Rusia Hujani Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik
DIKSIMERDEKA.COM KYIV – Rusia kembali mengguncang Ukraina dengan serangan besar-besaran yang disebut sebagai salah satu pengeboman terbesar sejak perang dimulai 4 tahun silam itu. Dalam serangan terbaru itu, Moskow bahkan disebut telah menggunakan rudal balistik hipersonik jenis baru bernama Oreshnik, yang mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.
Serangan yang terjadi di wilayah ibu kota Ukraina Kyiv dan sekitarnya itu menewaskan sedikitnya empat orang, sementara puluhan lainnya dilaporkan luka-luka dan terpaksa mengungsi ke tempat perlindungan bawah tanah.Minggu (24/5/2026) waktu setempat
Pemerintah Amerika Serikat mengklasifikasikan Oreshnik sebagai rudal jarak menengah. Kecepatan dan lintasan terbangnya membuat sistem pertahanan udara Ukraina kesulitan untuk mencegatnya. Ini tercatat sebagai penggunaan ketiga rudal tersebut oleh Rusia sejak diperkenalkan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut rudal itu jatuh di dekat kota Bila Tserkva, Ukraina tengah.
“Mereka benar-benar sudah kehilangan akal. Sangat penting ini tidak dibiarkan tanpa hukuman bagi Rusia,” tegas Zelensky dengan nada keras dikutip dari CNN.
Serangan intensif ke Kyiv terjadi setelah Vladimir Putin berjanji akan membalas Ukraina, menyusul tuduhan bahwa pasukan Ukraina melakukan serangan drone mematikan ke sebuah asrama mahasiswa di Luhansk, wilayah yang dikuasai Rusia di Ukraina timur.
Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa mereka justru telah menyerang unit komando drone elit di wilayah itu.
Pemerintah Rusia menyebut serangan di Starobilsk menewaskan 21 orang dan melukai 42 lainnya. Putin kemudian mengatakan bahwa ia telah memerintahkan militernya untuk menyiapkan opsi balasan.
Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB yang digelar atas permintaan Rusia, duta besar Ukraina menolak tuduhan kejahatan perang dari Moskow dan menyebutnya sebagai “pertunjukan propaganda murni”.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam serangan tersebut, termasuk penggunaan rudal Oreshnik, yang menurutnya menandai “jalan buntu perang agresi Rusia”. Sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut penggunaan senjata itu sebagai “eskalasi yang tidak bertanggung jawab”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyebut rudal yang ditembakkan Rusia diduga membawa hulu ledak tiruan (dummy warhead), namun tetap digunakan dalam skala intimidasi besar.
Dari Eropa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengecam keras langkah Moskow. Ia menyebut penggunaan Oreshnik sebagai “taktik menakut-nakuti politik” dan bentuk “permainan berbahaya di tepi perang nuklir”.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengecam serangan tersebut, menyebutnya sebagai tanda “eskalasi baru” dalam perang agresi Rusia.
Sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai langkah Rusia sebagai “eskalasi yang tidak bertanggung jawab” dan menegaskan kembali dukungan penuh Berlin untuk Ukraina.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan sekitar 600 drone dan 90 rudal dalam serangan semalam. Dari jumlah itu, 604 unit disebut berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina.
Namun Zelensky mengakui tidak semua rudal balistik berhasil dicegat.
“Sayangnya, tidak semua rudal balistik berhasil ditembak jatuh. Kyiv menerima dampak terbesar, dan memang Kyiv menjadi target utama serangan ini,” ujarnya.
Serangan besar ini terjadi tak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan aksi balasan atas serangan Ukraina di wilayah yang diduduki Rusia.
Putin menuduh Ukraina melakukan “aksi teror” setelah drone Ukraina menghantam asrama perguruan tinggi di Starobilsk, wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia. Media pemerintah Rusia, TASS, bahkan menyebut jumlah korban tewas mencapai 18 orang, termasuk klaim korban anak-anak.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan penggunaan Oreshnik dan rudal balistik lainnya adalah “balasan atas serangan Ukraina terhadap target sipil di wilayah Rusia”.
Namun pihak militer Ukraina membantah keras tuduhan tersebut. Kyiv menegaskan bahwa mereka hanya menyerang “infrastruktur militer dan fasilitas yang digunakan untuk keperluan militer”.
Militer Ukraina juga menyebut salah satu target serangan mereka adalah markas unit “Rubicon” di wilayah Starobilsk, sebuah pusat pengembangan teknologi drone elit Rusia yang berdiri sejak 2024.
Di tengah kepanikan warga, suasana mencekam terlihat di stasiun metro Kyiv yang dijadikan tempat perlindungan.
“Saya berjalan di bawah ledakan, kami melihat benda-benda beterbangan di atas. Sangat menakutkan, kami sudah di sini lebih dari tiga jam mendengarkan ledakan,” kata seorang warga berusia 62 tahun, Nataliia Zvarych, kepada Reuters.
Sementara itu, Zelensky kembali mendesak sekutu Barat untuk bertindak lebih tegas terhadap Moskow.
“Dibutuhkan keputusan dari Amerika Serikat, Eropa, dan pihak lain, agar orang tua keras kepala di Moskow itu mau mengucapkan kata ‘damai’,” sindirnya tajam, merujuk pada Putin.

Tinggalkan Balasan