GAZA DIKSIMERDEKA.COM Kebohongan demi kebohongan di medan perang akhirnya runtuh juga. Setelah berbulan-bulan bersembunyi di balik tebalnya narasi penyangkalan, militer Israel akhirnya tak bisa mengelak lagi dan mengakui secara blak-blakan tindakan biadab pasukannya.

, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membenarkan telah memberondong peluru ke arah mobil yang ditumpangi Hind Rajab, seorang bocah malang berusia lima tahun yang tengah mencari perlindungan di Gaza.

Pengakuan mengejutkan dari pihak IDF ini tidak hanya mengonfirmasi kekejaman operasi darat mereka, tetapi juga kembali menampar wajah dunia internasional yang selama ini terus menuntut keadilan atas tragedi berdarah tersebut.

Dilansir dari The Guardian, Hind meregang nyawa setelah panggilan telepon selama tiga jam yang menyayat hati ke Bulan Sabit Merah Palestina pada 29 Januari 2024. Dalam panggilan itu, ia memohon untuk diselamatkan. Mobil Kia Picanto yang ditumpangi keluarganya dihantam peluru saat mereka berusaha melarikan diri dari gempuran baru Israel di Kota Gaza. Seluruh penumpang di dalam mobil tersebut tewas seketika.

Sebelumnya,(IDF) dengan pongah berkali-kali membantah pasukannya berada di sekitar lokasi kejadian. Namun, investigasi dari media dan berbagai pihak membeberkan bukti kuat yang mengarah pada keberadaan tank-tank Israel di dekat lokasi.

Paramedis Palestina sebenarnya telah mengerahkan ambulans untuk menyelamatkan Hind dan terus mendampinginya di saluran telepon hingga kontak terputus. Nahas, ambulans itu juga dihujani peluru, menewaskan dua tenaga medis di dalamnya. Jenazah para korban baru bisa dievakuasi 12 hari kemudian setelah pasukan Israel ditarik mundur. Pada hari Rabu kemarin, IDF juga akhirnya mengakui bahwa pasukan mereka lah yang menembaki ambulans tersebut.

“Menyusul tinjauan terhadap temuan tersebut dan karena dugaan kegagalan dalam koordinasi pergerakan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina, telah diputuskan untuk memulai penyelidikan kriminal atas insiden tersebut oleh divisi reserse kriminal polisi militer,” demikian pernyataan militer pada hari Rabu.

Tentu saja publik patut skeptis. Rekam jejak menunjukkan, penyelidikan pelanggaran pidana terhadap pasukan Israel atas pembunuhan warga Palestina sangat jarang yang berujung pada vonis hukuman.

Lebih lanjut, IDF pada Rabu juga menerbitkan tinjauan atas empat insiden menonjol lainnya di Gaza. Mereka menyatakan tengah meluncurkan penyelidikan kriminal atas pembunuhan 15 paramedis Palestina dan pekerja kemanusiaan di dekat kota selatan Rafah pada Maret 2025.

Baca juga :  Iran Segera Beli Rudal Supersonik China 290 Km, AS Kerahkan 2 Kapal Induk & 150 Pesawat

Menurut rekaman telepon dan kesaksian satu-satunya korban selamat, pasukan Israel yang tengah menyergap militan Hamas awalnya menembaki ambulans yang sedang berusaha mengevakuasi korban dari serangan Israel, lalu kembali memberondong serangkaian kendaraan darurat yang mendekati posisi mereka.

Biadabnya, para tentara itu kemudian menggunakan buldoser untuk menggilas jenazah dan kendaraan, mengubur mereka di dalam kuburan massal. Staf PBB dan pekerja penyelamat baru bisa menjangkau lokasi tersebut seminggu kemudian.

“Mereka dibunuh dalam seragam mereka. Mengendarai kendaraan yang ditandai dengan jelas. Memakai sarung tangan mereka. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa. Ini seharusnya tidak pernah terjadi,” tegas Jonathan Whittall, pejabat PBB yang turut membantu mengevakuasi jenazah.

Militer Israel awalnya berbohong dengan menyebut mereka melepas tembakan karena kendaraan-kendaraan itu “maju secara mencurigakan” tanpa lampu depan atau sinyal darurat. Namun, mereka akhirnya menarik kembali pernyataan itu setelah muncul rekaman yang jelas-jelas menunjukkan tim Bulan Sabit Merah dan pertahanan sipil mengemudi perlahan dengan lampu darurat menyala dan logo yang terlihat jelas.

Munther Abed, seorang paramedis Palestina yang berada di lokasi insiden di mana 15 rekannya tewas, berharap, “mereka yang membunuh ⁠rekan-rekan saya, yang sudah seperti keluarga bagi saya, menghadapi keadilan, keadilan yang sesungguhnya”.

“Saya ingin mengatakan kepada seluruh dunia, ambulans 101 ​bukanlah target dan mereka harus dilindungi,” tambahnya, merujuk pada nomor panggilan darurat layanan Bulan Sabit Merah di Gaza.

Di sisi lain, IDF justru memutuskan untuk tidak membuka penyelidikan kriminal atas serangan udara pada April 2024 yang menghantam konvoi kendaraan World Central Kitchen (WCK), yang menewaskan tujuh pekerja kemanusiaan dari kelompok bantuan asal AS tersebut. Padahal, WCK telah mendistribusikan makanan di Gaza sepanjang perang.

