Kunjungi Kyiv di Hari Kemerdekaan, PM Inggris Andy Burnham Bawa Kado Spesial: Bantuan Produksi Rudal Jarak Jauh untuk Ukraina
KYIV DIKSIMERDEKA.COM – Peringatan Hari Kemerdekaan Ukraina ke-35 diwarnai manuver berani dari negara sekutu utama mereka. Dalam lawatan luar negeri perdananya, PM Inggris Andy Burnham mendarat di Kyiv pada Senin (24/8/2028) pagi membawa “kado” yang dipastikan bakal membuat telinga Moskow makin memanas. Berada di tengah bayang-bayang ancaman gelombang serangan udara Rusia, Burnham menjanjikan dukungan penuh berupa pembagian rahasia teknologi militer tingkat tinggi agar Ukraina bisa memproduksi rudal jarak jauh secara mandiri.
Dalam kunjungannya, PM Inggris akan mengumumkan bahwa pemerintahannya memberikan izin kepada perusahaan pertahanan Eropa, MBDA, untuk mendeklasifikasi (membuka rahasia) informasi terkait komponen rudal Anglo-Prancis Storm Shadow/Scalp buatan Inggris. Langkah ini diambil untuk membantu Ukraina merakit versi rudal tersebut secara mandiri.
Meski dampak dari kebijakan ini kemungkinan baru akan terasa bertahun-tahun ke depan, langkah tersebut diprediksi akan semakin meruncingkan ketegangan dengan Moskow, di tengah hubungan diplomatik Inggris-Rusia yang sedang berada di titik nadir.
Melalui pernyataan tertulis pada Minggu malam, Burnham menegaskan komitmen negaranya. “Pada peringatan kemerdekaan Ukraina yang ke-35, rakyat Ukraina tidak perlu ragu: Inggris mendukung Anda hari ini dan selama yang dibutuhkan,” ujar Burnham.
“Saya bangga dengan kontribusi yang telah diberikan negara kami kepada Ukraina dan saya ingin rakyat Ukraina mendengarnya langsung dari saya bahwa dukungan kami tidak akan goyah. Bagaimanapun, keamanan Ukraina adalah keamanan kami,” imbuhnya.
“Persahabatan antara kedua negara kita akan bertahan jauh lebih lama daripada perang ilegal Rusia. Baik dalam peperangan maupun dalam pembangunan kembali yang akan datang, kami akan berdiri bersama Ukraina dan memberikan peluang bagi rakyat di kedua negara kita,” lanjut Burnham. “Rusia tidak perlu meragukan tekad kami. Kami tidak akan mundur sampai ada perdamaian yang adil dan abadi.”
Di Kyiv, Burnham juga akan mengumumkan bahwa Inggris siap membantu Prancis mendirikan fasilitas perakitan rudal jarak jauh di Ukraina, sesuai dengan janji yang dilontarkan Presiden Prancis Emmanuel Macron bulan lalu.
Akhir pekan lalu, Macron telah berbicara langsung dengan Zelensky untuk menjanjikan pengiriman rudal pencegat (interceptor) terpisah. Bantuan ini diharapkan mampu menangkal rentetan serangan rudal berkecepatan tinggi Rusia yang belakangan gencar menghantam Kyiv.
Di sisi lain, para pemimpin Eropa serempak mengutuk serangan drone (pesawat tak berawak) Rusia pada Jumat lalu yang menghantam sebuah pusat perbelanjaan padat di Ukraina tengah. Serangan nahas itu menewaskan 16 orang di Kryvyi Rih, kota kelahiran Zelensky.
Saat ini, militer Ukraina diketahui mulai kehabisan rudal pencegat Patriot buatan Amerika Serikat (AS). Kondisi ini diperparah dengan sikap Presiden AS Donald Trump yang baru-baru ini menarik kembali janjinya untuk mengizinkan Ukraina memproduksi Patriot secara mandiri.
