Sederhana dan Terapkan Protokol Kesehatan, Piodalan PHDI Bali Beda dari Biasanya
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Ada yang berbeda dalam upacara Piodalan yang dilakukan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali di Padmasana Kantor PHDI Provinsi Bali, Jumat, (11/9). Tidak seperti biasanya, Piodalan yang jatuh setiap Rahinan Sugihan Bali kali ini dilaksanakan dengan sederhana dan dengan menerapkan protokol kesehatan.
Jero Mangku I Wayan Wija mengungkapkan lantaran situasi Covid, piodalan kali ini dilaksanakan dengan menggunakan ayaban tumpang solas. “Biasanya menggunakan tingkatan paling tinggi yaitu ayaban pula gembal,” ungkapnya usai muput piodalan di Padmasana PHDI Bali, Tonja, Denpasar.
Sementara itu, Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M. Si berharap dari dilaksanakannya Piodalan ini dapat meningkatkan sradha bakti kepada Ida Batara/Tuhan walaupun dalam masa pandemi Covid-19.
Piodalan sendiri merupakan sebuah bentuk upacara mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam konteks memperingati hari lahirnya atau berdirinya sebuah Pura.
“Pertama, harapan kita supaya sradha bhakti dengan Ida Batara supaya tidak pupus. Kedua, tradisi keagamaan kita di Bali supaya tidak hilang. Ketiga, untuk mengingatkan kepada pengurus Parisada khususnya bahwa kita punya Pura sebagai media komunikasi secara niskala/media spiritual untuk kita bertemu dengan Ida Bhatara/Tuhan”, paparnya seusai persembahyangan bersama.
Acara piodalan dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker, menjaga jarak duduk dan undangan dibatasi jumlahnya sekitar 30 orang. Undangan yang hadir terdiri dari perwakilan pengurus PHDI Provinsi Bali, pengurus PHDI se-Kota Denpasar serta perwakilan dari Organisasi Hindu seperti KMHDI, Peradah, APHB, dan lain sebagainya. (dar/sin)

Tinggalkan Balasan