BERLIN DIKSIMERDEKA.COM – Sikap abu-abu pemerintah Jerman akhirnya berakhir. Berlin secara terbuka dan tajam menunjuk hidung Rusia sebagai dalang utama di balik serangan drone (pesawat tak berawak) bermuatan bahan peledak di Bandara Leipzig bulan lalu. Aksi nekat ini dicap Jerman sebagai “perilaku berbahaya” sekaligus bagian dari operasi sistematis Moskow untuk memicu kekacauan besar lewat rentetan serangan hibrida.

Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt dan Menteri Luar Negeri Johann Wadephul akhirnya memecah kebisuannya. Dalam pengarahan singkat nan tegang selama 10 menit di Berlin, keduanya menyatakan bahwa semua bukti kuat mengarah pada keterlibatan langsung negara Rusia yang menyuplai pengetahuan dan peralatan tempur, sementara “agen tingkat rendah” direkrut untuk mengeksekusi serangan di lapangan.

Sebuah drone yang dijejali bahan peledak ditemukan di bandara Leipzig/Halle pada 4 Agustus lalu. Posisinya sangat fatal, yakni di dekat pesawat kargo Antonov milik Ukraina yang kerap dipakai untuk mengangkut pasokan senjata tempur. Meski gagal meledak, otoritas setempat memastikan insiden ini nyaris memicu bencana skala besar.

Sanksi Berlapis dan Solidaritas Penuh Sekutu Barat

Menlu Wadephul memastikan Rusia tidak akan lolos begitu saja dan bakal dihantam paket sanksi super ketat.

Ia menegaskan ada “kebutuhan akan tindakan yang tepat dan perlu dalam situasi ini”. Pemerintah Jerman berjanji akan merespons “terhadap serangan hibrida di Leipzig ini dengan tindakan yang proporsional dan terukur, namun sama-sama tegas”.

“Kita tidak sedang berperang, tetapi kita menjadi target harian dari peperangan hibrida,” ujar Wadephul blak-blakan. “Perilaku berbahaya Federasi Rusia adalah bagian dari upaya destabilisasi, disinformasi, ancaman, sabotase, dan agresi.”

Baca juga :  Rusia Hujani Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik

Langkah berani Berlin ini langsung mendapat ‘back-up’ penuh dari Uni Eropa dan NATO. Presiden Prancis Emmanuel Macron sepakat untuk merapatkan barisan.

“Serangan hibrida ini berkembang biak di Eropa. Mereka tidak bisa dibiarkan tanpa balasan,” kecam Macron. “Menghadapi eskalasi ini, kita harus bersatu, bertekad bulat, dan memperkuat dukungan kita untuk Ukraina. Prancis akan terus memainkan perannya secara penuh.”

Dukungan serupa datang dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni yang menolak tunduk pada teror.

“Keamanan sekutu kita adalah keamanan kita semua. Upaya untuk mengintimidasi kita atau memecah belah sekutu tidak akan berhasil: tindakan hibrida terhadap salah satu dari kita adalah masalah yang menjadi perhatian kita semua, dan akan dihadapi dengan respons yang bersatu,” tegasnya.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, turut melontarkan kecaman keras. “Menyerang pesawat kargo Ukraina di tanah Jerman adalah upaya keji oleh Rusia untuk melemahkan tekad kita dan pertahanan kolektif kita – dan itu akan gagal. Dukungan kami untuk Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia tak tergoyahkan,” ujarnya.

Putin Bereaksi, Jerman Sapu Bersih Simbol Rusia

Di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin bereaksi sinis. Bukannya mundur, Putin justru menyebut rentetan sanksi tersebut sebagai upaya murahan pemerintah Jerman demi mencari muka di depan pemilihnya jelang pemilu.

Baca juga :  Putin Sebut Perang Ukraina Segera Berakhir, Rusia Mulai Bicara Damai

“Saya pikir ini adalah kesalahan lain, kesalahan yang serius,” tutur Putin dalam konferensi pers yang disiarkan kantor berita pemerintah Tass. “Dan dalam pandangan saya, ini jelas bertentangan dengan kepentingan rakyat Jerman.”

Namun Berlin sudah kepalang tanggung. Duta Besar Rusia langsung dipanggil ke Kementerian Luar Negeri untuk menerima ‘surat cinta’ terkait konsekuensi fatal ini. Konsulat Rusia di Bonn dipastikan bakal digembok akhir bulan ini. Russian House, lembaga budaya dan sains raksasa di jantung Berlin yang dituding menjadi sarang mata-mata dan markas peluncuran serangan hibrida selama ini, juga akan diusir dari gedungnya.

Jerman juga mulai menyasar armada bayangan Rusia—kapal-kapal ilegal penyelundup minyak di Laut Baltik dan Laut Utara. Berlin juga bersiap merilis daftar hitam baru, memperketat kontrol perbatasan bagi warga Rusia, serta menyokong penuh paket sanksi ke-22 Komisi Eropa yang siap mencekik 1.600 perusahaan dan organisasi afiliasi Rusia.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, memuji bukti gamblang yang disodorkan Berlin, sementara Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, berikrar untuk “menjaga Uni Eropa tetap bersatu meskipun ada tindakan-tindakan serius yang terus meningkat ini”.

Tekanan Politik Dalam Negeri Makin Mendidih

Langkah Berlin menuding Rusia ini menjadi titik terendah dalam sejarah hubungan diplomatik kedua negara, yang sebelumnya memang sudah hancur lebur pasca-invasi ke Ukraina. Pengumuman ini juga bertepatan dengan momen krusial Pemilu di negara bagian timur, Saxony-Anhalt dan Mecklenburg Vorpommern, di mana isu Rusia jadi jualan utama.

Baca juga :  17 Presiden Dipastikan Hadir KTT G20, Putin Masih Tunggu Konfirmasi 

Partai sayap kanan populis Alternative für Deutschland (AfD) yang pro-Rusia langsung menyerang balik pemerintah dengan tudingan standar ganda. AfD mendesak ketegasan serupa juga diterapkan untuk mengusut serangan pipa gas Nord Stream, yang selama ini santer dituduhkan kepada Ukraina.

Di sisi lain, desakan agar Kanselir Friedrich Merz bersikap lebih keras justru datang dari internal pemerintah. Kanselir Merz yang pekan lalu sesumbar bahwa dalang serangan “akan membayar mahal”—justru absen dalam konferensi pers ini.

Pakar kebijakan keamanan dari Partai Hijau, Konstantin von Notz, mencibir sikap lembek pemerintah. “Pemerintah federal harus segera berhenti bersikap ragu-ragu, segan, dan penakut. Segala sesuatu harus disebut dengan namanya, dan tindakan tegas harus diambil,” kritiknya tajam.

Roderich Kiesewetter, pakar urusan luar negeri dari Partai Uni Demokratik Kristen (CDU), juga menuding pemerintah selama ini menerapkan “kehati-hatian yang ekstrem terkait dengan terorisme negara Rusia di tanah Jerman”.

Berdasarkan hasil investigasi, drone di Leipzig itu murni dirancang untuk membunuh, membawa 600 gram bahan peledak namun gagal karena detonatornya ngadat. Temuan jejak bahan peledak militer hexogen (RDX) pada 14 Agustus lalu makin menguatkan skenario teror ini. Laporan intelijen yang bocor ke harian Bild Zeitung bahkan menyebut ada benang merah antara serangan di Jerman ini dengan rentetan temuan peledak di rumania, Italia, Polandia, Bulgaria, dan Inggris.