Namun, Zelensky pada akhir pekan menegaskan bahwa ia masih ingin membeli lebih banyak rudal Patriot buatan AS. Ia mengisyaratkan bahwa Ukraina bersedia membayar persenjataan tersebut alih-alih sekadar menerimanya sebagai bantuan militer.
“Saya ingin mengamankan 300 rudal Patriot untuk paket musim dingin,” katanya. “Permintaan dari angkatan udara kami adalah 360.”
Zelensky menambahkan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dengan Prancis untuk setidaknya satu sistem pertahanan udara pada tahun ini, serta dengan Jerman untuk pasokan sekitar 600 rudal pencegat pada periode 2027-2028.
Dukungan serupa digaungkan Macron melalui platform X pada hari Sabtu. “Sangat penting untuk memberi Ukraina semua sarana yang diperlukan untuk mempertahankan langitnya dan menggagalkan agresi ini … Sangat penting bahwa semua negara yang memiliki kemampuan di bawah kendali mereka juga ikut serta dalam upaya ini,” tulisnya.
Ancaman Pemutusan Hubungan Diplomatik Rusia
Meski pengumuman Inggris ini hanya langkah awal dalam proyek jangka panjang agar Ukraina dapat membuat versi rudal jelajah Storm Shadow sendiri, hal ini dipastikan akan memicu reaksi keras dari Moskow.
Pekan lalu, Rusia secara terbuka menuduh Inggris sengaja memanaskan konflik dengan membiarkan Ukraina meluncurkan serangan menggunakan drone buatan Inggris. Moskow memberikan peringatan keras bahwa semakin dalam keterlibatan Inggris, “semakin tinggi harga yang harus dibayarnya”.
Memanasnya situasi ini terbukti pada akhir pekan, saat terungkap bahwa Rusia telah menarik duta besarnya di London tanpa menunjuk pengganti. Manuver ini memicu spekulasi kuat bahwa Rusia sedang menurunkan level kehadiran diplomatiknya di Inggris.
Merespons hal tersebut, Burnham bersikeras bahwa ancaman Rusia tidak akan menyurutkan dukungan Inggris untuk Ukraina. “Kami bukanlah teman yang hanya ada di saat senang. Kami akan selalu ada di saat Ukraina membutuhkan, dan itu tidak akan berubah,” tegasnya pekan lalu.
Pada hari Senin, Burnham akan menggunakan forum pertemuan ‘koalisi negara-negara peduli’—yang terdiri dari 34 negara penyokong keamanan Ukraina jika terjadi kesepakatan damai dengan Rusia—untuk menggarisbawahi komitmen tersebut. Pertemuan ini akan diketuai bersama oleh Burnham dan Macron secara virtual. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga dijadwalkan hadir dalam pembicaraan yang berfokus pada strategi membantu Ukraina menangkis gelombang serangan jarak jauh Rusia.
Selama berada di Kyiv, Burnham juga akan menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan, yang detail lokasinya dirahasiakan karena kekhawatiran akan serangan besar Rusia. Ia juga dijadwalkan menerima penghargaan atas kontribusi Inggris bagi Ukraina.
Tantangan Internal Zelensky
Sementara itu, di ranah domestik, Presiden Zelensky tengah menghadapi tantangan politik internal paling serius selama masa kepresidenannya. Hal ini dipicu oleh desakan untuk segera menggelar pemilihan umum (pemilu) yang disuarakan oleh mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov.
Zelensky merespons desakan dramatis Fedorov itu untuk pertama kalinya pada akhir pekan lalu. Dalam jumpa pers terbatas hari Sabtu, yang detailnya baru dipublikasikan pada hari Minggu, ia memperingatkan bahwa menggelar pemilu—yang ditangguhkan sejak awal invasi—berisiko besar memecah belah bangsa.
“Saya percaya bahwa jika kita ingin menghancurkan negara ini, maka selama perang semacam ini kita bisa bergerak mengadakan pemilihan umum,” tegasnya.
“Saya percaya bahwa selama perang semacam ini, pemilihan umum secara umum adalah risiko besar. Pemilihan umum saat ini adalah tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan