DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Krisis pangan global 2026 mulai menghantui dunia. Sebanyak 45 juta orang terancam kelaparan. Namun di tengah situasi itu, Indonesia justru mencatat surplus beras.

Lonjakan harga energi, gangguan jalur pelayaran, hingga biaya logistik yang makin mahal menjadi pemicu. Dampaknya tidak berhenti di wilayah konflik, tapi merembet ke seluruh dunia. Negara yang bergantung pada impor pangan menjadi pihak paling rentan.

Di tengah situasi itu, Indonesia justru berada di jalur berbeda. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, kunci menghadapi krisis global adalah kemandirian pangan. “Kalau terjadi krisis global, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri,” ujarnya, Rabu (25/03/2026).

Baca juga :  Kerja Sama Dengan Mentan, Polri Siap Perkuat Ketahanan Pangan

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Produksi beras nasional saat ini mencapai sekitar 34,7 juta ton, naik sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Cadangan beras pemerintah juga sudah menembus lebih dari 4 juta ton. Angka tersebut menunjukkan stok pangan nasional dalam kondisi aman di tengah ketidakpastian global.

Perubahan tidak terjadi begitu saja. Pemerintah melakukan perombakan besar di sektor pertanian. Sekitar 500 regulasi yang dinilai menghambat dipangkas. Tujuannya sederhana: mempercepat produksi. “Kalau regulasi terlalu banyak, program tidak akan jalan,” kata Amran.

Baca juga :  Stok Dalam Negeri Aman, Indonesia Bisa Ekspor Beras

Salah satu perubahan paling terasa terjadi pada distribusi pupuk. Jika sebelumnya prosesnya berbelit dan lambat, kini jalurnya dipersingkat langsung ke petani. “Dulu petani sudah mau tanam, pupuk belum tiba. Sekarang distribusi langsung, cepat, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Di sisi lain, modernisasi pertanian mulai digenjot. Penggunaan alat mesin membuat proses tanam dan panen lebih cepat. Biaya produksi pun bisa ditekan hingga 50 persen. Dampaknya langsung terasa pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) kini mencapai angka 125, tertinggi sepanjang sejarah.

Baca juga :  Pemkab Jember Genjot Optimalisasi Lahan Pertanian Demi Ketahanan Pangan

Namun langkah pemerintah tidak berhenti di situ. Ekspansi lahan terus dilakukan. Ratusan ribu hektare lahan rawa mulai dioptimalkan untuk menambah sumber produksi baru. Ini menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya bertahan dari ancaman krisis, tetapi mulai melirik peluang lebih besar. “Kita tidak boleh takut krisis pangan global. Justru ini momentum Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri pangan dan menjadi lumbung pangan dunia,” tegas Amran.

Di saat banyak negara cemas menghadapi ancaman kelaparan, Indonesia justru sedang memperkuat fondasi untuk berdiri lebih kokoh.