua belah pihak berlomba menghancurkan ketahanan dan moral lawan. Serangan ini juga menjadi tamparan keras sekaligus memunculkan tanda tanya besar mengenai kemampuan Kyiv dalam melindungi infrastruktur vitalnya.

Baca juga :  Trump Pangkas Latihan Militer AS-Korsel, Padahal Pasukan Korut Makin Teruji di Perang Ukraina

Menlu Sybiha menegaskan bahwa serangan itu merupakan “eskalasi besar yang menuntut respons tegas.” Ia juga mendesak para mitra internasional untuk “dengan tegas mengutuk tindakan ini dan meningkatkan tekanan pada rezim Putin”.

Teror Warga Sipil dan Intaian Serangan Susulan

Korban tak terhindarkan. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi sedikitnya sembilan orang terluka dalam serangan Jumat itu.

Gelombang kejut ledakan menghancurkan kaca-kaca jendela di sekitar lokasi, termasuk di Kafe Zavertailo. Stanislav Zavertailo, salah satu pemilik kafe, menyebut pelanggannya menjadi salah satu korban luka.

“Ini kafe biasa,” ujarnya. Sang pelanggan sedang santai “makan salah satu roti gulung biji poppy kami yang terkenal” tepat ketika serangan itu meledak.

Sesaat setelah hantaman pertama, staf dan pelanggan kafe berhamburan mencari perlindungan ke ruang bawah tanah. Mereka dihantui ketakutan akan taktik double-tap—strategi keji yang kerap digunakan Rusia di mana drone kedua dikirim beberapa saat setelah drone pertama untuk menyasar para pekerja medis dan tim evakuasi di lokasi.

Baca juga :  Zelensky Ngotot! Minta Jaminan Keamanan 20 Tahun dari AS Sebelum Teken Damai

Meski satu jam berlalu tanpa ada serangan susulan, Zavertailo mengaku masih waspada. “Kami semua menunggu serangan lainnya,” ucapnya cemas.

Kengerian serupa dirasakan oleh salah satu pegawai kafe yang baru saja keluar dari ruang bawah tanah perlindungan. Ia menyebut serangan hari Jumat itu “sangat mengerikan”. Sebagai “orang yang tinggal di Ukraina selama ini, ini sungguh berat,” keluhnya.

SBU sendiri bukanlah target sembarangan. Lembaga intelijen ini adalah otak di balik koordinasi berbagai operasi militer kompleks melawan Rusia, termasuk Operation Spiderweb tahun lalu yang sukses menghancurkan pesawat bernilai miliaran poundsterling tepat di dalam wilayah Rusia.

Insiden berdarah ini terjadi hanya dua hari sebelum utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, dijadwalkan tiba di Kyiv untuk pertama kalinya. Namun, upaya diplomasi yang dipimpin AS untuk mengakhiri invasi Rusia yang telah berlangsung selama empat setengah tahun ini terus menemui jalan buntu. Fokus Washington kini tampak terbelah seiring memanasnya konflik dengan Iran.