DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Umat Hindu pada Sabtu (17/1/2026) merayakan Hari Raya Siwaratri yang dimaknai sebagai malam perenungan dosa dan kebangkitan kesadaran diri. Di tengah keterbukaan informasi dan dominasi teknologi digital, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali mengajak umat Hindu untuk menjalankan “puasa digital” agar esensi brata Siwaratri tetap terjaga.

Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, mengatakan monobrata saat Siwaratri secara tradisional diartikan sebagai tidak berbicara. Namun, di era digital hal tersebut dapat diterjemahkan sebagai ‘puasa digital’, yakni menahan diri dari aktivitas negatif di ruang maya.

“Menahan diri dari menulis komentar negatif, menyebarkan hoaks, atau memicu konflik di media sosial dan grup WhatsApp merupakan bentuk Monobrata masa kini. Inilah pengendalian diri yang relevan dengan kondisi umat saat ini,” tambah Kenak.

Baca juga :  PHDI Datangi Kapolda Bali, Upaya 'Menyeret' Penghina Hindu ke Polisi

Nyoman Kenak mengatakan PHDI mencermati adanya pergeseran perilaku umat dalam menjalankan rangkaian brata Siwaratri di era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi memang memudahkan umat mengakses sastra dan ajaran agama, namun di sisi lain berpotensi mengganggu kekhusyukan ritual jika tidak disikapi secara bijak.

Nyoman Kenak menjelaskan, saat ini umat tidak lagi kesulitan mencari makna Siwaratri maupun tata cara persembahyangan karena seluruh informasi tersedia luas di internet. Namun, kemudahan tersebut kerap berhenti pada pemahaman intelektual semata tanpa diiringi penghayatan spiritual yang mendalam.

Baca juga :  Ditunggu ! Langkah Tegas PHDI Selesaikan Masalah Penembokan Pintu Pura di Denpasar

“Informasi sekarang sangat terbuka. Ini bagus untuk literasi keagamaan, tetapi kita harus waspada. Jangan sampai Siwaratri hanya menjadi ajang pamer di media sosial atau sekadar mengikuti tren tanpa memahami esensi ajaran Lubdaka,” ujarnya di Denpasar.

Salah satu poin krusial yang disorotinya adalah pelaksanaan Mejagra, yakni tidak tidur semalam suntuk. Ia menegaskan bahwa esensi jagra bukan sekadar menahan kantuk, melainkan menjaga kewaspadaan pikiran dan kesadaran diri.

“Banyak umat, terutama generasi muda, terjaga semalaman tetapi tangannya tidak lepas dari ponsel. Bermain gim atau scrolling media sosial semalaman itu bukan jagra dalam konteks Siwaratri. Itu hanya memindahkan waktu tidur. Jagra yang sesungguhnya adalah mulat sarira atau introspeksi diri,” tegasnya.

Baca juga :  Gubernur dan PHDI Bali Ajak Doa Bersama Umat Sukseskan KTT G20

Ia menambahkan, keterbukaan informasi seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan spiritual, seperti membaca e-lontar atau mengikuti Dharma Tula secara daring, bukan untuk memuaskan kesenangan indrawi yang justru dilarang saat menjalankan Upawasa dan Monobrata.

Untuk itu, ia mengajak umat Hindu di Bali untuk memilah informasi yang bermanfaat dan menjadikan malam keheningan sebagai waktu untuk mereset diri dari hiruk-pikuk dunia maya yang kerap menguras energi mental.

Reporter : Agus Pebriana