Kelompok bantuan itu saat itu menyatakan telah berkoordinasi dengan militer mengenai rute pergerakan mobil mereka. Kendaraan-kendaraan tersebut, yang memiliki logo kelompok yang terlihat jelas di atap dari udara, hancur lebur dan hangus, yang secara jelas mengindikasikan serangkaian serangan yang memang ditargetkan.

Baca juga :  Adik Raja Inggris Diciduk Polisi! King Charles Tegas: Hukum Harus Jalan, Tak Ada Yang Kebal Meski Bangsawan

IDF pada Rabu berdalih bahwa mereka salah mengira beberapa individu di dalam kendaraan itu sebagai operasi militer bersenjata Hamas, dan menuding konvoi tersebut menyimpang dari rute yang telah dikoordinasikan sebelumnya. Pada akhirnya, mereka menyimpulkan bahwa “keputusan para komandan tidak menimbulkan kecurigaan yang beralasan atas pelanggaran pidana”. Hanya dua perwira yang dicopot dari posisinya saat itu dan tiga lainnya diberi teguran.

Salah satu korban tewas dalam serangan itu adalah pekerja bantuan asal Australia, Zomi Frankcom. Pemerintah Australia menyebut kematian tersebut sebagai “tragedi dan penghinaan” dan terus menekan adanya akuntabilitas penuh serta “tuntutan pidana yang sesuai”. Pada bulan Februari tahun ini, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan bahwa ia telah menegaskan kepada Israel dan presidennya, Isaac Herzog, agar ada transparansi mengenai investigasi Israel yang saat itu sedang berlangsung atas insiden tersebut.

Pada April tahun ini, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong memberikan penghormatan kepada Frankcom pada peringatan dua tahun kematiannya, dengan mengatakan “orang-orang seperti Zomi langka dan ketidakegoisan mereka seharusnya tidak hanya dirayakan tetapi juga dilindungi”.

Pihak World Central Kitchen dengan tegas menolak narasi pejabat Israel terkait serangan udara tersebut dan keputusan mereka untuk tidak melanjutkan penyelidikan kriminal.

“Belum pernah ada alasan atau pembenaran apa pun atas serangan tersebut, dan tidak ada satu pun dari penjelasan ini yang melakukannya. Keputusan ini tidak konsisten dengan kebenaran yang seutuhnya dan sangat menyinggung,” tulis WCK dalam pernyataannya.

“Pada saat serangan mematikan itu terjadi, IDF tahu bahwa tim kami di Gaza tidak bersenjata dan tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun. Mereka memiliki kejelasan visual penuh atas kendaraan kemanusiaan kami yang ditandai dengan jelas selama serangan udara yang meluas dan berkali-kali tersebut. Mereka mengetahui pergerakan, identitas, dan aktivitas tim kami sebelumnya.”

Seolah kebal hukum, militer Israel juga memutuskan untuk tidak mengambil tindakan pidana atas pembunuhan empat pekerja kemanusiaan dari Doctors Without Borders (MSF) dalam dua insiden terpisah pada November 2023 dan Februari 2024. Israel kemudian secara efektif melarang badan amal medis itu beroperasi di Gaza.

Baca juga :  Transaksi E-Wallet Malaysia NyarisRp1.000 Triliun

Dan Owen, seorang peneliti di Yesh Din, organisasi hak asasi manusia Israel, mengungkapkan bahwa selama dekade terakhir, hanya sebagian kecil dari investigasi yang berujung pada dakwaan, sementara tekanan politik yang berkembang “semakin menghalangi otoritas penegak hukum Israel untuk meminta pertanggungjawaban dari mereka yang bersalah, bahkan ketika bukti yang jelas memang ada”.

Sebuah laporan PBB yang diterbitkan pada bulan Februari menggambarkan “iklim impunitas yang meluas” oleh Israel di Palestina yang diduduki “sehubungan dengan pelanggaran berat hukum hak asasi manusia internasional dan pelanggaran serius hukum humaniter internasional … beberapa di antaranya merupakan kejahatan perang dan kemungkinan kejahatan internasional lainnya”.

Meski fakta di lapangan berkata lain, pasukan Israel selalu berdalih bahwa mereka tidak pernah secara sengaja menargetkan warga sipil di Gaza dan justru menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng bagi militannya.

IDF menyatakan bahwa sebagai bagian dari kewajibannya di bawah hukum internasional dan hukum domestik Israel, pihaknya memeriksa “insiden-insiden luar biasa yang terjadi selama pertempuran”.

“Selama lebih dari seribu hari, IDF telah melakukan pertempuran intensif di berbagai garis depan, melaksanakan berbagai misi militer dalam realitas operasional yang sangat kompleks,” klaim mereka dalam sebuah pernyataan.

Perang ini dimulai pada Oktober 2023 ketika Hamas meluncurkan serangan kejutan ke Israel selatan, menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menculik 250 orang. Serangan balasan Israel yang membabi buta di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, termasuk lebih dari 1.200 orang yang tewas sejak gencatan senjata rapuh mulai berlaku pada bulan Oktober.

Hingga Rabu kemarin, ⁠serangan udara Israel kembali menewaskan ⁠tujuh warga Palestina. Pejabat militer Israel berdalih kepada media lokal bahwa satu serangan yang menewaskan enam orang menargetkan pertemuan para komandan Hamas di Kota Gaza. Entah sampai kapan dalih ini akan terus digunakan.